Mengapa Kita Gampang Memulai Perdebatan Atas Sedikit Pengetahuan yang Dimiliki?

Jalanhijrah.com –Ramai sebuah perdebatan di linimasa twitter dari seorang perempuan melalui akun twitter @Amirah_Fadhlina. Dalam cuitannya, ia mengkritik sebuah berita almarhumah Dorce Gamalama yang akan disalatkan sebagai laki-laki. Jika merujuk pada pernyataan Dorce Gamalama dalam sebuah videonya pada saat menjadi bintang tamu di akun youtube Deny Siregar. Harapan Dorce tidak lain ingin disalatkan sebagai laki-laki.

Meskipun demikian, Dorce Gamalama disalatkan sebagai laki-laki. Hal ini diungkapkan oleh pengurus Masjid Al Hayyu 63 Lubang Buaya, Ustaz Anna Muhajid, bahwa Dorce akan disalatkan sebagai laki-laki, sesuai dengan hasil musyawarah dengan mempertimbangkan banyak hal.

Atas dasar permasalahn tersebut, @Amirah_Fadhlina mengutip berita tersebut dengan komentar dengan Bahasa inggris, yang artinya:

Ini tidak manusiawi. Bertentangan dengan keinginannya untuk dikenang sebagai wanita yang lebih cantik dari dirinya, ini adalah kekerasan atas dasar agama sekali lagi. Identitas Bunda Dorce bukan milikmu untuk didefinisikan, dia menjalani seluruh hidupnya dengan jujur pada dirinya sendiri. Jangan hapus dia.”

Tercatat bahwa @Amirah_Fadhlina merupakan mahasiswi PhD di Boshton University Antropology. Melalui komentar awal tersebut, akun @Amirah_Fadhlina menuai banyak komentar dari para netizen.

Rendahnya literasi dan budaya akademik

Diantara banyaknya retweet serta komentar yang kemudian menjadi treding di twitter dengan hastag #S2 Islam, saya justru penasaran dengan beberapa argumen yang muncul. Menurut saya, hal pertama yang akan saya lihat ketika saya membaca komentar dalam sebuah perdebatan itu kenyataan bahwa, saya akan menerima banyak sekali perspektif dan argumen baru ssebagai pengetahuan.

Baca Juga  Mematahkan Argumen Khilafahers: Madinah Itu Negara Bangsa, Bukan Negara Agama

Sayangnya hal itu tidak saya temukan. Justru saya menemukan caci-maki melalui pelbagai narasi singkat yang ditulis. Masyarakat kita di media sosial, masih belum seperti masyarakat pada kehidupan nyata. Etika dalam bermedia sosial terkadang tidak menjadi budaya moral yang untuk diterapkan oleh masyarakat. Justru, terkadang sikap seseorang pada kehidupan nyata dengan dunia maya sangat berbeda. Sehingga manusia semacam memiliki topeng yang berbeda antara kehidupan nyata dengan kehidupan maya.

Artinya, seorang yang dinilai beretika, sopan santun dalam perilaku kehidupan nyata, tidaklah menjadi jaminan untuk berbanding lurus dengan etika yang diterapkan di media sosial. Sejalan dengan fenomena tersebut, kita juga perlu melihat bagaimana tingkat literasi yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia.

Budaya akademik seperti membaca, tingkat literasi yang masih rendah, juga menjadi salah satu faktor mengapa sikap yang ditampilkan dalam dunia maya masyarakat kita lebih mendahulukan caci-maki pada saat melihat perbedaan pandangan. Apalagi jika dibandingkan dengan media sosial lainnya seperti Instagram dan facebook. Topik yang dibicarakan di twitter lebih berpotensi untuk viral, trending serta lebih cepat untuk dibicarakan banyak orang.

Seharusnya, linimasa media sosial, khususnya twitter diperbanyak dengan argumentasi dengan banyaknya pandangan dari beragam pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat. Jika komentar dipenuhi dengan caci maki, hal itu bisa dipastikan bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat kita masih rendah, tidak bisa mengkritik dengan argumen, akan tetapi hanya mengedepankan emosi dalam bermedia sosial.

Baca Juga  Mampukah Gus Yahya Melawan Radikalisme di Indonesia Lewat NU?

Seharusnya argumen logis, bukan caci maki

Setidaknya dalam melihat permasalahan ini, kita tidak bisa melihat dari satu perspektif saja. Kita perlu menelaah lebih jauh bagaimana argumen yang dilontarkan oleh akun @Amirah_Fadhlina yang menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang  yang memiliki pengetahuan cukup perihal bahasa arab serta tafsir dengan latar belakang pendidikan yang sudah ditempuh.

Sebenarnya penjelasan itu tidak lebih penting dibandingkan dengan argumen lucu @Amirah_Fadhlina yang menjelaskan bahwa Allah melaknat kekerasan pada kisah kaum Lut bukan melaknat homoseksualitas ataupun LGBT. Argumen berbeda tersebut tentu membuat terkejut pemahaman kita selama ini.

Namun, apakah etis menanggapi perbedaan pandangan tersebut dengan caci maki? Lagipula ribut perihal keputusan atas jenis kelamin Dorce pada saat disalatkan sudah selesai. Sebab dalam argument terakhirnya, Dorce ikhlas disalatkan dengan jenis kelamin apapun sesuai dengan kesepakatan orang-orang yang mengurusnya.

Kisah almarhum Dorce, kiranya kita tidak perlu membesar-besarkan masalah ataupun argumen blunder yang terus digunakan untuk saling menyerang. Sebab hal itu akan menimbulkan perpecahan, kelompok lain kaget dengan argumen baru yang disampaikan oleh @Amirah_Fadhlina, sedangkan sosok @Amirah_Fadhlina merasa benar dengan argumen yang dilontarkan disertai dengan pengalaman keilmuan yang sudah pernah dijalankan. Masalah semacam ini tidak akan pernah selesai. Sebab semuanya merasa paling unggul dan paling benar diantara yang lain.

Padahal jika kita merasa tidak memiliki kapasitas di suatu bidang, sebaiknya tidak perlu berkomentar atas sebuah fenomena. Seperti kata Rusdi Mathari dalam bukunya yang berjudul “Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya”. Wallahu a’lam

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *