Home / Mujadalah / Menelisik Nalar Arab: Abid al-Jabiri dan Upaya Pembaruan Filsafat Islam

Menelisik Nalar Arab: Abid al-Jabiri dan Upaya Pembaruan Filsafat Islam

jalanhijrah.com – Narasi tentang pembaruan turats di dunia Arab sering kali diawali oleh pemikir-pemikir sosialis progresif. Di Maroko, salah satu tokohnya adalah Abid al-Jabiri, seorang intelektual sekaligus aktivis politik yang pernah bergabung dengan Union Socialiste des Forces Populaires (USFP), partai sosialis di negaranya. Namun, pada 1980, al-Jabiri meninggalkan aktivitas politik dan menekuni kajian intelektual secara penuh.

Meskipun memiliki latar belakang politik kiri seperti Hasan Hanafi, proyek tajdid (pembaruan) yang digagas al-Jabiri tidak menggunakan teori sosialisme atau Marxisme sebagai landasan metodologis. Dalam pengembangan filsafatnya, al-Jabiri lebih banyak terpengaruh oleh aliran post-strukturalisme dan post-modernisme, khususnya pemikiran Michel Foucault (Abdul Mukti Ro’uf, Kritik Nalar Arab Muhammad ‘Abid al-Jabiri, Yogyakarta: LKiS, 2018, hlm. 65).

Berdasarkan perspektif Foucault, al-Jabiri merancang teori kritik nalar Arab melalui dua konsep utama: arkeologi pengetahuan dan genealogi kekuasaan. Arkeologi pengetahuan adalah metode untuk menyingkap aturan-aturan implisit yang membentuk wacana atau bahasa pengetahuan yang dianggap ilmiah dan sahih. Sementara genealogi menunjukkan bagaimana pengetahuan yang diakui sebagai benar bisa menjadi instrumen kekuasaan untuk mengatur masyarakat.

Dengan pijakan teori ini, al-Jabiri menelusuri struktur abstrak pemikiran Arab dan pengaruhnya terhadap perilaku sosial-politik masyarakat. Proyek tajdid al-Jabiri terutama berfokus pada kritik epistemologis yang ia rangkum dalam istilah kritik nalar Arab (naqd al-‘aql al-‘arabi).

Tiga Model Nalar Arab

Salah satu teori yang paling terkenal dari al-Jabiri adalah kategorisasi nalar Arab dalam bukunya Binyah al-‘Aql al-‘Arabi (Beirut: Markaz Dirasat al-Wahdah al-‘Arabiyyah, 2018). Ia membagi nalar Arab menjadi tiga jenis: bayani, ‘irfani, dan burhani.

  • Nalar bayani menekankan pengetahuan yang bersumber dari teks (nash) melalui kaidah istinbath, meliputi ilmu nahwu, fikih, kalam, dan balaghah. Menurut al-Jabiri, nalar ini membatasi kebebasan berpikir bangsa Arab karena menekankan ketaatan pada teks dan otoritas masa lalu sejak era kodifikasi tahun 143 H. Ada tiga bentuk otoritas yang mendasari nalar bayani: otoritas teks (sulthah al-lafzh), otoritas asal (sulthah al-‘asl), dan otoritas pembolehan (sulthah al-tajwiz).
  • Nalar ‘irfani mencari kebenaran melalui hal-hal tersirat dan pengalaman spiritual, yang diyakini oleh kelompok sufi sebagai pengetahuan otoritatif melalui kasyf atau ilham. Tradisi ini bahkan memiliki akar di filsafat kuno, seperti aliran Hermesian di Yunani.

Baik nalar bayani maupun irfani, menurut al-Jabiri, menghambat kemajuan intelektual bangsa Arab. Bayani membatasi akal pada teks lama, sedangkan irfani menekankan pengalaman spiritual yang lebih berorientasi pada kehidupan ukhrawi.

  • Nalar burhani muncul sebagai alternatif pembebasan akal. Metode ini mengandalkan kemampuan kognitif manusia, termasuk indera, pengalaman, dan penalaran rasional, untuk memperoleh pengetahuan tentang alam semesta. Nalar ini terinspirasi oleh filsafat Aristoteles dan dikembangkan dalam tradisi Islam oleh tokoh seperti Ibnu Rusyd, al-Syatibi, dan Ibnu Khaldun.

Turats dan Dekonstruksi Filsafat Islam

Al-Jabiri melihat turats bukan sekadar wacana berkelanjutan, melainkan juga sebagai patahan sejarah pengetahuan (epistemological rupture). Sebagaimana dicatat Eugeniya A. Frolova, perbedaan model nalar Arab muncul dari perpecahan antara filsafat Islam Barat (al-maghrib) yang mendukung nalar burhani dan filsafat Islam Timur (al-masyriq) yang menekankan bayani dan irfani.

Dalam konteks modern, al-Jabiri menekankan pentingnya membaca turats secara kontemporer (qira’ah mu’ashirah) dengan memutuskan relasi tertentu terhadap turats, tanpa meninggalkannya sepenuhnya. Contoh konkret dapat dilihat pada karya Ibnu Rusyd dan Ibnu Khaldun, yang masing-masing membangun sistem pengetahuan baru melalui kritik terhadap tradisi sebelumnya. Al-Jabiri menekankan bahwa metode kritis semacam ini harus diadopsi agar peradaban Arab-Islam dapat menuju kebangkitan, sebagaimana pemikiran mereka memengaruhi Renaisans di Barat

Tag: