Dwi Wulan Sari adalah salah satu perempuan inspiratif yang telah menorehkan prestasi, baik di ruang akademik maupun non-akademik. Saat ini, Wulan (sapaan akrabnya) aktif menjadi reviewer jurnal, mentor beasiswa, penulis buku, dan berkegiatan di beberapa organisasi.
Sebagian prestasi yang pernah diraih adalah wisudawan Pascasarjana terbaik prodi PAI UIN Sunan Kalijaga Periode II 2024, genrengers award 2023, duta GenRe Indonesia juara 3 tahun 2019, duta GenRe 1 Putri Provinsi Lampung 2019, mahasiswa terbaik ke-2 tingkat universitas, IP Terbaik Asosiasi Mahasiswa Bidikmisi, vlog terbaik pertama dalam rangka hari vasektomi sedunia tahun 2020, dipercaya mengikuti Duta PTKIN Se-Indonesia di Malang dan beberapa prestasi lainnya.
Minat yang ditekuninya sejak belajar di SMA adalah ingin menjadi pendidik atau pengajar. Hal itu yang mendorongnya berupaya menempuh pendidikan setinggi mungkin dengan memanfaatkan beasiswa yang disediakan oleh Pemerintah.
Wulan menempuh Studi S1 di Universitas UIN Raden Intan Lampung dengan beasiswa Bidikmisi dan melanjutkan S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan bantuan dana LPDP, beasiswa yang digandrungi oleh ribuan orang.
Dalam wawancara Arina.id pada Minggu (5/1/2025), Wulan membagikan perjalanannya ketika mendaftar beasiswa LPDP, dari mulai persiapan hingga dinyatakan lolos sebagai awardee.
Berikut adalah kisah inspiratifnya
Banyak orang beranggapan untuk lolos beasiswa LPDP itu sangat sulit, karena saingannya sangat banyak. Apakah menurut Wulan asumsi itu benar?
Menurut saya anggapan seperti itu bisa dibenarkan ketika dalam keadaan kurang persiapan. Sebenarnya tidak akan terasa sulit jika kita sudah membuat rencana dan memberikan spend waktu lebih lama untuk menyiapkan semua berkas-berkasnya.
Apa saja yang dipersiapkan Wulan sebelum mendaftar beasiswa LPDP dan berapa lama merancangnya?
Saya mulai mencari tahu soal beasiswa LPDP sejak semester enam. Jadi kurang lebih dua tahun persiapan (2019-2020). Mulanya saya berusaha mencari tahu dengan ikut semacam diskusi-diskusi yang membahas soal beasiswa, misalnya yang diselenggarakan mata garuda Lampung di beberapa café, tapi dulu informasinya cukup terbatas tidak se-famous di pulau Jawa.
Di tahun pertama, saya mulai mengumpulkan flyer dan leaflet yang berkaitan dengan beasiswa. Bahkan, saya punya buku namanya ‘jimat beasiswa’. Buku itu berisi beragam informasi tentang sejumlah bantuan studi yang saya tulis sendiri. Misalnya dulu saya cari tau soal beasiswa Brunei Darussalam, beasiswa Unggulan, dan beberapa beasiswa lainnya, termasuk LPDP.
Tahun kedua, saya mulai melengkapi persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan. Misalnya mulai belajar membuat esai, proposal studi, rutin latihan soal-soal, belajar bahasa inggris, dan yang terpenting mulai mencari mentor. Mentor sangat dibutuhkan untuk konsultasi atau meminta bantuan review.
Dalam proses pendaftaran beasiswa LPDP ada tiga tes yang harus dipenuhi, yaitu dokumen, skolastik, dan wawancara. Hal apa saja yang perlu diperhatikan agar bisa lolos ketiga tes tersebut?
Pada tes dokumen, harus teliti dan melakukan check berulang kali. Kita bisa minta tolong orang lain seperti teman atau keluarga untuk membantu memeriksa kelengkapan dokumen. Misalnya soal KTP, ijazah, nomor peserta, dan lainnya. Soal rekomendasi juga harus dipastikan tanggal dan waktunya sesuai. Jangan terlalu mendekati deadline untuk submit dokumen supaya tidak terburu-buru.
Untuk Tes skolastik mesti banyak-banyak latihan dan mengulas soal secara konsisten. Menurut saya isi soalnya beda dari yang lain. Tes skolastik LPDP tidak seperti tes CPNS, jauh lebih sulit. Para pendaftar sebaiknya jangan malu untuk banyak bertanya dengan para awardee atau ikut grup di Telegram yang membahas soal-soal.
Sebelum tes wawancara sebaiknya mencari mentor, jangan sendirian. Sepintar-pintarnya kemampuan kita dalam public speaking, tetap butuh partner yang bisa menyanggah, memberi masukan, dan kritik atas jawaban yang akan diucapkan. Karena kadang-kadang sulit untuk mengetahui kesalahan diri sendiri.
Menurut Wulan, apa tantangan terberat ketika mendaftar beasiswa LPDP?
Menurut saya tantangan terberatnya dari sisi psikologis. Jadi, ada banyak sekali yang akhirnya mundur ketika sudah di tahap akhir karena tidak sanggup secara mental. Mungkin semacam ada ketakutan atau nervous berlebih. Ini sangat disangkan banget karena akhirnya di blacklist oleh pihak LPDP, sebab tidak menyelesaikan tes sampai akhir.
Soal materi atau finansial juga menjadi tantangan. Untuk mempersiapkan sejumlah syarat-syarat biasanya kita butuh uang apalagi yang ambil di luar negeri. Uang itu diperlukan misalnya untuk tes IELTS/ TOEFL, persiapan awal mengurus berkas dan hal-hal lainya. Jadi kalau tidak punya tabungan agak kesulitan.
Kriteria seperti apa yang sebenarnya dicari oleh pihak Lpdp?
Menurut saya sosok yang otentik, yaitu jujur dan menjadi diri sendiri. LPDP mencari orang-orang yang unik. Jadi tidak manipulatif atau hanya copy paste dari orang lain. Misalnya kalau ditanya kenapa ingin lanjut s2, biasanya pasti banyak yang menjawab ingin jadi dosen dan memberikan kontribusi bagi Indonesia. Ini kan jawaban sejuta umat, ya.
Dulu saya berupaya menjawab dengan alasan yang konkrit bahwa tujuan saya ingin menjadi dosen karena di daerah saya ada kampus swasta tapi sangat sedikit dosen yang mau mengajar di sana, lalu masalah ‘kawin lari’ saat itu juga masih tinggi, jadi saya berniat untuk membantu mengurai masalah itu, salah satunya dengan sekolah lebih tinggi dan nanti kembali ke kampung halaman membawa bekal ilmu yang lebih banyak.
Selain menjadi awardee, Wulan juga aktif sebagai mentor yang mendampingi para calon pendaftar beasiswa. Dari pengalaman Wulan selama menemani proses tersebut, kesalahan apa yang paling sering dilakukan oleh para pendaftar beasiswa LPDP?
Overproud degan diri sendiri. Sering banget terjadi entah itu di dalam esai atau saat proses wawancara. Misalnya saat menjelaskan terlalu membangga-banggakan diri sendiri seperti ‘semua berkat usaha saya’ tanpa mengatakan bahwa segala sesuatu pasti ada bantuan dari pihak lain.
Selain itu, tidak menjawab permasalahan. Jadi sering juga ditemukan terlalu besar dalam berbicara tetapi tidak kontekstual, semacam mengabaikan permasalahan di sekitar (asalnya). Yang diminta LPDP sebenarnya action kita, kecil tidak apa-apa, yang penting real untuk daerah asal. Lalu banyak juga yang berbicara tidak by data, hanya mengatakan ‘katanya’ tanpa disertai sumber yang jelas.
Lalu soal kemampuan pembawaan diri juga penting. Biasanya ketika disentil atau dipatahkan kata-katanya saat wawancara, calon penerima beasiswa langsung down atau terbata-bata, semacam kurang siap secara mental. Ini juga bisa menjadi penyebab gagal dalam proses seleksi.
Adakah tips khusus dari Wulan untuk para pendaftar agar bisa lolos beasiswa LPDP?
Pertama, punya mentor sebagai tempat bertanya. Jangan takut untuk meminta masukan atau saran dari orang lain. Jangan terlalu sombong atau anti kritik. Semakin banyak esai atau rencana studi kita yang diberi masukan, maka semakin bagus. Untuk mendapatkan mentor, bisa mengikuti program cempaka mentorship. Informasinya bisa didapatkan lewat Mata Garuda provinsi asal atau kampus tujuan. Bisa ditelusuri lebih jauh di Instagram @matagaruda.lpdp.
Kedua, harus aktif jangan pasif. Setelah dapat informasi tentang beasiswa yang dituju, sebaiknya jangan diam di tempat. Kita butuh informasi tambahan, misalnya dengan melihat Youtube atau mendengarkan podcast yang membahas penyebab gagalnya para pendaftar saat tes beasiswa. Intinya tetap aktif mencari informasi yang berkaitan dengan beasiswa tersebut.
Ketiga, kuatin niat dan jaga kesehatan fisik juga mental. Biasanya ada banyak tekanan yang datang saat proses tes. Misalnya, tiba-tiba kita lihat jumlah pendaftar sampai puluhan ribu sementara yang diambil hanya beberapa ribu, itu kadang bisa buat perasaan jadi down kalau niat dan mental tidak oke.
Di mana bisa melihat informasi seputar beasiswa LPDP? Informasi resminya bisa merujuk ke website resmi LPDP di tautan lpdp.kemenkeu.go.id. Selain itu juga bisa mengunjungi Instagram @lpdp_ri dan @matagaruda.lpdp.
Yulita Putri
Bergiat di Bilik Literasi dan Kamar Kata Karanganyar.
*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/edukasi/ar-FPRPB/wawancara–tips-lolos-beasiswa-lpdp-ala-dwi-wulan-sari–awardee-2021



