menulis

Jalanhijrah.com-“Ketika kamu bicara, kata-katamu hanya bergaung ke seberang ruangan atas di sepanjang koridor. Tapi ketika kamu menulis, kata-katamu bergaung sepanjang zaman”. –Bud Gardner

Senior dulunya adalah peniru yang ulung. Begitu salah satu bunyi quote yang kurang lebih demikian saya baca dan ketahui. Kata-kata itu keluar dari salah satu tokoh dunia. Mengenai siapa namanya saya lupa!

Namun, pastinya saya ingat betul seperti demikian bunyi quote itu. Maka dari itu sampai sekarang di otak saya masih tersimpan rapi kata-kata itu. Hingga membuka gagasan saya untuk menuliskan artikel ini. Tidak jauh dari namanya dunia literasi dan edukasi.

Seperti apa yang dikatakan oleh Sindhunata di dalam sebuah pengantar buku yang pernah saya baca, di mana beliau mengatakan; membaca dan menulis adalah keharusan, yang selayaknya tak lagi menjadi beban, seperti hidup sendiri bukanlah beban. Hingga hal ini pun mengingatkan saya pada kenangan masa lampau.

Tidak lain saat-saat saya ingin memutuskan menulis. Tujuannya tidak lain ikut-ikutan saja saat itu. Saya kira menulis itu mudah! Tapi ketika saya ikut-ikutan untuk bisa menulis seperti para senior itu sulitnya minta ampun. Terlebih minimnya ilmu kepenulisan saat itu.

Tapi seiring dengan waktu berjalan saya pun akhirnya memahami itu semua dari pengalaman saya. Ternyata ‘meniru’ dari karya-karya senior yang saya kagumi (saat) itu adalah tidaklah baik! Itu sama saja tidak kreatif dan tidak memiliki inovasi sendiri.

Maka dari itu sebagai penulis seharusnya menulislah sesuai kebisaan dan kemampuannya sendiri. Tetaplah menjadi diri sendiri. Lakukan sebisa mungkin dan semampunya agar bisa lebih kreatif. Tidak apa buruk awalnya tho seiring sejalan nanti akan terbiasa dan mengalami kemajuan. Bukan begitu?

Baca Juga  Semakin Islami, Semakin Kritis Pada NKRI?

Ini pulalah yang seringkali dilakukan Hernowo, penulis best seller buku-buku how to kepenulisan, yang beliau bagikan pengalamannya di dalam bukunya “Main-main dengan Teks Sembari Mengasah Potensi Kecerdasan Emosi” (Penerbit Kaifa, 2004).

Saya ketik apa yang memang ingin saya ketik. Saya keluarkan apa saja yang memang saya dapat saya keluarkan. Apa yang saya lakukan ini kemudian saya ketahui sebagai salah satu teknik menulis yang disebut sebagai teknik freewriting atau fastwriting.”

Bukan itu saja ada satu teknik lagi untuk mememecahkan soal apakah kita punya bahan atau tidak. Teknik itu bernama clustering atau mindmapping. Saya betul-betul merasakan, ketika menggunakan teknik ini, bahwa menulis yang dulu saya anggap sangat berat, ternyata dapat sangat menyenangkan. Bahkan, teknik clustering ini juga dapat memicu seorang penyair untuk mengalirkan sekaligus menciptakan sepenggal puisi yang menggigit.”

Akhirnya saya pun mengambil kesimpulan dari artikel yang saya tulis ini. Terlebih saya mengutip apa yang dikatakan Sindhunata dan Hernowo yang sudah memotivasi dan menginspirasi saya. Jika menulis bukanlah (suatu) beban tapi sebuah keharusan. Memang sudah seperti itulah sebenarnya!Selama ini saya juga jika ingin menulis (baik itu menulis fiksi maupun non fiksi) selalu melihat sikon (situasi dan kondisi). Bila saya ingin sekali menulis pasti saja ada yang menggerakkan saya untuk menulis di laptop. Pokoknya begitu saja terjadi!

Ada sebuah rasa ingin segera saya tuliskan. Itu yang saya lakukan selama ini. Jadi bukan dipaksa atau karena keterpaksaan.

Tapi dengan pengecualian bila otak dan pikiran saya tidak sikron. Maksudnya, begini bila saya lagi bad mood maka saya tidak akan menulis. Namun, bila di otak saya banyak letikan-letikan ide, maka saya dengan secepatnya akan menulis.

Baca Juga  Doa Berlindung Dari Kemiskinan Dunia Akhirat

Ya, biasanya saya menulis itu lebih dulu menggunakan ponsel. Saya tulis sejadinya saja. Apa yang ada di benak ya saya tuliskan semua. Ini tanpa diedit lebih dulu lho. Jadi ‘apa adanya’ dulu saya tuliskan! Setelah itu apa yang saya lakukan?

Usai itu barulah saya tuliskan kembali ke dalam laptop tulisan ‘apa adanya’ itu. Kemudian baru dibaca kembali dan melakukan editing. Inilah proses kreatif ‘awal’ untuk melahirkan sebuah karya ‘terbaik’ yang saya hasilkan versi saya sendiri.

Lagi-lagi ini mengingatkan saya belum lama ini ada seorang penyair yang saya kenal lewat medsos. Karena dirinya ‘asyik’ saat berinteraksi baik di medsos  dan juga saling menyupor akhirnya kami bertukar WhatsApp untuk saling berbagi. Tidak lain berbagi cerita dalam proses kreatif menghasilkan sebuah karya.

“Proses kreatif saya itu jika di benak saya dipenuhi ide-ide. Saat itu juga saya akan menulis. Harus! Tapi saya menuliskannya di ponsel lebih dulu. Baru kemudian saya pindahkan ke laptop. Pernah terjadi saat saya mau memejamkan mata pada malam hari tetiba terbetik ingin menulis. Saya pun langsung mengambil ponsel segera saya tulis ide pokoknya saja dulu. Esoknya baru saya lanjutkan prosesnya untuk menjadi tulisan.”

Begitulah jawab saya pada penyair itu saat menanyakan proses kreatif saya untuk menghasilkan karya. Simpelkan!

Lagi pula manfaat dari menulis menurut James Pennebaker, Ph.D, dan Janet Seager, Ph.D, menurutnya dalam jurnal Clinical Psychology menjelaskan, “Bahwa orang yang memiliki kebiasaan menulis umumnya memiliki kondisi mental lebih sehat dari mereka yang tidak punya kebiasaan tersebut. Pikiran yang sehat dan memiliki rasa seni yang tinggi. Tentunya juga akan memberi kekuatan positif pada tubuh.”

Baca Juga  Arah Politik PBNU pada Pemilu 2024

Oya, satu lagi dalam hal berkarya. Saya bukanlah tipe (penulis) ngoyo. Apa saja harus ditulis atau diikuti. Tepatnya dalam hal ini bila ada perlombaan menulis dan memakai tema tertentu serta tidak bisa saya ketahui apalagi memahami. Apa yang saya lakukan?

Saya tidak akan ikut dan tidak akan memaksakan untuk berkompetisi! Informasi lomba itu saya beritahukan atau kasih tahu pada sesama penulis lainnya. Siapa tahu mereka bisa menguasai dan ikutan. Kan tidak mubazir pengumuan atau informasi itu. Iyakan!

Begitulah adanya saya. Menulis juga buat saya salah satunya untuk shock therapy dan juga beribadah bukan untuk ingin menjadi si penulis A atau B. Karena setiap penulis memiliki tujuan, prinsip dan keistimewaan masing-masing, bukan?

Lalu, bila soal honor atau memenangkan perlombaan itu hanyalah bonus jerih payah dalam bekerja (menulis). Selebihnya karya itu bermanfaat dan menginspirasi serta berkotempelasi pada pembaca. Itu yang sangat saya inginkan sekali.

Dipraktekkan dalam sehari-hari. Hm, double pahalakan. Menabur kebaikkan pula.

Yuk, kalau begitu menulis selagi kamu punya rasa dan bisa. Kenapa tidak dipratekkan dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah gunanya dan manfaatnya menulis itu banyak?

Jadi tidak ada kata tidak mau menulis, kan! Kapan lagi selagi rasa dan bisa!

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *