Menu

Mode Gelap

Perempuan · 22 Feb 2022 14:00 WIB ·

Kisah An’an Yuliati: Aktifis Perdamaian, Melindungi Korban Perempuan dengan Nilai-Nilai Perdamaian


					Kisah An’an Yuliati: Aktifis Perdamaian, Melindungi Korban Perempuan dengan Nilai-Nilai Perdamaian Perbesar

Jalanhijrah.com –“Sewaktu kecil saya memiliki teman dekat yang meninggal karena diperkosa, namun pada zaman saya isu semacam itu tidak menjadi hangat dan belum dilirik serta tidak ada kebijakan yang mendukung terhadap kasus itu. Dengan pengalaman itu, saya berusaha untuk memperjuangkan korban kekerasan seksual, pemerkosaan, dan sejenisnya” Cerita An’an Yuliati sambil mengingat kisah masalalunya pada serial podcast yang tayang melalui akun youtube shebuildspeace edisi 15/01/22.

An’an Yuliati bukanlah perempuan baru dalam dunia perempuan, khususnya pengalamannya dalam memperjuangkan dan melindungi korban kekerasan seksual. Dilahirkan di Tasikmalaya, pengalaman tersebut kemudian membuatnya menjadi ketua harian di P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Kabupaten Tasikmalaya serta menjadi ketua sekolah perempuan yang digagas oleh Aman Indonesia.

Keluarga adalah support system 

Bagi An’an, keluarga adalah support system dalam hidupnya, terutama suaminya. Selama ini, dalam setiap kegiatan dan ruang yang dipilih khususnya masalah-masalah perempuan, sang suami selalu mendampingi dirinya. Dengan sabar dan penuh semangat, suaminya mendorong untuk terus bergerak, memperjuangkan keadilan, terlebih komunikasi dua arah selalu dipraktikkan dalam kehidupan keluarganya. Tidak hanya itu, ia juga memiliki 3 seorang anak. Salah satu anaknya sudah menikah, sedangkan 2 anak lainnya sedang belajar di tingkat menengah atas.

“ Suami saya adalah suami terbaik. Sebab pada setiap masalah yang saya temui, dia slelau memberi saran, masukan, serta mendorong saya untuk terus melakukan pelbagai kegiatan. Anak saya juga sudah paham bahwa dengan aktifitas ibunya, konsekuensi yang diterima adalah tidak bisa menemani secara intens, tidak bisa da setiap waktu. Namun, mereka memahami bahwa ibunya memiliki kesibukan yang baik”. Ucap An’an.

Baca Juga  Membaca Arah Gerakan Intoleran-Radikal Jelang Pilpres 2024

Dari An’an, relasi kesalingan yang dibangun keduanya bisa kita lihat. Keluarga menjadi pendorong utama dalam setiap karir anggota keluarga. Jika lingkungan keluarga selalu memberi hal-hal positif, bukanlah hal yang mustahil bahwa ada banyak sosok An’an yang memberikan inspirasi bagi perempuan-perempuan lain untuk terus bergerak memperjuangan keadilan bagi perempuan.

Sekolah perempuan menjadi tempat belajar

Dibalik bejibun kisahnya dalam mendampini korban kekerasan seksual. Ada satu kisah menarik yang perlu diteladani oleh kiat semua bahwa, pernah suatu waktu An’an menangani korban pemerkosaan yang hendak dinikahkan dengan pelaku. Kebetulan dalam kasus tersebut, pelaku pemerkosaan sejumlah 2 orang. Korban akan dinikahkan dengan salah satu pelakunya.

Fenomena ini tentu tidak asing bagi kita, sebab sebagian masyarakat masih menganggap bahwa korban pemerkosaan adalah aib, dan solusi klasiknya yakni menikahkan dengan pelaku.

Namun, gerak cepat dilakukan oleh An’an dengan mengumpulkan pelbagai elemen, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah setempat. Mereka dikumpulkan dalam rangka berdialog untuk memecahkan masalah tersebut. Uniknya, yang dilakukan An’an sangat ajaib, ia menerapkan Reflective structure dialogue dalam mengatasi konflik tersebut.

Dalam menerapkan dialog tersebut, An’an menganggap bahwa semua orang yang ada dalam pertemuan itu adalah setara, mengutarakan pendapat dari hati ke hati dalam melihat konflik. Dimana akhirnya, persoalan yang sangat rumit itu bisa diselesaikan dengan sangat baik, serta berakhir dengan kisah haru.

Baca Juga  Ummul Khair binti Al-Huraisy, Pemilik Kata Indah yang Berani

Bahwa sebenarnya pelaku pemerkosaan harus diberikan hukuman, adalah wajib hukumnya. Meskipun demikian, apa yang dilakukan An’an merupakan semangat cinta yang dibawa kepada masyarakat untuk menyelesaikan konflik dengan cara damai serta bisa diterima oleh semua pihak.

Apa yang dilakukan oleh An’an sebenarnya merupakan nilai-nilai yang dipelajarinya dalam sekolah perempuan yang digagas oleh Aman Indonesia.

“Kalau nilai perdamaian, sebelum saya ada di sekolah perempuan. awalnya saya mendirikan sekolah perempuan lestari yang hanya asal-asalan saja yang penting punya waktu luang. Tapi ketika saya terjun langsung dengan ikut sekolah perempuan, saya belajar menerima perbedaan. Karena dari perbedaan inilah tidak akan menciptakan konflik, justru sebaliknya. Kedua saya belajar lebih peduli kepada orang lain, menghormati orang lain, tidak ingin menang sendiri. Tidak hanya itu, saya juga belajar tentang penguatan NKRI”, jelas An’an kepada Ibu Ruby Kholifah selaku host podcast.

An’an bukanlah orang baru di sekolah perempuan. Sejak 2015, ia sudah aktif di sekolah perempuan yang digagas oleh Aman Indonesia tersebut. Baginya, kekuatan perempuan perlu dibangun, diasah dan harus saling memberdayakan satu sama lain antar perempuan dalam memberikan pendampingan untuk korban kekerasan seksual.

Artikel ini telah dibaca 24 kali

Baca Lainnya

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

8 Februari 2023 - 12:00 WIB

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur
Trending di Perempuan