Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 16 Jun 2022 12:00 WIB ·

Hewan Terjangkit PMK, LBM PBNU: Tidak Dapat Dijadikan Hewan Kurban


					Hewan Terjangkit PMK, LBM PBNU: Tidak Dapat Dijadikan Hewan Kurban Perbesar

Jalanhijrah.com-Pada Kamis 9 Juni 2022, Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) menggelar konferensi persdalam rangka mengumumkan hasil kajian bahtsul masail terkait kelayakan hewan terjangkit PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) untuk dijadikan hewan kurban. Konferensi pers dipimpin langsung oleh ketua LBM PBNU, Kyai Mahbub Ma’afi.

Hasil kajian yang diumumkan telah diverifikasi oleh Syuriah PBNU. Dalam kesempatan ini, hasil kajian disampaikan langsung oleh Wakil Rais ‘Aam PBNU, K.H. Dr. Afifuddin Muhajir.

“Pertemuan kali ini hanya untuk menjawab pertanyaan yang sangat singkat, yaitu apakah hewan ternak yang terjangkit PMK memenuhi syarat untuk menjadi hewan kurban?” Ucap Kyai Afifuddin.

Sebagaimana diketahui bahwa virus PMK menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, khususnya para peternak. Penyakit ini telah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dan telah menjangkiti hewan-hewan ternak, bahkan tidak sedikit hewan ternak yang telah memasuki usia matang mati. Apalagi musibah ini bersamaan dengan momen persiapan Idul Adha.

Hal ini tentu menjadi persoalan yang rumit, mengingat hewan ternak harus memenuhi syarat-syarat tertentu untuk dapat dijadikan sebagai hewan kurban. Selain harus mencapai batas usia yang telah ditentukan, hewan kurban juga harus terbebas dari cacat. Lalu, bagaimana dengan hewan yang terjangkit PMK? Apakah memenuhi syarat untuk dijadikan hewan kurban?

Setelah mempertimbangkan hadis Nabi SAW, pendapat-pendapat ulama, serta pendapat dari ahli kesehatan hewan, hasil kajian LBM PBNU, sebagaimana disampaikan oleh Kyai Afifuddin, menyimpulkan bahwa hewan yang terjangkit PMK tidak memenuhi syarat untuk dijadikan hewan kurban.

Baca Juga  Inilah Hukum Membersihkan Najis dari Anjing Menggunakan Sabun

“Dapat kita simpulkan bahwa hewan yang terjangkit PMK tidak memenuhi syarat untuk dijadikan hewan kurban.”  Ujar kyai Afifuddin.

Sebagai rekomendasi, ada dua hal yang disampaikan oleh Kyai Afifuddin. Pertama, beliau mendorong agar hasil kajian ini segera disebarkan ke masyarakat. Kedua, beliau mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam memilih hewan kurban.

Kyai Afifuddin menekankan bahwa jika mereka yang berniat berkurban tidak dapat menemukan hewan yang terbebas dari PMK, maka hendaknya mereka menundanya dulu. Karena, ditinjau dari tingkatan maqashid asy-syari’ah, berkurban merupakan kebutuhan tahsiniyyah (tersier), sedangkan menjaga kesehatan merupakan kebutuhan dharuriyyah (primer/pokok), dan yang dharuriyyah harus didahulukan.

Tentunya, kita semua berharap agar pelaksanaan hewan kurban pada tahun ini berjalan dengan lancar. Semoga pemerintah segera mengambil tindakan dalam rangka menangani wabah ini, karena dampaknya yang sangat serius, khususnya bagi para peternak.

Penulis: M Naufal Hisyam

Mahasiswa Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Artikel ini telah dibaca 7 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian