Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 21 Sep 2021 12:48 WIB ·

Hukum Mengganti Bacaan Tasbih dan Doa dengan Bacaan Al-Qur’an ketika Sujud dan Rukuk


					Hukum Mengganti Bacaan Tasbih dan Doa dengan Bacaan Al-Qur’an ketika Sujud dan Rukuk Perbesar

Jalanhijrah.com-Rukun di dalam shalat merupakan sesuatu yang harus dipenuhi ketika kita melaksanakan shalat. Termasuk salah satu rukun dalam shalat adalah rukuk dan sujud keduanya merupakan dua ritual yang yang harus dipenuhi dalam shalat. Oleh karena itu, meninggalkan kedua ritual ini dapat mengantarkan kepada hilangnya keabsahan shalat. Lazimnya, Hal yang dibaca ketika rukuk dan sujud adalah tasbih dan doa. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana hukum mengganti bacaan tasbih dan doa dengan membaca Al-Qur’an ketika sujud dan rukuk?

Rasulullah telah memberikan tamsil kepada ummatnya untuk berlama-lama dalam rukuk dan sujud dan membaca tasbih saat melakukan keduanya. Hal ini sebagaimana hadis nabi yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i dari Hudzaifah, sebagaimana berikut,

أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَنْبَأَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ الْمُسْتَوْرِدِ بْنِ الْأَحْنَفِ عَنْ صِلَةَ بْنِ زُفَرَعَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ… ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى لَا يَمُرُّ بِآيَةِ تَخْوِيفٍ أَوْ تَعْظِيمٍ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا ذَكَرَهُ

Memberi kabar kepada kami Ishaq bin Ibrahim ia berkata, telah memberitakan kepada kami Jarir dari Al-A’masy dari Sa’ad bin Ubaidah dari Al-Mustaurid bin Ahnaf dari Shilah bin Zufar dari Hudzaifah ia berkata;… “kemudian sujud, dan beliau memperlama sujudnya sambil mengucapkan, ‘Subhana rabbiyal a’laa, subhana rabbiyal a’laa, subhana rabbiyal a’laa (Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi).” Beliau Shallallahu’alaihiwasallam tidak melalui ayat ancaman atau pengagungan Allah Azza wa Jalla kecuali beliau Shallallahu’alaihiwasallam berdzikir kepada-Nya.” (HR. An-Nasa’i)

Baca Juga  Faedah Hadis "Sebaik-baik Shaf Adalah Yang Pertama"

Dari hadis di atas kita dapat memahami bahwa Rasulullah memang mensyariatkan memperlama rukuk dan sujud (terlebih pada jamaah yang biasa dalam melakukannya). Namun yang perlu kita perhatikan adalah beliau sama sekali tidak membaca sesuatu saat sujudnya kecuali sederet kalimat tasbih. Begitu pula ketika beliau rukuk.

Dari hadis di atas juga tidak dikabarkan bahwa Rasul membaca Al-Qur’an saat sujud dan rukuknya. Kiranya hadis di atas dianggap cukup sebagai dalil tidak disyariatkannya membaca sesuatu kecuali bacaan tasbih.

Kendati demikian Rasulullah memperkuatnya dengan hadis beliau yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ibnu Abbas, sebagaimana berikut,

عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ… وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا الرَّبَّ فِيهِ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

dari Ibrahim bin Abdullah bin Ma’bad dari ayahnya dari Ibnu Abbas… “Ketahuilah aku di larang membaca Al-Qur’an ketika rukuk dan sujud, maka dari itu, ketika rukuk, hendaklah kalian mengagungkan Rabb (Allah), sedangkan ketika sujud, hendaklah kalian bersungguh-sungguh dalam berdoa, karena besar kemungkinan doa kalian akan di kabulkan oleh Allah.” (HR. Abu Daud)

Hal ini lantas diperkuat oleh Imam Zakariya Al-Anshari dalam kitabnya Asnal Mathalib juz 1 halaman 157, yaitu sebagai berikut:

(ﻭﺗﻜﺮﻩ اﻟﻘﺮاءﺓ ﻓﻴﻪ) ﺃﻱ ﻓﻲ اﻟﺮﻛﻮﻉ (ﻭﻓﻲ اﻟﺴﺠﻮﺩ) ﺑﻞ ﻭﻓﻲ ﺳﺎﺋﺮ ﺃﻓﻌﺎﻝ اﻟﺼﻼﺓ ﻏﻴﺮ اﻟﻘﻴﺎﻡ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻟﻪ ﻓﻲ اﻟﻤﺠﻤﻮﻉ؛ ﻷﻧﻬﺎ ﻟﻴﺴﺖ ﻣﺤﻞ اﻟﻘﺮاءﺓ

Baca Juga  Perempuan Yang Bercerai Pada Pernikahan Dini, Apakah Harus Iddah?

Membaca ayat Al-Qur’an ketika rukuk dan sujud bahkan di setiap rukun fi’li selain berdiri hukumnya adalah makruh sebagaimana diterangkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’. Karena rukuk, sujud dan rukun fi’li selain berdiri bukanlah tempat membaca Al-Qur’an. (Asnal Mathalib, juz 1 hal. 157)

Sedangkan apabila tetap membaca Al-Qur’an saat rukuk dan sujud, maka hukumnya tidak membatalkan shalat. Sebagaimana yang diungkapkan Imam Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab,

ﻓﺈﻥ ﻗﺮﺃ ﻏﻴﺮ اﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻓﻲ اﻟﺮﻛﻮﻉ ﻭاﻟﺴﺠﻮﺩ ﻟﻢ ﺗﺒﻄﻞ ﺻﻼﺗﻪ ﻭﺇﻥ ﻗﺮﺃ اﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﺃﻳﻀﺎ ﻟﻢ ﺗﺒﻄﻞ ﻋﻠﻰ اﻷﺻﺢ ﻭﺑﻪ ﻗﻄﻊ ﺟﻤﻬﻮﺭ اﻟﻌﺮاﻗﻴﻴﻦ

Jika saat rukuk dan sujud membaca Alquran selain Fatihah atau bahkan membaca Fatihah sekalipun maka tidaklah batal shalatnya menurut pendapat yang paling shahih. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama Irak. (Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, juz 3 hal. 414)

Artikel ini telah dibaca 9 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian