Home / News / Menkes: 28 Juta Warga Indonesia Berpotensi Alami Gangguan Kesehatan Jiwa

Menkes: 28 Juta Warga Indonesia Berpotensi Alami Gangguan Kesehatan Jiwa

jalanhijrah.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa tantangan kesehatan jiwa di Indonesia masih sangat besar. Berdasarkan perbandingan global gangguan mental yang dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah masyarakat Indonesia yang berisiko mengalami masalah kesehatan jiwa diperkirakan mencapai puluhan juta orang.

Budi menjelaskan bahwa kasus yang terdeteksi saat ini baru merupakan sebagian kecil dari kondisi sebenarnya. Mengacu pada data WHO, gangguan kejiwaan dialami oleh sekitar satu dari delapan hingga satu dari sepuluh penduduk. Hal tersebut ia sampaikan saat memaparkan hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, sebagaimana dikutip, Selasa (20/1/2026).

Dengan total penduduk Indonesia yang hampir mencapai 280 juta jiwa, Budi memperkirakan sedikitnya sekitar 28 juta orang memiliki persoalan kesehatan mental. Gangguan tersebut mencakup berbagai kondisi, mulai dari depresi, gangguan kecemasan, hingga gangguan yang lebih berat seperti skizofrenia dan ADHD.

Namun demikian, hasil skrining kesehatan jiwa melalui program Cek Kesehatan Gratis masih menunjukkan persentase yang relatif rendah. Menurut Budi, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di tengah masyarakat.

Ia menyebutkan bahwa dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, tingkat temuan gangguan kesehatan jiwa masih berada di bawah satu persen pada kelompok dewasa dan sekitar lima persen pada anak-anak. Meski demikian, skrining ini dinilai penting sebagai langkah awal untuk memetakan masalah kesehatan mental di Indonesia.

Ia menekankan bahwa hasil skrining tersebut tetap menjadi dasar awal bagi pemerintah dalam menyusun pemetaan kebutuhan layanan kesehatan jiwa secara lebih terencana dan menyeluruh.

Data CKG: Anak dan Remaja Lebih Rentan
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga 1 Januari 2026, lebih dari 27 juta penduduk telah menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Temuan dari program ini menunjukkan bahwa anak usia sekolah dan remaja cenderung memiliki tingkat gejala gangguan kesehatan jiwa yang lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa maupun lansia.

Pada kelompok anak sekolah dan remaja, tercatat sekitar 4,8 persen atau 363.326 orang mengalami gejala depresi. Sementara itu, sebanyak 4,4 persen atau 338.316 orang teridentifikasi menunjukkan gejala kecemasan.

Sementara itu, pada kelompok dewasa dan lanjut usia, proporsi individu yang menunjukkan gejala depresi tercatat sebesar 0,9 persen atau sekitar 174.579 orang. Adapun gejala kecemasan pada kelompok usia ini mencapai 0,8 persen, dengan jumlah sekitar 153.903 orang.

Penguatan Layanan Kesehatan Jiwa di Puskesmas
Budi menyatakan bahwa hasil skrining tersebut menjadi landasan bagi Kementerian Kesehatan dalam memperluas sekaligus memperkuat layanan kesehatan jiwa, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas. Ia menuturkan bahwa selama ini layanan kesehatan jiwa belum memiliki tata laksana yang jelas di puskesmas.

Untuk itu, Kementerian Kesehatan telah menyusun pedoman pelayanan kesehatan jiwa yang mencakup aspek medis maupun psikologis. Pedoman tersebut meliputi kebutuhan farmakologis seperti pemberian obat, serta layanan nonmedis berupa pendampingan psikologis dan konseling. Saat ini, Kemenkes tengah membangun sistem agar layanan kesehatan jiwa tersebut dapat diimplementasikan secara optimal di puskesmas-puskesmas di seluruh wilayah.