Home / Milenial / Iyas bin Mu’awiyah adz-Dzaki, Simbol Kecerdasan

Iyas bin Mu’awiyah adz-Dzaki, Simbol Kecerdasan

Iyas bin Mu’awiyah adz-Dzaki, Simbol Kecerdasan

Jalanhijrah.com- Dzaki artinya cerdas. Iyas bin Mu’awiyah ra. dijuluki Adz-Dzaki karena saking cerdasnya. Iyas lahir pada 46 H di daerah Yamamah Najed. Kemudian, beliau berpindah ke Bashrah beserta seluruh keluarganya. Di sanalah beliau tumbuh berkembang dan belajar. Beliau rajin mendatangi ulama untuk menimba ilmu. Beliau juga paling senang berdiskusi tentang ilmu yang bermanfaat.

Kecerdasannya telah tampak sejak kecil. Meskipun masih kecil, orang-orang sering membicarakan kehebatan dan kepandaiannya. Beliau juga seorang yang berani mengemukakan pendapat, meluruskan pendapat orang lain yang kurang tepat, dan menyanggah pendapat orang lain yang salah, meskipun berhadapan dengan orang yang dewasa.

Ketika beliau masih kecil, pernah ikut belajar ilmu hisab (semacam ilmu matematika) di sekolah dengan pengajar orang Yahudi ahlul dzimmah. Teman beliau juga banyak yang Yahudi.

Suatu hari guru Yahudi tersebut berkata kepada teman-teman Iyas, “Tidakkah kalian heran dengan kaum muslim? Mereka bilang di surga bisa makan, tetapi tidak akan buang air besar, mana mungkin?”

Iyas bertanya balik, “Pak, apakah semua yang dimakan di dunia ini keluar menjadi kotoran?”

“Jelas tidak,” jawab sang guru.

“Lalu kemana perginya yang tidak keluar itu?” tanya Iyas.

Guru Yahudi menjawab, “Terserap oleh tubuh.”

Iyas pun berkata, “Lalu dengan alasan apa kalian mengingkari? Jika makanan yang kita makan di dunia saja sebagian hilang diserap tubuh, maka tidak mustahil di surga semuanya diserap tubuh.”

Guru Yahudi langsung diam seribu bahasa. Namun kemudian ia berdoa, “Semoga kamu mati sebelum dewasa.” Namun, doa guru Yahudi itu tidak terkabul. Iyas wafat saat berusia 76 tahun.

Kecerdasan Iyas bin Mu’awiyah ra. sangat luar biasa. Banyak orang tua yang berguru kepada beliau. Saat beliau remaja juga menjadi pemimpin bagi orang-orang yang sudah tua dan berilmu.

Pada suatu hari, saat Abdul Malik bin Marwan mengunjungi Bashrah sebelum menjadi khalifah, ia melihat Iyas yang masih remaja menjadi pemimpin, sementara di belakangnya ada empat orang penghafal Al-Qur’an yang sudah berjenggot panjang dan berpakaian resmi.

Abdul Malik berkata, “Celaka orang-orang berjenggot ini, tidak adakah orang tua lain yang bisa memimpin, sampai anak sekecil ini dijadikan pemimpin mereka?” lalu ia menoleh kepada Iyas dan bertanya, “Berapa usiamu wahai anak muda?”

Iyas menjawab, “Usiaku, wahai Amir—semoga Allah Swt memanjangkan usia Anda—sama dengan usia Usamah bin Zaid saat diangkat oleh Rasulullah saw. sebagai panglima pasukan yang di dalamnya ada Abu Bakar dan Umar.”

Abdul Malik berkata, “Kemarilah anak muda, semoga Allah memberkatimu.”

Dalam kesempatan yang lain. Orang-orang keluar untuk mencari hilal Ramadan dengan dipimpin langsung oleh sahabat utama Anas bin Malik al-Anshari ra. yang sudah berusia senja yaitu hampir 100 tahun. Orang-orang tidak menemukan hilal di langit. Kemudian Anas bin Malik ra. berkata, “Aku telah melihat hilal, itu dia!”

Saat itu Iyas memperhatikan Anas, ternyata ada sehelai rambut panjang yang berada di alisnya menjulur ke pelupuk matanya. Iyas kemudian meminta izin kepada Anas untuk merapikan rambut yang menjulur tersebut. Iyas lalu berkata, “Apakah Anda masih melihat hilal itu sekarang, wahai sahabat Rasulullah saw.?”

Anas ra. menjawab, “Tidak, aku tidak melihatnya. Aku tidak melihatnya.”

Berita tentang kecerdasan Iyas sampai ke berbagai penjuru negeri. Banyak orang yang datang kepada beliau untuk belajar, ada pula yang ingin berdebat saja. Di antaranya ada Duhqan, semacam jabatan lurah di kalangan Persia dahulu, yang datang ke majelisnya dan bertanya, “Wahai Abu Wa’ilah, bagaimana pendapatmu tentang minuman yang memabukkan?”

“Haram,” jawab Iyas.

“Dari sisi mana dikatakan haram, padahal ia tak lebih dari kurma dan air yang diolah, dan keduanya sama-sama halal?” tanya sang Duhqan.

Iyas menjawab, “Apakah engkau sudah selesai bicara, wahai Duhqan, atau masih ada yang hendak kau katakan?”

“Sudah, silakan bicara,” jawab Duhqan.

Iyas berkata, “Seandainya kuambil air dan kusiramkan ke mukamu, apakah engkau akan merasa sakit?”

“Tidak,” kata Duhqan.

“Jika kuambil segenggam pasir dan kulempar kepadamu, apakah terasa sakit?”

“Tidak.”

“Sekarang jika aku mengambil segenggam semen dan kulempar kepadamu, apakah terasa sakit?”

“Tidak.”

“Jika kuambil pasir, lalu kucampur dengan segenggam semen, lalu aku tuangkan air di atasnya dan kuaduk, lalu kujemur hingga kering, kemudian kupukulkan ke kepalamu, apakah engkau merasa sakit?” tanya Iyas.

“Benar, bahkan bisa membunuhku,” jawab Duhqan.

Iyas berkata, “Begitu juga dengan khamr. Di saat kau kumpulkan bagian-bagiannya, lalu kau olah menjadi minuman yang memabukkan, maka dia menjadi haram.”

Masya Allah tabarakallah. demikian lah cerita singkat tentang kecerdasan Iyas bin Mu’awiyah ra. dan dijuluki Adz-Dzaki.

Penulis

Emma

Tag: