Menu

Mode Gelap

Perempuan · 30 Nov 2021 16:00 WIB ·

Mengenal Ummu Aiman: Perempuan Ahli Surga yang Dicintai Rasulullah


					Mengenal Ummu Aiman: Perempuan Ahli Surga yang Dicintai Rasulullah Perbesar

Jalanhijrah.com-Nama Ummu Aiman mungkin tidak asing di telinga kita ketika mendengar kisah Rasulullah dalam memperjuangkan Islam. Namanya tercantum dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh HR Ibnu Sa’ad: “Barangsiapa senang untuk menikah dengan wanita penghuni surga maka menikahlah dengan Ummu Aiman”.

Perempuan yang memiliki nama asli Barakah sudah bekerja kepada keluarga Abdullan dan bunda Siti Aminah sebelum Rasulullah Saw. lahir. Sebuah kemuliaan yang diberikan padanya diberi kesempatan merawat Rasulullah sepeninggal ibu dan ayahnya serta menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri. Rasulullah pun menganggap Ummu Aiman seperti ibunya. Ia juga merupakan perempuan yang memeluk Islam di awal-awal perjuangan Rasulullah.

Beberapa keistimewaan lain yang dimiliki oleh Ummu Aiman, di antaranya: seorang perempuan dimana suami dan anaknya adalah kekasih Rasulullah, hijrah dua kali ke Habasyah (Ethiophia) dan ke Madinah, pemberani dan pendidik yang ulung.

Menjadi Ibu kedua Rasulullah sampai masa kenabiaannya merupakan sebuah keistimewaan yang dimiliki oleh perempuan ini. bagaimana tidak, ia diberi kesempatan untuk membersamai kekasih Allah, orang yang paling mulia serta dijunjung namanya. Tidak terbatas pada perjalanan tersebut, ia memeluk agama Islam dan ikut berjuang pada awal-awal penyebaran Islam yang penuh dengan pahit manisnya, dengan kesabaran dan keuletan yang dimilikinya, ia terus ikut berjuang di jalan Allah.

Suatu waktu, Ummu Aiman memiliki kisah yang begitu menakjubkan. Pada waktu ia sedang hijrah, pada sore hari ia merasa sangat kehausan di tengah perjalanan. Akan tetapi ia tidak membawa bekal apapun. Dengan usaha yang begitu kuat, ia berusaha mencari air. Tanpa disangka, tiba-tiba memancar air dari langit. Ia kemudian meminumnya dan merasa tidak haus lagi.

Baca Juga  Bijaksana Menyikapi Zaman, Sibuk Memperbaiki Diri

Ia juga pernah minum kencing Rasulullah Saw. Selepas ia meminum kencing tersebut, rasa lapar dalam dirinya tidak pernah muncul sepanjang hidupnya. Dan hal itu benar-benar dilakukan oleh Ummu Aiman. Hubungan keduanya begitu akrab terjalin. Rasulullah memanggilnya dengan “wahai ibuku”, dan bisa dikatakan sebagai salah satu perempuan saksi perjuangan Rasulullah.

Kecintaan Rasulullah terhadap Ummu Aiman tidak terbatas pada dirinya saja. Akan tetapi ia juga mencintai suaminya, Zain bin Haritsah, anak-anaknya Usamah dan Aiman serta keturunannya seperti Al-Hajjaj bin Aiman. Para tabi’in sangat menghormati kedudukan Ummu Aiman sebagai orang yang dekat dengan Rasulullah.

Kesedihan Ummu Aiman

Ummu Aiman merupakan sosok yang sulit berbicara, ia juga tidak banyak bicara. Lebih banyak menyimak berbagai percakapan, dan melihat berbagai fenomena yang terjadi selama perjuangan Islam dan bersama Rasulullah. Meski demikian, dalam perjalanan hidupnya, titik terendah dalam hidupnya ketika ia mengetahui bahwa Rasulullah telah tiada, wafat.

Wafatnya Rasulullah pada masa itu merupakan masa paling suram dalam hidupnya. Ia tidak berfikir bahwa sedang kehilangan Rasulullah, akan tetapi ia bersedih karena wahyu telah terputus dari langit.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik ketika Abu Bakar mengajak Umar mengunjungi Ummu Aiman seperti yang dilakukan oleh Rasulullah dan memberitahu bahwa puta kesayangannya telah wafat. Ketika keduanya memberikan kabar wafat Rasulullah, Ummu Aiman menangis. Lalu keduanya berkata, “apa yang membuatmu menangis? Apa ada yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi RasulnYa,” ia menjawab, “aku tidak menangis karena aku tahu apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya. Akan tetapi, aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit, maka keduanya terharu dan ikut menangis,” (HR. Muslim)

Baca Juga  Penguatan Identitas Muslimah: Pola Gerakan Perempuan dalam Terorisme

Kesedihan Ummu Aiman nyatanya tidak terbatas pada wafatnya Rasulullah. Sepeninggal Rasulullah, kepemimpinan beralih pada sahabat-sahabat Rasulullah. Ada satu momen yang turut membuatnya sangat bersedih, yakni ketika wafatnya Umar bin Khattab. Ummu Aiman berkata bahwa wafatnya Umar merupakan kelemahan Islam.

Benar saja, apa yang dikatakan oleh Ummu Aiman sangat relevan dengan kondisi saat itu. Pasca wafat sahabat Umar bin Khattab. Kondisi umat Islam sangat kacau balau. Para kelompok kafir memimpin umat Islam, kondisi sistem pemerintahan, politik serta berbagai masalah lainnya muncul begitu banyak, problematika semakin rumit tatkala munculnya para kelompok-kelompok yang menyebabkan perpecahan dalam tubuh umat Islam.

Artikel ini telah dibaca 16 kali

Baca Lainnya

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

8 Februari 2023 - 12:00 WIB

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur
Trending di Perempuan