Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 12 Jan 2022 12:00 WIB ·

Anjuran Nabi Saat Melewati Jalan Tanjakan dan Turunan


					Anjuran Nabi Saat Melewati Jalan Tanjakan dan Turunan Perbesar

Jalanhijrah.com – Sekarang ini pemerintah Indonesia sedang gencar-gencarnya membangun infrastruktur baik itu jalan, jembatan dan lain sebagainya. Jalan, bagi kehidupan manusia merupakan infrastruktur yang paling penting. Karena dengan jalan yang baik aktivitas manusia akan berjalan dengan baik pula. Namun apabila jalanan rusak akan berakibat kepada manusia juga. Sebagaimana diketahui bahwa jalanan yang sering kita lewati setiap harinya itu kadang kala berupa tanjakkan dan kadang pulan berupa turunan. Dan berikut anjuran Nabi Muhammad saat melewati jalan tanjakkan dan turunan.

Dalam riwayat Ibnu Umar bahwasanya Nabi Muhammad ketika melewati jalan tanjakkan maka beliau bertakbir. Sedangkan ketika melewati jalan turunan maka beliau bertasbih

وَكَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَجُيُوشُهُ إِذَا عَلَوُا الثَّنَايَا كَبَّرُوا وَإِذَا هَبَطُوا سَبَّحُوا

Artinya: “Nabi Muhammad Saw. dan pasukannya apabila melewati jalanan perbukitan yang naik, mereka bertakbir, dan apabila mereka turun, mereka bertasbih. [HR. Abu Daud]

Dan hadis yang riwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma juga dikatakan bahwa para sahabat Nabi ketika melewati jalan tanjakkan bertakbir dan ketika melewati jalan turunan bertasbih.

كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا

Artinya: “Kami para sahabat ketika melewati jalanan yang naik, kami bertakbir. Dan ketika melewati jalanan yang turun, kami bertasbih.

Dengan keterangan ini, maka jelas sangat dianjurkan bagi umat Islam ketika melewati jalan tanjakkan untuk bertakbir, “Allahu Akbar”. Dan ketika melewati jalan turunan untuk bertasbih, “Subhanallah”.

Baca Juga  Terlanjur Makan Barang Korupsi, Begini Cara Taubatnya

Tentu manusia ketika hendak keluar rumah dan memulai perjalanan sebelum menemui jalan tanjakkan atau turunan maka dianjurkan untuk berdoa. Dan berikut doa ketika hendak memulai perjalanan.

“Bismilaahi tawakkaltu ‘alallahi wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaahi”

Artinya “Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah saja”.

Semoga dengan keterangan ini semua. Kita semua bisa mengikuti Nabi Muhammad dengan membaca takbir ketika menemui jalan tanjakkan dan bertasbih ketika menemui jalan turunan. Wallahu A’lam Bishowab.

Artikel ini telah dibaca 19 kali

Baca Lainnya

Doa Nabi Daud Untuk Membentuk Keluarga Sakinah

16 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Doa Nabi Daud Untuk Membentuk Keluarga Sakinah

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Trending di Fikih Harian