Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 9 Nov 2021 15:00 WIB ·

Shalat itu Tiang Agama, Hukuman Berat Bagi yang Meninggalkannya.


					Shalat itu Tiang Agama, Hukuman Berat Bagi yang Meninggalkannya. Perbesar

Jalanhijrah.com-Salah satu ajaran yang sangat penting dalam Islam adalah shalat. Karena pentingnya itu, Rasulullah Saw bersabda:

اَلصَّلاَةُ عِمَادُ الدِّيْنُ وَمَنْ اَقَامَهَا فَقَدْ اَقَامَ الدِّيْنَ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ تَرَكَ الدِّيْنَ

“Shalat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkan shalat, maka berarti telah menegakkan agama. Dan barang siapa meninggalkan shalat, maka ia telah merobohkan agamanya”.

Shalat diibaratkan tiang dalam sebuah bangunan yang besar. Tidak akan terbentuk sebuah bangunan yang kokoh kalau tiang-tiangnya keropos, apalagi sama sekali tidak ada tiangnya. Apa artinya mengaku sebagai umat beragama Islam kalau tidak mau menegakkan agamanya sendiri dengan bershalat? Perlu dipahami, bila shalat dibicarakan, yang dimaksud adakah shalat fardlu lima waktu dan dilaksanakan dengan berjamaah di masjid. Al Hadist:

عن اَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَمْ يَقُولُ مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ  فِيْ قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيْهِمُ الصَّلَاةُ اِلَّا قَدِا سْتَحْوَ عَلَيْهِمُ  الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَاءِنَّمَا يَاأْكُلُ الذِّءْبُ الْقَاصِيَةَ

“Dari Abidzar Ra berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “Tiap-tiap ada tiga orang di suatu kampung yang tidak mau adzan dan tidak mau mengadakan shalat (jamaah), tentulah ketiganya dikuasai oleh syetan. Oleh karenanya hendaklah kamu berjamaah sebab serigala hanya memakan kambing yang terpencil (sendirian)”. (Hadis ini Riwayat Ahmad ibn Hanbal, Nasa’iy dan Abu Dawud dari Abu Darda). Selain Tiang Agama, Shalat juga Merupakan Tolak Ukur Semua Amal

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

Baca Juga  Suntik Bius Saat Puasa, Batalkah Puasanya?

” Baca Juga  Khutbah Shalat Jumat: Taat Pada Pimpinan dan Pemerintah “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang.

Begitu juga amalan lainnya seperti itu”. (HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386. Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, penilaian sahih ini disepakati oleh Adz Dzahabi) Neraka Saqar Allah telah menyediakan tempat dengan siksaan yang pedih bagi orang-orang yang meninggalkan kewajiban shalat. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka Saqar.

Di akhirat, tidak ada syafaat atau penopang. Di sana, tidak ada jual-beli, apalagi suap-menyuap. Orang yang meninggalkan shalat dikatakan akan dimasukkan ke dalam neraka Saqor (Qs. Al-Mudatsir

: 42-47) مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (43) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (44) وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ (45) وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ (46) حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ (47) 42.

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” 43. Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat” 44. Dan Kami tidak (pula) memberi makan orang miskin 45. Dan adalah Kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya 46. Dan adalah Kami mendustakan hari pembalasan 47. Hingga datang kepada Kami kematian Ketika penghuni neraka Saqor ditanya Malaikat, apakah yang menyebabkan kamu masuk neraka ini? Jawaban pertama adalah bahwa mereka ketika hidup di dunia dulu, tidak mengerjakan shalat.

Baca Juga  Makan atau Shalat Dulu, Berikut Panduan Nabi Muhammad

Mereka juga tidak memberi makan orang miskin, mendiskusikan kebatilan, dan mendustakan atau tidak mengakui adanya hari kiamat. Padahal, siksaan di neraka adalah sangat keras dan kasar. Bahan bakarnya dari batu dan manusia. Na’udzu billahi min dzalik.

Shalat yang Khusyuk atau yang Tuma’ninah? Kedua istilah ini mempunyai tujuan yang sama, yaitu agar kita melaksanakan shalat dengan lebih baik, tidak tergesa-gesa. Shalat yang khusyuk adalah shalat dengan menghadirkan hati kita. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 45-46, Allah mengabarkan hal itu.

Shalat itu amalan yang berat kecuali bagi orang yang khusyuk. Khusyuk tercipta karena dalam hatinya ada keyakinan bahwa mereka bertemu dengan Allah Tuhannya dan kelak mereka akan kembali kepada-Nya. Sedangkan, shalat yang thuma’ninah adalah menertibkan gerakan shalat kita secara fisik. Ciri-ciri shalat yang thuma’ninah adalah: Thuma’ninah (tidak tergesa-gesa). Hadis dari “Amar bin ‘Ash dan Khalid bin Walid, Syarhabil bin Hasanah dan Yazid bin Abu Sufyan riwayat Al-Baihaqi:

رَأَى رَسُوْلُ الله صلعم رَجُلاً لاَ يَتِمُّ رُكُوعَهُ وَ يَنْقُرُ سُجُوْدَهُ وَ هُوَ يُصَلِىّ فَقَالَ : لَوْ مَاتَ هَذَا عَلَى حَالِهِ مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ

“Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki tidak mnyempurna–kan ruku’nya dan hanya mengangguk-angguk dalam sujudnya (cepat sekali  rukuk /sujudnya). Maka sabda beliau, seandainya orang ini mati dalam keadaan shalatnya seperti itu maka ia mati bukan dalam agama Muhammad” Permasalahan sering menyebabkan tidak thuma’ninah adalah pembacaan surah Al-Fatihah yang terlalu cepat (satu atau dua nafas). Semestinya pembacaan Al-Fatihah itu pelan, tiap ayat berhenti untuk menarik nafas.
Dalam sebuah hadis Qudsi, diriwayatkan bahwa Allah itu akan membalas bacaan Al-Fatihah dalam soal berdasarkan ayat demi ayat.

Baca Juga  Kiai Said Aqil Sebut Terorisme dan Radikalisme Tantangan di Era 4.0

Seperti Mandi Lima Kali Pada suatu hari, Rasulullah Saw bertanya pada sahabat-sahabatnya: أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟ قَالُوْا: لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ. قَالَ: فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا. (متفق عليه)

“Apakah pendapat kamu, apabila di muka pintu salah satu rumahmu ada satu sungai yang kamu mandi padanya tiap hari lima kali. Adakah tinggal olehnya kotoran?” Serentak sahabat menjawab: “Tidak ada, Ya Rasulallah”. Beliau bersabda: “Maka begitu juga perumpamaan shalat lima waktu, dengan itu Allah menghapus kesalahan” (Muttafaq ‘alaih). Semoga kita dibimbing Allah dan diberi kekuatan untuk bisa melestarikan amalan shalat dalam sisa-sisa umur kita, yang kita tidak tahu kapan habisnya. Marilah kita mandi di sungai shalat. Jadikan shalat sebagai tiang agama kita, Jangan ditinggalkan dan jangan didustakan. Amin. .

Wardi- https://ibtimes.id/shalat-itu-tiang-agama/

Artikel ini telah dibaca 9 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian