Menu

Mode Gelap

Perempuan · 3 Jun 2022 14:30 WIB ·

Menerka Ulang Sejarah Perempuan yang Hilang


					Menerka Ulang Sejarah Perempuan yang Hilang Perbesar

Jalanhijrah.com-Ketika membaca buku yang ditulis oleh K.H. Husein Muhammad tentang Perempuan Ulama diatas Panggung Sejarah pikiran saya otomatis kembali kepada masa kecil saya. Masa SDIP, MTs, dan MA yang selalu dibubuhi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Di sana saya belajarbanyak hal tentang sejarah Rasulullah SAW, masa Khulafaur Rasyidin, masa Dinasti Umayyahsampai dengan Dinasti Abbasiyah. Saya mempelajari detail setiap perjuangan para lelaki yang sangat berjasa dalam perkembangan Islam.

Sosok Umar bin Khattab dengan gelar al-Faruqnya, Ali bin Abi Thalid dengan kelembutannya,Muawiyah bin Abi Sofyan dengan keberhasilan mendirikan dan memimpin Dinasti Umayyah, khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dikenal dengan pembukuan hadits, Khalifah Abu Abbas As- Saffah pemimpin pertama dinasti Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid pemimpin masa keemasanDinasti Abbasiyah, dan masih banyak lagi.

Tak hanya itu, sampai di bangku kuliah saya belajar perkembangan tasyri’ yang juga lebih danmayoritas disuguhkan dengan peran aktif tokoh laki-laki. Saat itu saya sama sekali tidak bertanyadi mana perempuan kala itu?” karena memang dalam kehidupan saya, masih terbalut budayapatriarki yang sangat mewajarkan ketiadaan peran perempuan. Namun selepas mengikuti KajianGender Islam pada 2020 silam, saya menyadari kekeliruan cara pandang saya hingga akhirnyabertanyaperempuan memang tidak ada dalam sejarah, atau dihilangkan dari sejarah?”

Baca Juga  Ummu Sulaim, Pelindung Nabi di Medan Perang

Kajian Gender Islam yang diusung oleh Dr. Nur Rofi’ah memberikan kesadaran kepada saya.Dijelaskan oleh beliau Dr. Nur Rofi’ah bahwa sebelum Islam lahir, Arab dipenuhi denganbudaya yang sama sekali tidak menghargai perempuan. Bahkan kesadaran terhadap perempuanpada saat itu berada dalam tingkat pertama, perempuan dianggap sebagai bukan manusia, yaknidirendahkan. Sehingga Rasul datang memberikan perubahan sedikit demi sedikit pandanganmanusia terhadap perempuan tersebut.

Pertanyaan selanjutnya yang kemudian muncul setelah mengetahui perempuan pada masa Islam datang mulai dilihat sebagai manusia ialahLalu, apakah memang dalam perkembangan Islamperempuan hanya memiliki pengaruh yang sedikit? Selama beratus-ratus tahun sampai dengansaat ini, mengapa sejarah Islam tidak menggambarkan perjuangan tokoh perempuan?”

Hingga akhirnya, sebuah buku yang hanya setebal 234 halaman tersebut menjawab pertanyaansaya. K.H. Husein Muhammad berhasil membangun pengetahuan baru yang sama sekali tidaksaya dapatkan dalam bangku pendidikan. Beliau menguak tokoh-tokoh perempuan yang berjasadari masa ke masa, namun hilang entah ke mana.

Mulai dari Sayyidah Khadijah yang semula dikenal hanya sebagai perempuan pedagang yang menikahi Rasulullah, melalui buku tersebut saya menjadi melihat Khadijah sebagai sosokperempuan bijaksana menemani Rasulullah sejak awal perjuangan beliau. Khadijah dengansegala kebijaksanaannya adalah wanita mulia yang turut memberikan dukungan penuh atas apayang dilakukan oleh Rasulullah untuk membangun Islam.

Baca Juga  Senjata Moderasi dalam Kehidupan Plural untuk Menangkal Paham Radikal

Sayyidah Aisyah, dulu saya mengenalnya sebagai perempuan yang paling dicintai Rasulullahkarena julukanHumaira”. Kini saya mengenalnya sebagai perempuan paling cerdas yang berhasil meriwayatkan 2.210 hadits. Bahkan ia juga mengkritik hadits yang diriwayatkan olehAbu Hurairah dan Umar bin Khatttab.

Amrah binti Abdurrahman, perempuan dengan guru Sayyidah Aisyah yang ilmunya seluaslautan, kata Imam Zuhri. Selama 16 tahun duduk di bangku sekolahan, baru kali ini sayamengenal beliau sebagai ahli fiqh yang argumentator dan cerdas pada masa Dinasti Abbasiyah.Tak hanya di daerah Mesir, Saudi Arabia, Damaskus, dan sekitarnya, tokoh perempuan dalambuku Perempuan Ulama di atas Panggung Sejarah juga menceritakan biografi tokoh perempuanIndonesia.

Seperti Siti Walidah Ahmad Dahlan penggerak organisasi Muhammadiyah di Yogyakarta, Fatimah Al-Banjari seorang penulis kitab fikh Perukunan Jamaluddin yang mana buku tersebutternal ditulis oleh Syekh Jamaludin, Nyai Khairiyah Hasyim Asy’ari seorang dengan gelarkyaiputri” yang berhasil memimpin Pesantren Seblak di Jombang, Jawa Timur. Buku tersebutmembawa saya menata ulang pelajaran sejarah yang saya bawa 16 tahun. Di sela-sela sejarahawal yang saya pahami, ternyata ada sisi kosong yang belum dilihat, yakni perempuan.

Di sana, perempuan ikut berkontribusi, berjasa, berfikir dan memimpin layaknya laki-laki. Di sana perempuan menyokong dan bahkan memperjuangkan keadilan bagi seluruh umat manusia. Jika guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, maka sependek pengetahuan sayapahlawan tersebut ialah para perempuan yang hilang sejarahnya meski berjuang sepenuhnya.

Baca Juga  Bolehkah Sholat Tahajud Dengan Rakaat Dua Kali Jumlah Anak?

Saya menjadi teringat seorang perempuan paruh baya yang berkata kepada saya, “wong wedokki neng ngomah gawean ono terus, tapi jasane ra ketok,” (red: perempuan itu di rumah selalu adapekerjaan, tetapi tidak terlihat jasanya). Dari situ, dapat dilihat bahwa perempuan sampai saat inimasih tidak dianggap bekerja ketika berada dalam lingkngan domestik.

Padahal, Khadijah dalam buku tersebut yang mendukung Rasulullah dengan menyelimuti beliaukala mendapat wahyu untuk pertama kalinya merupakan bentuk kenyamanan dan keteguhanRasul dalam menentukan langkah Rasul membangun Islam. Perempuan rumah tangga pun demikian adanya. Domestik ialah tempat kembali, tempat aman, tempat nyaman yang menjadipendukung utama perkembangan setiap anggota keluarganya, termasuk perempuan.

Dan jika perempuan adalah pekerja rumah tangga, maka ia sangat berjasa bagi keluarganya. Maka benarlah ketika K.H. Husein Muhammad menyebutkan kalimat Al-Haddad dalam bukutersebut bahwa perempuan adalah separuh jiwa. Karena perempuanlah yang menjadi ibumanusia, memberikan kasih sayang, mengorbankan waktu dan kesehatan, mencukupi kebutuhanlapar manusia. Bahkan perempuanlah yang sebenarnya membuat setiap insan bergairahmenapaki setiap kehidupan.

Penulis: Nur Khasana- Anggota Puan Menulis

Artikel ini telah dibaca 37 kali

Baca Lainnya

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

8 Februari 2023 - 12:00 WIB

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur
Trending di Perempuan