teror menjelang natal

Jalanhijrah.com-Teror bom di Filipina, awal Desember kemarin, merupakan serangan pembuka yang memang rutin setiap akhir tahun. Hari Natal dan dan tahun baru, sebagaimana diketahui bersama, selalu menjadi ajang amaliah bagi para teroris. Mereka memiliki keyakinan untuk memerangi ‘kekafiran’ yang dilabelisasi kepada komunitas non-Muslim, terutama Kristen. Itulah yang teroris rutinkan menjelang Natal. Maka, waspada adalah keharusan.

Mengapa? Salah satu kegembiraan di kalangan teroris, sejak dulu, ialah ketika mereka merasa sukses menyebar ketakutan di tengah masyarakat. Strategi semacam itu merupakan bagian dari manajemen chaos, yang menjadi panduan pergerakan teroris terutama Al-Qaeda dan afiliasinya. Alih-alih takut karena taktik mereka menjelang Natal pasti ditanggapi dengan operasi aparat, mereka justru bahagia dengan amaliahnya.

Boleh jadi hari ini mereka tengah menyusun rencana, untuk yang akan dilakukan bulan ini: menjelang atau sesudah Natal. Baik itu di Indonesia atau di negara mana pun yang peluangnya besar. Artinya, maklumat tentang kewaspadaan ini tak hanya penting untuk masyarakat lokal, tetapi juga luar negeri. Dan yang jelas, jaringan teroris itu saling terpaut: koordinasi mereka canggih, terstruktur, dan rapi.

Tidak ada yang tahu bahwa tiba-tiba di suatu malam nanti, tiba-tiba gereja meledak dan menewaskan para jemaat. Dengan demikian, para stakeholders terkait wajib untuk segera merencanakan pengamanan yang strategis. Ini tidak dalam rangka menakuti umat Kristiani, tidak juga dalam rangka memfitnah saudara Muslim yang jadi teroris. Ini semua karena fakta yang diketahui bersama, yaitu stigma lama tentang Natal dan tahun baru.

Baca Juga  Wacana Deislamisasi Sejarah dan Tugas Kita untuk NKRI

Stigma Lama Natal dan Tahun Baru

Dalam sebuah literatur dikatakan, secara umum, terorisme merupakan konter terhadap peradaban Barat, yakni kapitalisme, sekularisme, dan liberalisme. Ketiganya mewakili aspek penting peradaban, yaitu ekonomi, politik, dan agama. Permusuhan antara Islam dengan peradaban Barat telah dijabarkan Huntington (w. 2008) sebagai tabrakan peradaban, yang merupakan luka lama—paling tidak—sejak Perang Salib.

Sepanjang sejarah, pertumpahan darah antara Islam dan Kristen, atau khususnya peradaban Barat, tak terhitung. Semua itu telah memengaruhi psikologi antarumat tentang dikotomi peradaban yang benar-benar tidak bisa disatukan, benar-benar kontras: hak dan batil, dan melestarikan permusuhan yang tiada akhir. Di dunia modern ketika perdamaian menjadi narasi global, kebencian tersebut menjelma dalam konteks mayoritas dan minoritas.

Di Barat, di mana Islam adalah minoritas, Muslim kerap tertindas. Semaraknya islamofobia adalah bukti konkret bahwa stigma antarumat itu bukan hanya masalah umat Islam semata, tetapi juga Kristiani ketika mereka berposisi jadi mayoritas. Di Eropa dan Amerika, Islam kerap kali terdiskriminasi. Di Indonesia, karena Kristen berposisi sebagai minoritas, yang terjadi justru sebaliknya: maraknya diskriminasi atas mereka.

Natal dan tahun baru, atau Nataru, berada di rel permusuhan lama tersebut. Di negara ini, oleh segelintir umat Muslim, Natal benar-benar dicap buruk sebagai tradisi kafir—yang sejarah stigmatisasinya setua pertikaian Islam dan Kristen itu sendiri. Artinya, sampai kapan pun, masalah ini akan kembang-kempis. Akan selalu ada yang menyulut api setiap momentum Natal. Yang bisa dilakukan sekarang ialah: waspada!

Baca Juga  Strategi Kontra-Radikalisasi di Kalangan Aparatur Negara

Semua, Waspadalah!

Bagaimana merealisasikan kewaspadaan menjelang Natal sebagai antisipasi terhadap aksi-aksi teror? Aparat lebih mengetahui tentang apa yang harus mereka lakukan. Demikian karena tahun ini bukan yang pertama. Setiap tahun, mereka telah melakukan kebijakan-kebijakan dan strategi tertentu untuk menangani ancaman para teroris. Namun, ada beberapa hal juga yang mesti dioptimalisasi.

Pertama, pemantauan keamanan publik. Meningkatkan keamanan di tempat umum (public sphere), seperti pusat perbelanjaan, pusat keramaian, dan tempat ibadah, dengan menggunakan sistem pemantauan CCTV real-time dan peningkatan personel keamanan. Biasanya mal dipenuhi ucapan ‘Selamat Natal’ dan ikon pohon Natal, dan gereja akan dipenuhi jemaat. Semua itu harus dipantau ketat.

Kedua, kerja sama internasional. Perlu digarisbawahi, memperkuat kerja sama dengan negara-negara lain, seperti pertukaran intelijen dan strategi pencegahan terorisme, atau dengan cara berpartisipasi aktif dalam organisasi internasional yang berfokus pada kontra-terorisme menjelang Natal adalah sesuatu yang urgen. Jadi, selain kerja sama strategis secara umum, kerja sama setiap Desember ini krusial dilakukan.

Ketiga, pelibatan komunitas. Menggandeng komunitas tertentu, membangun kepercayaan dengan komunitas keagamaan untuk mendeteksi dan mencegah aksi-aksi teror, juga merupakan bentuk kewaspadaan yang efektif. Dalam konteks ini, kerja integratif dengan sektor swasta, misalnya yang ahli teknologi, untuk membantu mengembangkan dan menerapkan solusi keamanan berbasis teknologi sangat strategis dilakukan.

Baca Juga  Aceng Zakaria, Ulama Jago Baca Kitab Kuning dengan Segudang Karya

Keempat, penguatan sistem keamanan transportasi, seperti bandara, stasiun kereta, dan terminal bus. Semuanya harus di-screening. Sebab, Natal dan tahun baru itu momentum libur dan euforia, sesuatu yang sangat dibenci teroris. Jika tidak waspada dalam aspek tersebut, teroris akan menjadikannya peluang melakukan teror seperti bom bunuh diri atau serangan langsung. Maka, menguatkan sistem keamanan di situ juga urgen.

Kelima, memberikan pelatihan terpadu pada petugas keamanan dan aparat penegak hukum. Mereka wajib berkoordinasi secara efektif untuk mengantisipasi ancaman terorisme dan mencegah terjadinya aksi teror seperti yang menimpa Filipina kemarin. Lima langkah ini dapat menjadi solusi yang efektif, sehingga Natal berlangsung dalam aman tanpa dibayangi ketakutan aksi teror. Maka, semua pihak, waspadalah!

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *