Manusia terdiri dari 2 aspek, yaitu fisik dan spiritual. Dalam dinamika zaman modern yang cenderung fokus pada hal-hal material dan abai pada aspek spiritual, hal ini bisa membuat sebagian orang kehilangan nutrisi batin dan merasakan kehampaan hidup. Untuk mengatasinya, diperlukan upaya untuk menanamkan nilai-nilai spiritualitas sebagai penyeimbang.
Bagi seorang muslim, salah satu cara menumbuhkan dan menguatkan dimensi spiritual adalah melalui jalur tasawuf yang akan membantu langkah-langkah seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah. Perjalanan ini idealnya dibimbing oleh seorang guru tarekat atau mursyid yang memahami seluk-beluk ilmu hakikat. Hubungan antara guru dan murid ini akan semakin kuat ketika tersambung dalam ikatan tarekat.
Berkaitan dengan hal tersebut, salah seorang ulama kharismatik Jawa Barat, KH Tubagus Ahmad Bakri (1839-1975) atau lebih dikenal dengan Mama Sempur Purwakarta menyebut bahwa masuk ke dalam salah satu tarekat mutabarah (sanadnya tersambung kepada Rasulullah) adalah fardlu ain.
Dalam ajaran Islam, fardlu ain adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap individu, sebagaimana shalat, puasa ramadhan, dan sejenisnya. Dalam kitab Futuhatut Taubah (Purwakarta, Tanpa Penerbit: t.t), halaman 32, ulama Sunda yang cukup produktif menulis kitab aksara pegon ini mengungkapkan:
“Ari hukum syara’na asup thoriqoh, pada thoriqoh Qodiriyah, atawa Naqsyabandiyah, atawa Hanafiyah, atawa Syadziliyah, atawa Suhrowardiyah, atawa Syatoriyah, atawa Barhamiyah, atawa Ghazaliyah, atawa liyan2na thoriqoh, eta nyaeta samata-mata fardlu ain ka sakur2 mukallaf lalaki awewe,”
Artinya: “Hukum syara masuk tarekat, entah itu tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Hanafiyah, Syadziliyah, Suhrawardiyah, Syatariyyah, Barhamiyah, Ghazaliyah, atau tarekat lainnya, semata-mata itu adalah fardlu ain bagi setiap mukallaf baik laki-laki maupun perempuan,”
Pendapat ini diungkapkan karena menurut Mama Sempur, tidak ada jaminan bagi seseorang yang akan selamat dari penyakit hati, kecuali para nabi. Oleh karena itu, salah satu cara untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit tersebut adalah melalui jalur tasawuf. Mama Sempur mengutip pendapat ulama yang mengatakan:
وَحُكُمُ الشَّارِعِ فِيهِ الْوُجُوبُ الْعَيْنِيُّ إِذْ لَا يَخْلُوْ أَحَدٌ مِنْ عَيْبٍ أَوْ مَرَضِ قَلْبِي إِلَّا الْأَنْبِيَاءُ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ. قَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْ هَذَا الْعِلْمِ أَى الْعِلْمِ الْبَاطِنِ أَخَافُ عَلَيْهِ مِنْ سُوءِ الْخَاتِمَ وَأَدْنَى النَّصِيبِ مِنْهُ التَّصْدِيقُ بِهِ وَالتَّسْلِيمُهُ لِأَهْلِهِ
Artinya: “Hukum syara terkait hal ini adalah wajib ain (kewajiban individu), karena tidak ada seorang pun yang terbebas dari aib atau penyakit hati, kecuali para nabi. Sebagian ahli ma‘rifat mengatakan: “barang siapa yang tidak memiliki bagian dari ilmu ini, yaitu ilmu batin, aku khawatir ia akan menghadapi suul khatimah. Bagian paling minimal dari ilmu ini adalah meyakini kebenarannya dan menyerahkannya kepada ahlinya.”
Selanjutnya, Mama Sempur juga menyarankan agar seorang muslim dapat memilah dan memilih tarekat yang beredar di kalangan umat Islam. Pasalnya, ada tarekat yang tidak mutabarah dan dianggap menyimpang dari ajaran syariat, misalnya menganggap remeh kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan, melakukan perkara bid’ah yang tidak selaras dengan ajaran Nabi, dan sebagainya.
Di kitab yang sama (h.48-49), Mama Sempur menyebut bahwa tarekat yang paling utama pada saat ini adalah Ngaji, tentu saja ngaji yang bisa menjadi wasilah untuk wushul atau sampai kepada Allah. Selanjutnya mengamalkan ilmu, beramal saleh, dan ikhlash.
“Ari anu pang afdhol2na thariqoh dina zaman ayeuna, jeung ari leuwih deukeut2na thoriqoh dina wushul ka Allah Ta’ala nyaeta Thalabul Ilmi, jeung makena kana elmu, sarta bener, jeung ikhlash,”
Artinya: “Adapun tarekat yang paling utama di zaman sekarang, dan tarekat yang lebih dekat wushul kepada Allah adalah thalabul ilmu (mencari ilmu), mengamalkan ilmu, berperilaku benar, dan juga ikhlas,”
Mama Sempur menambahkan, sebelum masuk tarekat hendaknya seseorang menyiapkan diri secara lahir dan batin, di antaranya dengan tobat dari berbagai dosa. Hal ini karena zikir dalam tarekat diumpamakan seperti menanam padi, ketika lahan atau ladangnya tidak siap, tentu saja bibit yang ditanam tidak akan tumbuh dengan baik.
Dengan demikian, keseimbangan dimensi lahir dan batin dalam diri manusia, khususnya umat Islam, menjadi salah satu kebutuhan yang mesti dipenuhi di tengah tantangan modernitas yang cenderung fokus pada sisi material dan abai terhadap spiritual. Keseimbangan ini bisa terpenuhi dengan cara mendekatkan diri kepada Allah melalui jalur tasawuf yang diimplementasikan dengan cara masuk dalam salah satu tarekat mutabarah. Mengingat hal tersebut, tidak heran ketika Mama Sempur menganggap bahwa masuk salah satu tarekat adalah fardlu ain. Wallahu a‘lam.
*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/islami/ar-vO5X4/masuk-tarekat-mutabarah-menurut-mama-sempur-purwakarta–fardlu-ain-










