Beranda / Opini / Berita, Buku, Tokoh

Berita, Buku, Tokoh

Senin, 10 Maret 2025, orang-orang ribut gara-gara berita. Di media sosial, orang-orang berbagi foto berita tak utuh bersumber Kompas, 10 Maret 2025. Foto itu diedarkan, sejak pagi sampai malam. Orang-orang berkomentar. Para pedagang buku turut memberi tanggapan mengandung prihatin, kecewa, protes, dan bingung. Para dosen pun mengisahkan nasib meski samar. Berita tak utuh bikin gaduh. Peredaran foto berita sepenggal itu tampak “sentimental” dalam menguak kerumitan kekuasaan dan pendidikan di Indonesia.

Para pembaca Kompas mengerti berita itu dicetak di halaman depan. sambungan diadakan di halaman 15. Di media sosial, sambungan berita “tertinggal” atau “tak dimunculkan”. Umat di media sosial mungkin bukan pembaca edisi Kompas cetak. Mereka menanti lengkap tapi tak kunjung datang. Penggalan sudah cukup untuk setoran komentar dan saling balas sikap.

Pembuat berita pun sengaja merebut perhatian dengan konklusi tiba-tiba: “Gaji rendah membuat para pendidik dicekik kebutuhan ekonomi. Dosen tak bisa beli buku demi popok dan susu anak.” Dua kalimat ditaruh di awal gampang memicu “pembenaran” meski ada soal-soal minta perhatian bukan berkaitan gaji dosen dan beli buku. Kalimat-kalimat lanjutan tak lagi “mendalam” untuk bahasan dosen dan buku.

Para pembaca berita terbiasa tenang dan cermat mungkin memilih jeda dulu dengan membaca puisi gubahan Sapardi Djoko Damono berjudul Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? Puisi lama tapi boleh dibaca bagi orang-orang tersentak berita-berita aneh dan buruk setiap hari di Indonesia. Kita diingatkan: “Huruf, seperti biasanya, bertebaran di halaman-halaman di bawah matamu, kau kumpulkan dengan sabar, kau sulap menjadi berita. Dingin pagi memungut berita demi berita, menyebarkannya di ruang duduk rumahmu dan meluap sampai jalan raya.” Babak saat orang masih membaca koran terbit dan beredar pagi hari. Orang membaca sambil menikmati kopi, kue, gorengan, dan rokok.

Berita-berita di pelbagai surat kabar harian atau koran kadang mengalahkan pesona matahari terbit. Berita-berita terbit mudah memberi “panas”.

Kita mengartikan “panas” itu marah, sebal, murka, dan sinis. Kini, koran cetak masih memiliki pembaca tapi orang-orang memilih edisi membaca di gawai. Kita mendapat cuilan berita tentang dosen tak sanggup membeli buku. Konon, “sebab” terpokok itu gaji. Kita diminta memikirkan nasib dosen, berlanjut memikirkan buku-buku penting dalam perkuliahan dan membuat artikel agar dimuat di jurnal (nasional dan internasional). Kita gampang berpikiran sembrono: para mahasiswa tak terlalu menuntut dosen rajin membeli dan membaca buku berdampak ke perkuliahan bermutu.

Kita enggan sembrono menanggapi berita baru dan “panas”. Kita memilih mundur mengingat pengalaman tokoh-tokoh penting dalam pendidikan dan perbukuan. Mereka itu dosen-dosen berlimpahan buku. “Kewajiban” beribadah membaca buku tak terlalu digagalkan oleh gaji. Mereka bermain siasat agar sah menjadi pembaca dan mengajar belasan tahun. Mereka pun “bersedekah” tulisan sebagai konsekuensi “ketagihan” membaca ratusan atau ribuan buku, dari hari ke hari.

Buku berjudul Pembinaan Watak Tugas Utama Pendidikan (1970) memuat artikel-artikel Slamet Iman Santosa terbuka pelan-pelan. Ia tenar sebagai dosen dan pemikir pendidikan di Indonesia, sejak masa revolusi. Berlatar situasi Orde Baru, Slamet Iman Santosa mengingatkan: “Fungsi buku dalam pembangunan sebenarnya tidak perlu disempurnakan.” Kalimat memuat peringatan dan lelucon tentang “nalar” disempurnakan berlaku dalam pelbagai kebijakan rezim Orde Baru. Di naungan penguasa tak suka baca buku, Slamet Iman Santosa justru membuat sejenis konklusi kalem: “Dengan menelaah peranan buku dalam pembangunan, maka fungsi pertama dari buku adalah mengubah manusia menjadi manusia pembangun.”

Tulisan lama boleh dilupakan asal kita membuat pengertian baru: presiden dan buku. Pada hari-hari awal berkuasa, Prabowo Subianto tampak berbelanja buku. Orang-orang mengandaikan ia rajin menjadi pembaca buku. Presiden membaca buku mungkin berdampak ribuan dosen di seantero Indonesia ikut keranjingan membeli dan membaca buku. Kita sedang melakukan pengandaian, bukan pembuktian.

Kita menunda pamer komentar untuk situasi mutakhir. Kita mundur lagi dengan membuka buku berjudul Daun-Daun Berserakan (1985) susunan Andi Hakim Nasoetion. Sosok penting dalam keilmuan di Indonesia dan turut membesarkan IPB itu memiliki pengalaman buku sejak bocah. Ia selalu berbuku, sejak masa kolonial sampai berpredikat dosen dan rektor. Sosok ketagihan buku tapi bahagia dan rajin menghasilkan tulisan-tulisan.

Pengenalan buku dimulai di rumah. Andi Hakim Nasoetion mengisahkan: “… bermula lemari buku ayah. Lemari itu berjendela kaca yang bertirai kain terawang. Kalau pintu lemari itu dibuka, saya dapat menghirup udara yang keluar dari lemari. Selalu saya hirup dalam-dalam karena rasanya nyaman sekali. Baunya lain dari yang lain, antara harum cemara dan bau kertas.” Sejak terpukau buku saat bocah, ia bertumbuh menjadi dewasa dan menua dengan bau ribuan buku. Andi Hakim Nasoetion tak selesai menjadi pembaca buku. Ia malah menjadi penulis dan tokoh perbukuan di Indonesia. Pada saat menjadi pengajar, ia selalu mengulang pendapat jika buku itu “guru”.

Kita masih memikirkan buku berlatar universitas dan ketokohan. Kini, kita mengingat tokoh bernama Azyumardi Azra. Ia menjadi pengajar berkemampuan menghasilkan ribuan artikel dan sibuk menjadi rektor di universitas besar di Jakarta. Azra (2004) menerangkan jumlah koleksi buku: 15.000 buku. Jumlah itu bikin iri bagi dosen-dosen sulit mengadakan anggaran pembelian buku gara-gara gaji rendah. Ribuan buku disimpan di dua tempat: rumah dan kantor. Konon, ia menambah lagi tempat lain agar buku-buku tersimpan secara aman. Pengakuan Azra: “Seperempat koleksi terletak di kantor rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Sebagian besar koleksi ini adalah buku-buku kontemporer, yang saya gunakan untuk menulis di kantor, ketika tidak ada rapat dan tidak ada tamu. Saya memang biasa menulis di sela-sela berbagai kegiatan…”

Ia mulai keranjingan membaca dan mengoleksi buku sejak remaja. Pada masa menjadi mahasiswa dan dosen, ia bertambah “nafsu buku”. Azra kuliah di negeri asing, merasa beruntung dengan belanja ribuan buku dikirim ke Indonesia. Ia tak mau menjadi dosen dengan pengulangan materi. Buku-buku klasik dan baru selalu diolah agar pengajaran bermutu. Ia tak terlalu pusing memikirkan jumlah gaji. Ia mampu mengadakan sumber-sumber penghasilan lain agar “nafsu buku” terwujud, dari hari ke hari.

Tiga tokoh mengalami babak menjadi dosen. Mereka tetap lestari dikenang sebagai pembaca dan penulis buku. Segala sulit dan gangguan bisa dirampungkan tanpa memanjangkan keluhan. Buku terlalu penting. Kita berlanjut membaca berita dimuat di Kompas bertokoh dosen saat bergaji rendah dan kebutuhan hidup susah terpenuhi: “Kondisi ini berbanding terbalik saat Anggun memperoleh beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan untuk kuliah S-2 di Oxford Brookes University, Inggris, pada 2019. Saat itu, ia mendapat anggaran Rp 10 juta per tahun khusus untuk membeli buku.”

Nasib berubah menimbulkan kaget dan bingung. Kita sedang berhadapan dengan berita, bukan penggalan puisi Sapardi Djoko Damono untuk berimajinasi. Berita itu bukan imajinasi. Begitu. Cetak PDF Bandung Mawardi Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

 

Sumber: https://www.arina.id/mozaik/ar-Ajfku/berita–buku–tokoh