Berguru kepada Novelis Mesir Nawal El-Saadawi

Jalanhijrah.com-Pada suatu pagi saya menyambangi perpustakaan Partai NasDem. Namanya Panglima Itam. Nama perpustakaan ini diambil dari nama kakek buyut ketua umum partai ini, Surya Paloh. Ketika menyisir buku-buku yang berjajar rapi di rak ditambah suasana perpustakaan yang mewah, saya semakin dibuat jatuh cinta membaca. Meski sekedar membaca beberapa halaman dari buku itu.

Di antara sekian buku yang saya telusuri, saya dibuat tertarik merengkuh sebuah buku berjudul Perempuan di Titik Nol. Buku ini dialihbahasakan dari judul aslinya Women at Point Zero yang ditulis oleh Nawal El-Saadawi, novelis asal Mesir. Dia tetap menulis, meskipun mendapat banyak penolakan. Salah satu karya sebelumnya yang sempat menggemparkan pemerintahan Mesir dan dilarang dibaca berjudul Woman and Sex (Perempuan dan Seks) yang isinya menolak sunat wanita.

Selain itu, perempuan kelahiran 22 Oktober 1931 ini menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo (Cairo University), 1955 dan Universitas Kolumbia (Columbia University), 1966. Lewat perjalanan intelektualnya, Nawal dikenal sebagai seorang dokter spesialis gangguan jiwa (neurosis). Nawal memulai prakteknya di daerah pedesaan, kemudian di rumah sakit-rumah sakit di Kairo. Tahun 1972, Nawal dibebastugaskan dari jabatannya sebagai direktur dan juga pimpinan redaksi Majalah Health sebab karyanya Woman and Sex yang cukup frontal.

Kecintaannya dalam menulis dan didukung dengan konsentrasi studi kedokteran yang ditekuni mengantarkan Nawal jauh dikenal dunia sebagai novelis dan penulis wanita yang memperjuangkan hak-hak perempuan (atau lebih tepatnya disebut dengan “feminis”). Karya-karyanya yang lain meliputi: Psychological Conflict; The Chant of The Children Circle; Two Women in Love; God Dies by the Nile; Memoirs of a Lady Doctor; A Moment of Truth; Litte Sympathy.

Konsentrasinya dalam isu sosial, terutama isu Perempuan, mendorong Nawal mendirikan Asosiasi Solidaritas Perempuan Arab dan juga menjadi salah satu pendiri Asosiasi Arab untuk Hak Asasi Manusia. Kemudian, pengabdiannya dalam memperjuangkan kemanusiaan telah mengantarkan Nawal dianugerahi gelar kehormatan di tiga benua. Pada tahun 2004 dia telah memenangkan North-South Prize dari Majelis Eropa. Pada tahun 2005, dia meraih Penghargaan Internasional Inana di Belgia. Bahkan, pada tahun 2012 Biro Perdamaian Internasional menganugerahinya Penghargaan Perdamaian Sean MacBride 2012.

Setelah mengenal Nawal lebih jauh, saya bertambah tertarik untuk membaca bukunya, Perempuan di Titik Nol sampai selesai. Ketika membaca baris demi baris kalimat dalam novel ini, saya benar-benar tenggelam dalam cerita yang disuguhkan di dalamnya. Novel ini sebenarnya diangkat dari kisah nyata seorang perempuan bernama Firdaus yang ditemui langsung oleh Nawal ketika mendekam di balik jeruji besi Penjara Qanatir. Mulanya Nawal mendapatkan kesulitan untuk bertemu dengannya, karena Firdaus membatasi diri bertemu dengan siapapun beberapa hari sebelum eksekusi mati. Tapi, ketertarikan Nawal bertemu dengan Firdaus tak dapat dibendung. Setelah segala cara dilakukan, akhirnya Firdaus membukan pintu untuk bercerita dan jadilah novel ini.

Baca Juga  Cerita Nigin Ayeen Di Tengah Konflik Afganistan: Belajar Islam Wasathiyyah ke Indonesia

Firdaus ini terlahir dari keluarga miskin. Ditambah ayahnya yang bersikap layaknya seorang raja. Sang ayah selalu meminta istrinya untuk membasuh kakinya dan segala bentuk pelayanan layaknya raja dan rakyat biasa. Firdaus pernah menggantikan ibunya ketika dia mulai tumbuh dewasa. Sikap sang ayah di keluarga itu sudah menjadi tontonan yang tidak menyenangkan, tapi Firdaus tetap bertahan dalam kondisi itu.

Ketika ayah dan ibunya meninggal, Firdaus dibawa oleh Pamannya. Firdaus merasa beruntung punya paman yang bersikap lembut kepada ponakannya. Tapi, kebaikan itu ternyata tidak lahir dari hati yang tulus. Buktinya, ketika paman membaca buku dia melakukan pelecehan seksual dengan meremas paha Firdaus. Firdaus hanya diam dan tidak melawan. Kemudian, ketika pamannya menikah, istri pamannya kurang menerima kehadiran Firdaus, bahkan bersikap merendahkannya: perempuan tidak pintar masak, kurang lincah, dan seterusnya.

Akhirnya, paman dan istrinya mengirim Firdaus ke sebuah pesantren agar menjauh darinya. Di pesantren Firdaus santriwati terbaik yang mendapat nilai tertinggi dan dinyatakan lulus dari Sekolah Menengah. Mendengar kelulusan Firdaus, pamannya membawa pulang dari pesantren. Istrinya tetap tidak berubah sikapnya. Sehingga, istrinya menyarankan Firdaus menikah dengan pamannya yang sudah berumur 60 tahun. Namanya Syekh Mahmud. Sedang, Firdaus saat itu masih berusia 19 tahun. Sungguh sangat jauh rentang usia antara mereka berdua.

Ketika menikah, Firdaus tidak mendapatkan cinta yang selayaknya diberikan seorang suami kepada istrinya. Apalagi pernikahan antara Syekh Mahmud dan Firdaus bukan pilihannya sendiri, tapi atas dasar paksaan. Firdaus merasa hidup dalam penjara, apalagi ketika melakukan hubungan seks, tiada kenikmatan yang Firdaus rasakan. Ditambah, sikap Syekh Mahmud yang pelit dan kasar kepada istrinya. Setiap kesalahan sedikit pasti Firdaus kenak amarah.

Lalu, Firdaus melarikan diri dari rumah tangga yang menyebalkan itu. Di tengah jalan Firdaus hanyalah seorang diri. Rasa haus mencekik tenggorokan. Firdaus memilih mampir di sebuah kafe dan di situlah dia bertemu dengan palayan kafe bernama Da’i. Firdaus menceritakan alasan dia melarikan diri dari suaminya dan Da’i menawarkan Firdaus untuk beristirahat di kontrakannya, karena di situ ada dua kamar.

Baca Juga  Menelaah Masa Lalu Perempuan melalui Gadis Kretek

Da’i bersikap baik, sehingga Firdaus merasakan belum pernah bertemu dengan seorang lelaki yang memperlakukannya sebaik itu, termasuk ayah dan pamannya sendiri. Tapi, kebaikan Da’i ternyata hanya kebohongan. Firdaus mendapat pelecehan seksual, bahkan sampai temannya ikut melakukannya. Karena mendapat perlakuan itu, Firdaus kabur dan bertemu dengan Sharifah. Perempuan ini tiba-tiba menyambangi Firdaus yang tertatih-tatih di pinggir jalan.

Sharifah mengajak Firdaus ke sebuah apartemen yang cukup mewah. Kasurnya empuk dan kain yang dikasih dikenakan Firdaus lembut bagai sutra. Ketika melihat ke depan, terdapat aliran Sungai Nil yang cukup indah. Firdaus bertanya tentang kehidupan kepada Sharifah, bahwa hidup itu keras, maka kita harus lebih keras dari hidup itu.

Tak lama, Sharifah ternyata pelacur yang mempekerjakan Firdaus. Karena, Firdaus memiliki paras yang cantik. Semua lelaki yang melihatnya akan terpana. Firdaus menerima pekerjaan prostitusi itu. Meskipun, Firdaus tidak merasakan kenikmatan sedikitpun setiap tidur dengan beberapa laki-laki yang datang. Sehingga, Sharifah terus mengeksploitasi dengan dalih, “Jangan libatkan perasaan dalam bekerja.”

Sampai Firdaus malarikan diri, karena apa yang dilakukannya tidak menghadirkan cinta. Di tengah jalan Firdaus bertemu dengan seorang polisi. Mulanya bersikap tegas, tapi ternyata di balik ketegasan itu memiliki kepentingan untuk melakukan prostitusi dengan Firdaus dan akhirnya perbuatan terlarang itu terjadi. Meskipun Firdaus tidak merasakan nikmat sedikitpun.

Sampai Firdaus dipertemukan dengan Ibrahim yang dikenalnya sebagai lelaki revolusioner ketika bekerja di suatu kementerian. Pertemuan dengan Ibrahim berbeda dibandingan para lelaki yang sudah tidur bersama Firdaus. Ibrahim telah menambatkan benih cinta di hati Firdaus, sampai Firdaus merasa indahnya jatuh cinta. Sayang, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, sebab Ibrahim telah menikah dengan perempuan lain dari keluarga yang terhormat. Harapannya putus dan yang hadir hanyalah kebencian. Karena, Firdaus merasa dibohongi dengan kata-kata manis Ibrahim. Bahwa kata-kata manis itu hanya cara dia membujuk Firdaus tidur bersamanya.

Ketika Firdaus menjadi pelacur dengan bayaran yang cukup tinggi, dia merasakan bahwa pekerjaan seorang pelacur jauh lebih bebas dan terhormat dibanding menjadi istri yang diperbudak dan pasangan yang dimabukkan dengan kebohongan. Sampai Firdaus bertemu dengan seorang germo yang meminta paksa sebagian uang hasil pelacuran itu. Tapi, Firdaus melawannya dan membunuhnya dengan sebilah pisau.

Baca Juga  Cara Muslim Tionghoa Menunjukkan Kecintaannya terhadap Indonesia

Sebagai tanggung jawabnya atas perbuatan kriminal itu, Firdaus menyerahkan diri ke pihak kepolisian. Meski mendapatkan kesempatan untuk menawarkan keringanan hukuman mati, Firdaus menolaknya. Dia merasa bahwa hidup ini semua dipenuhi dengan kebohongan. Nama baik hanya dapat dibeli dengan uang. Satu-satunya cara untuk terbebas dari kebohongan itu adalah kematian. Karena, dia merasa lebih terhormat dihukum mati karena perbuatan yang dia lakukan, bukan yang orang lain lakukan.

Sejenak saya menghela nafas dan menarik sebuah kesimpulan, bahwa kisah Firdaus ini merupakan bentuk perlawanan seorang perempuan terhadap keadaan yang kurang menguntungkan. Lebih dari itu, perlawanan itu juga ditujukan kepada kaum laki-laki yang bersikap tidak adil terhadap perempuan karena faktor perbedaan jenis kelamin. Selain itu, kisah ini menjadi langkah penulis untuk menentang kekuasaan yang hampir dipegang oleh kaum laki-laki. Seakan-akan Nawal bertitah dalam kisah itu, perempuan harus bangkit merebut kekuasaan itu dari tangan laki-laki. Maka, tidak heran pada jika Nawal pernah mencalonkan diri sebagai presiden di Mesir.

Bahkan, yang paling penting ditekankan dalam kisah ini adalah perlunya orangtua belajar parenting dengan baik agar mereka tahu bahwa bagian tubuh mana saja yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Sehingga dengannya, anak akan mengerti ketika ada sentuhan terhadap bagian tubuh itu dia merasakan ketidaknyamanan. Anak yang mengerti tentang ini akan lebih menjaga diri dari pelecehan seksual. Bagian tubuh yang dimaksud di sini meliputi: mulut (bibir), dada (payu dara), alat kelamin, dan bokong.

Sebagai penutup, novel ini cukup menarik untuk dibaca. Buku yang seirama dengan novel ini adalah novel Supernova 1: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh karya Dee Lestari yang juga mengisahkan tentang seorang pelacur yang menemukan makna hidup yang sesungguhnya. Makna hidup semacam ini dapat disebut dengan kebijaksanaan. Jika begitu, tidak keliru jika saya menyebutnya dengan “filsafat pelacur”.[] Shallallahu ala Muhammad.

Khalilullah

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *