Menu

Mode Gelap

Perempuan · 11 Jan 2022 16:00 WIB ·

Perempuan, Layangan Putus, dan Relasi Resiprokal dalam Berkeluarga


					Perempuan, Layangan Putus, dan Relasi Resiprokal dalam Berkeluarga Perbesar

Jalanhijrah.com – Series Layangan Putus viral di kalangan masyarakat maya Indonesia. Hadirnya series dari adaptasi novel karya Mommy ASF yang berjudul sama tersebut berangkat dari kisah nyata dengan tema keluarga dengan kronik perselingkuhan. Hadirnya series dengan tema yang diangkat serta ditunjang kemampuan akting pemainnya mampu mengaduk emosi penonton utamanya perempuan, sehingga jadwal tayang series ini demikian ditunggu-tunggu.

Perempuan dalam Layangan Putus

Tokoh Aries menjadi Public Eenemy masyarakat maya karena karakter manipulatif tapi romantis dengan kecukupan materi dalam pernikahannya dengan Kinan. Ia kemudian hadir dengan membawa Lidya sebagai orang ketiga dalam cerita pernikahannya. Namun dalam tulisan ini, penulis tidak hanya ingin menguliti drama perselingkuhan tokoh Aries dalam series tersebut. Yang mana dalam series tersebut kita tahu bahwa ada tokoh lain seperti Miranda yang hadir sebagai tokoh perempuan karier yang sukses dalam pekerjaannya, di mana ia juga melakukan tindakan yang sama.

Perselingkuhan dalam series ini tidak sekadar membicarakan kesenjangan gender berbasis maskulinitas lelaki hanya karena ia mampu memenuhi unsur finansial pasangan dengan manajemen berbagi kasih, melainkan sebuah masalah diri yang bersarang pada diri pelaku penyelingkuh yang membutuhkan legitimasi atau pengakuan. Maka itu, melalui viralnya series Layangan Putus dengan benang merah perselingkuhan, penulis memakai momentum ini sebagai tirai analisis resiprokal berkeluarga dalam memandang fenomena perselingkuhan sebagai sumber permasalahan keluarga.

Perselingkuhan bukan hal baru, sehingga hadirnya series Layangan Putus menjadi salah satu prototipe potret ringkihnya komitmen berkeluarga masyarakat kita. Perselingkuhan dilakukan hampir semua lapisan masyarakat, tak hanya dilakukan oleh Aries atau Miranda, yang dalam series ini hadir dari kalangan masyarakat yang memiliki kemelimpahan ekonomi. Perselingkuhan bisa terjadi dari kalangan bawah dengan beragam motif guna memperoleh kesenangan diri.

Baca Juga  Teladan Aisyah ra. dalam Bersedekah

Perselingkuhan  merupakan  salah  satu  sumber permasalahan dalam perjalanan kehidupan keluarga. Sejalan dengan hal tersebut, imbas dari masalah ini mampu menghadirkan permasalahan baru karena rusaknya komitmen berkeluarga. Dan ini terjadi pada keluarga siapa saja, lebih-lebih keluarga yang melimpah harta.

Dalam hal in, kita perlu menggarisbawahi bahwa keluarga sebagai ruang bersosialisasi di mana nilai-nilai kehidupan dan karakter bermasyarakat secara dasar diajarkan. Orang tua baik ayah maupun ibu memiliki peran sentral yang sama dalam memberikan pengajaran dan pendidikan karakter terhadap anak-anaknya, kendati pengajaran tersebut dicerminkan dalam keseharian. Maka, hal dasar yang harus kita pahami bahwa pernikahan adalah gerbang berkeluarga yang membutuhkan komitmen jangka panjang. Berkeluarga membutuhkan visi-misi yang sama untuk diperjuangkan.

Pilar Penyanggah Rumah Tangga

Keluarga sebagai sebuah bangunan yang menggelar bahtera sering dimaknai sebagai separuh ibadah. Maka ibadah tersebut hanya dapat dicapai dengan upaya memperoleh ridha Allah, salah satunya dengan menghormati jiwa setiap anggota keluarga. Menurut Faqihuddin Abdul Kodir dalam buku Qiraah Mubaadalah (2019), kebahagiaan dalam pernikahan akan tercapai dengan pilar-pilar penyangga kehidupan rumah tangga agar visi berkeluarga tercapai. Pilar-pilar penyangga rumah tangga tersebut tentu merujuk pada Alquran sebagai sumber dasar.

Pertama, komitmen pada ikatan janji yang kokoh sebagai amanah Allah Swt (Miitsaaqan ghaliizhan, QS. an Nisaa’ [4]: 21); Kedua, prinsip berpasangan dan kesalingan (Zawaaj, QS. al-Baqarah [2]:187 dan QS. ar-Ruum [30]:21); Ketiga,perilaku saling memberi kenyamanan/kerelaan (Taraadhin, QS. al-Baqarah [2]: 233); Keempat, saling memperlakukan dengan baik (Mu’aasyarah bil maruf, QS. an-Nisaa’ [4]:19), Kelima adalah kebiasaan saling bermusyawarah (Musyaawarah, QS. al-Baqarah [2]: 233).

Baca Juga  Kebohongan Aktivis Khilafah tentang Tegaknya Negara Islam 2024

Kelima pilar tersebut membutuhkan peran bersama dalam praktik keseharian untuk terus bersinambung, demi visi dan tujuan berkeluarga dapat dirasakan bersama. Dengan begitu pernikahan adalah sebuah ikatan yang senantiasa membutuhkan kesediaan untuk saling membahagiakan, bukan mencari bahagia semata apalagi sepihak. Dalam konteks Islam, kebahagiaan yang maslahah akan terwujud jika dapat terjalin dengan mempertimbangkan pemenuhan aspek agama, jiwa, akal pikiran, harta, serta terawatnya keturunan.

Perempuan dalam Islam

Dalam halnya memandang masalah perselingkuhan, ada sederat pertanyaan yang bisa kita ajukan untuk dipakai sebagai pertimbangan dasar. Bagaimana pandangan agama dalam memandang perselingkuhan yang menciderai komitmen perjanjian pernikahan? Bagaimana jiwa anggota keluarga apabila perselingkuhan dilakukan? Bagaimana akal pikiran mempertimbangkan akibat yang ditimbulkan dari tindakan perselingkuhan? Bagaimana stabilitas ekonomi dan harta keluarga saat berkomitmen dalam keluarga utuh dan bayangan akan hadirnya orang baru dalam keluarga? Bagaimana pandangan keturunan apabila kondisi tersebut terjadi atau juga bagaimana nazab anak yang lahir dari perempuan perselingkuhan yang penuh drama? Bagiamana membaca relasi perempuan dan laki-laki mutakhir?

Sejauh yang saya amati dari pola kehidupan para penyintas perselingkuhan, yang terjadi justru keribetan dan keributan dalam keluarga.

Dengan begitu, dalam konteks maqashid syariah adalah suatu jalan mempertimbangkan kemaslahatan keluarga guna terbentuknya keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Upaya ini jika diterapkan oleh setiap pasangan dalam keluarga bisa jadi mampu menghalau nafsu duniawi yang menggelincirkan diri.

Baca Juga  Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI): Perempuan Memiliki Peran Penting dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

Barangkali, cara ini juga efektif sebagai kontrol diri dalam membentuk kultur yang seolah menyalahkan orang yang datang sebagai pengganggu. Kita tahu bahwa kultur masyarakat kita kerap mengkambinghitamkan orang lain dengan label pelakor dan pembinor, ketimbang tingkatan paling dasar dalam mengenali diri yaitu intropeksi diri.

Dalam fase perselingkuhan hal yang dapat kita lihat dalam tayangan Layangan Putus, misalnya kecenderungan  untuk  pasangan dalam merahasiakan  sesuatu, bertindak  defensif  (bersikap bertahan), serta kebiasaan untuk selalu melakukan kebohongan.

Layangan putus sebagai tayangan viral yang dibicarakan banyak orang, semoga menjadi tontonan yang dapat kita ambil sari pati dan pesan moralnya. Dengan kemampuan menyaring dan memilah setiap tontonan artinya kita dapat memastikan hal apa yang tidak perlu kita jadikan tuntunan menjadi referensi dalam bersikap. Dengan begitu, kita sejatinya sedang berikhtiar untuk menciptakan nuansa yang bahagia, juga memberi kebahagiaan tanpa mengusik kebahagiaan milik orang lain. Semoga.

Artikel ini telah dibaca 19 kali

Baca Lainnya

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur

Aisyah binti Sa’ad, Putri Pendekar Islam

25 Januari 2023 - 10:00 WIB

Aisyah binti Sa’ad, Putri Pendekar Islam
Trending di Perempuan