Home / Milenial / Refleksi HSN; Tiga Upaya Santri Melawan Narasi Radikal di Medsos

Refleksi HSN; Tiga Upaya Santri Melawan Narasi Radikal di Medsos

Refleksi HSN; Tiga Upaya Santri Melawan Narasi Radikal di Medsos

Jalanhijrah.com- Momen historis resolusi jihad 22 Oktober 1945 yang disampaikan oleh Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari kepada para pejuang menjadi spirit membela tanah air yang kemudian diabadikan menjadi peringatan Hari Santri Nasional (HSN). Resolusi jihad ini kemudian melahirkan perlawanan monumental para santri pada 10 November 1945 di Surabaya. Inilah yang kemudian menjadi titik tolak spirit hubbul wathon minal iman.

Semangat resolusi jihad ini berhasil menjadi daya gerak yang luar biasa bagi santri dan masyarakat untuk melawan penjajahan Belanda. Untuk itu, di momen HSN ini idealnya kita perlu mereflesikan jihad seperti apa yang perlu diaktualisasikan di tengah tantangan zaman yang tentu berbeda dengan masa sebelumnya.

Ternyata meskipun sudah lebih dari 77 tahun merdeka, namun bangsa Indonesia masih saja dihantui oleh ancaman kolonalisme. Namun bentuk ancaman kolonialisme saat ini berupa ideologi, dan ini menurut sebagian pengamat justru lebih berbahaya daripada kolonialisme penjajah.

Kolonialisme ideologi tentunya menjadi sebuah ancaman yang perlu diwaspadai demi keberlangsungan eksistensi bangsa dan negara Indonesia. Mengingat sudah cukup banyak negara di Timur Tengah yang menjadi korban, yang diporak-porandakan oleh ideologi ini, yakni islamisme. Pada gilirannya ideologi ini juga menyebabkan aksi radikalisme, ekstremisme bahkan terorisme di Indonesia.

Untuk itu, di momen HSN yang diperingati sebagai jihad bersejarah para pahlawan ini penting bagi para santri, ulama dan alumni pondok pesantren untuk berjihad mengampanyekan mengenai bahaya paham radikal terorisme dan bagaimana upaya pencegahannya.

Jargon Hubbul Wathon Minal Iman yang berarti mencintai dan membela negara adalah bagian dari iman yang difatwakan oleh KH Hasyim Asy’ari ini bisa menjadi argumen teologis, hal ini bisa direaktualisaikan melalui ajakan terhadap komponen masyarakat dalam mencegah penyebaran paham radikal intoleran dan terorisme. Peringatan HSN yang jatuh setiap pada tanggal 22 Oktober bisa menjadi media untuk semakin memperkuat nasionalisme, jiwa kebangsaan, bela negara dan cinta Tanah Air.

Oleh karena itu, para santri harus bersama-sama dan bersatu padu untuk mencegah musuh bersama (kelompok radikal) yang ingin mengubah ideologi negara, ingin mengubah tatanan politik Indonesia dengan ideologi yang mereka kehendaki. Pondok pesantren, alumni, para santri dan juga masyarakat perlu saling berkolaborasi dalam mencegah paham radikal terorisme agar paham itu tidak menyebar di masyarakat.

Melawan Narasi Radikal

Belakangan ini, narasi radikal semakin marak menjangkiti kawula muda. Untuk itu, resolusi jihad yang dikumandangkan oleh KH Hasyim Asy’ari, bisa menjadi spirit jihad kontemporer dalam rangka mereduksi narasi radikal yang semakin menyebar tak terbendung, khususnya di media sosial. Narasi inilah yang seringkali menjadi alat pemecah belah bangsa, dan tak sedikit anak muda yang menjadi radikal karenanya.

Untuk itu, para santri harus cerdas secara literasi, dan harus tahu mengenai bagaimana indikasi-indikasi yang kiranya terdapat penyebaran paham yang mengarah kepada radikalisme dan terorisme. Di samping itu, Santri perlu memahami strategi untuk mereduksi narasi radikal yang digaungkan mereka. Dalam konteks ini, setidaknya ada tiga upaya yang perlu dilakukan oleh para santri dalam rangka mengaktualisasikan resolusi jihad di media sosial:

Pertama, perlunya memahami nash secara kontekstual. Kelompok radikal umumnya memaknai secara harfiah teks-teks dalam Al-Quran dan Sunnah tanpa berusaha memahami kandungan dan maksud yang tersirat di dalamnya. Inilah yang menjadi spirit mereka dalam bergerak yang kemudian narasinya mereka sebarkan dengan masif di media sosial. Untuk itu, penting bagi para santri untuk menguatkan sisi pemahaman nash yang kontekstual dan bagaimana mereaktualisasikan narasi moderat tersebut di media sosial sebagai counter narasi radikal.

Kedua, pentingnya meluaskan wawasan keagamaan. Umumnya narasi mereka sangatlah literlek dan miskin perspektif. Mereka umumnya hanya berpedoman pada terjemahan Al-Quran, tanpa meninjau asbabul nuzulnya. Mereka mempelajari ilmu hanya dari buku dan mempelajari Al-Quran hanya dari Mushaf. Pemahaman sempit itulah yang mereka gaungkan di ruang maya, namun anehnya cukup banyak kawula muda yang masih terpengaruh oleh narasi mereka. Santri yang tentu memiliki wawasan keagamaan yang mumpuni perlu menyemarakkan narasi yang kaya perspektif di medsos.

Ketiga, mereka memiliki kerancuan konsep dalam paham keagamaannya. Mereka umumnya rancu dalam memahami prinsip-prinsip syariat. Kelompok ini umumnya tidak memiliki cita rasa bahasa dan tidak mengerti makna dibaliknya, mereka pada gilirannya susah membedakan antara yang hakiki dan majazi. Mereka lupa bahwa Al-Quran sejatinya adalah kitab sastra terbesar yang multidimensi.

Padahal spirit substansial Al-Quran sejatinya bisa terus digali sampai akhir zaman, karena Al-Quran itu shalih li kulli zaman wa makan. Inilah yang tidak dilakukan dan bahkan dilupakan oleh kalangan radikal ketika memproduksi narasi di media sosial, sehingga narasi mereka miskin pengetahuan tentang sejarah, sunnatullah, dan realitas kekinian. Itulah alasan mengapa pentingnya melawan narasi radikal mereka dengan kontra narasi argumentatif-kontekstual.

Untuk itu, di momen hari santri nasional tahun 2022 ini, santri memainkan peran penting dalam memproduksi narasi kebangsaan yang moderat di medsos sebagai bentuk implementasi dari resolusi jihad 22 Oktober kontemporer. Sehingga narasi radikal pada gilirannya bisa tereduksi dan semakin sempit wilayah pergerakannya di media sosial dengan adanya produksi narasi yang lebih moderat dari kalangan santri.

Penulis

Ferdiansah

Tag: