Seperti kebanyakan sastrawan angkatan 1960-an, umumnya karya sastra yang terbit pada periode ini lebih cenderung menempatkan latar revolusi kemerdekaan sebagai basis penggambaran cerita. Mochtar Lubis, misalnya, satu diantara sederet sastrawan kenamaan Indonesia ini menulis sejumlah novel dengan mengangkat kisah-kisah pada masa-masa penuh gejolak dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Mochtar Lubis lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922 dari keluarga Mandailing. Sebelumnya ia dikenal sebagai seorang wartawan dan pengajar. Ia menulis investigasi, termasuk meliput Perang Korea pada 1950. Mochtar Lubis memang menulis banyak buku. Setidaknya ada 53 judul buku yang ia terbitkan sebelum wafat pada 2 Juli 2004 pada usia 82 tahun.
Pada 1952, terbit novel berjudul Jalan Tak Ada Ujung, yang di kemudian hari diadaptasi menjadi film berjudul Perang Kota (tayang 2025), serta novel berjudul Maut dan Cinta (1977). Jika Jalan Tak Ada Ujung mengisahkan latar peristiwa pada tahun 1946, Maut dan Cinta mengambil latar waktu yang lebih panjang, dari 1947 hingga 1949.
Mochtar Lubis mulai menulis novel Maut dan Cinta saat ditahan rezim Soekarno di penjara Madiun, tak lama sebelum pecahnya peristiwa Gestapu-PKI. Ia melanjutkan penulisan di penjara RTM Jakarta setelah dipindahkan pasca-Gestapu, dan kemudian di rumah tahanan Jalan Keagungan, Jakarta Kota. Ketika tahanan politik di Jalan Keagungan dibebaskan oleh rezim Soeharto pada 18 Mei 1966, novel ini baru selesai tiga per empat. Kesibukannya setelah bebas membuatnya sulit menyelesaikan karya tersebut. Baru pada musim panas 1973, saat menerima undangan sebagai “scholar” di Aspen Institute, Amerika Serikat, Mochtar akhirnya mendapatkan waktu untuk menyelesaikan novel ini.
Tokoh utama dalam novel ini adalah Sadeli, seorang mayor yang bertugas sebagai intelijen. Meski sebenarnya ia lebih ingin terjun ke barisan terdepan, Kolonel Suroso meyakinkannya bahwa kemampuannya dalam intelijen jauh lebih dibutuhkan. Pengetahuan luas dan keahliannya dalam berbagai bahasa asing menjadikan Sadeli aset penting bagi dinas intelijen.
Sadeli ditugaskan ke Singapura untuk menyelidiki Kapten Umar Yunus, yang diduga mengkhianati perjuangan dengan menggelapkan dana dari penjualan gula, dana yang seharusnya digunakan untuk mendukung revolusi. Sadeli bahkan diberikan kebebasan penuh untuk mengambil tindakan apapun terhadap Umar Yunus. Selain itu, Sadeli juga diberi misi penting lain, yaitu membeli obat-obatan, senjata, speed boat, dan pesawat terbang, sekaligus mencari pilot yang bersedia membantu perjuangan revolusi Indonesia.
Namun, Sadeli merasa sulit untuk bersikap tegas setelah menyaksikan Umar Yunus bertindak dan berbicara layaknya seseorang yang benar-benar tergerak oleh semangat revolusi. Apalagi, Umar Yunus menunjukkan kecerdasan, sikap realistis, dan semangat yang luar biasa. Perubahan besar dalam diri Umar Yunus terjadi setelah kematian Yahya dalam pertempuran melawan Belanda, yang membuatnya sadar dan kembali menjadi pribadi yang bermartabat.
Novel Maut dan Cinta memberikan ulasan mendalam tentang setiap tokoh, menggambarkan ideologi yang mereka anut sekaligus hasrat dan motivasi pribadi yang mendorong tindakan mereka. Salah satu tokohnya adalah Ali Nurdin, seorang wartawan media nasional yang berangkat ke Singapura dengan biaya sendiri untuk menjalin hubungan dengan pers internasional demi memperkenalkan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam perjalanan tersebut, ia direkrut oleh Sadeli untuk bergabung dengan dinas rahasia.
Namun, semangat revolusi bukan satu-satunya pendorong bagi Ali. Ia juga termotivasi oleh keinginannya merebut hati seorang perempuan bernama Neni, yang sebelumnya pernah menolaknya. Meski akhirnya berhasil mendapatkan cinta Neni, kisah mereka berakhir tragis. Dalam perjalanan dari Magelang sehari sebelum pernikahan mereka, Neni tertembak oleh peluru dari pesawat Belanda. Neni meninggal dunia seminggu kemudian, meninggalkan luka mendalam bagi Ali.
“Setelah menerima berita kematian Nani, Ali Nurdin tak henti-hentinya mengusulkan berbagai tindakan serangan terhadap Belanda di luar Indonesia,” Hal 356.
Novel yang dinobatkan sebagai yang terbaik pada tahun 1979 ini, melalui dialog para tokohnya seperti Sadeli, Umar Yunus, Ali Nurdin, David Wayne, dan Pierre De Kooning, secara tersirat mengkritik rezim Soekarno yang dianggap telah mengkhianati cita-cita perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan cara ini, Mochtar Lubis mengajak pembaca untuk menyadari penyelewengan-penyelewengan yang terjadi di bawah pemerintahan Soekarno.
Dalam kata pengantarnya Mochtar Lubis menyatakan bahwa penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan rezim Sukarno serta banyak orang Indonesia pada masa itu, yang dianggap telah mengkhianati cita-cita perjuangan kemerdekaan bangsa, mendorongnya untuk menulis novel tersebut. Ia menambahkan bahwa tujuan penulisan novel Maut dan Cinta itu bukan hanya untuk menjelaskan kembali kepada dirinya sendiri tentang alasan bangsa Indonesia berjuang merebut kemerdekaan, tetapi juga untuk menyatakan kembali pengabdian kepada cita-cita kemerdekaan bangsa.
Selain itu, beberapa dialog dalam novel ini juga menggambarkan watak masyarakat Indonesia, diantaranya yang masih percaya pada takhayul, feodal. Misalnya, saat para awak kapal berbincang hangat tentang hantu, setan, iblis, dukun sakti, mantra mistis, kuburan angker, hingga keris dan pisau keramat. Sadeli, dengan sengaja, memancing perdebatan di tengah cerita-cerita tersebut. Meski ia sendiri tidak percaya pada hal-hal mistis, Sadeli menyadari betapa kuatnya kepercayaan itu mengakar dalam jiwa bangsanya. Ketika seseorang mengisahkan tentang dukun kebal peluru, Sadeli menanggapinya dengan sinis. Ia berujar bahwa jika ilmu kebal benar-benar ada, bangsa Indonesia pasti tidak akan dijajah selama ratusan tahun.
Melalui percakapan antara Sadeli dan Ali Nurdin, penulis menggambarkan bagaimana budaya feodal dianggap sebagai hambatan besar dalam upaya memajukan masyarakat. Ali Nurdin, yang memiliki pengalaman panjang sebagai wartawan sejak zaman penjajahan Belanda hingga pendudukan Jepang, mencatat bahwa sikap masyarakat terhadap penguasa sering kali berlebihan, menganggap kekuasaan sebagai anugerah ilahi.
“Aha, aku ingat kini, wahyu cakraningrat, dan penguasa dipandangnya selalu berkata benar, dan selalu berbuat benar, dan siapa saja harus tunduk pada penguasa atau sang raja,” tulis Mochtar di halaman 304.
Malik Ibnu Zaman
Kelahiran Tegal Jawa Tengah. Menulis sejumlah cerpen, puisi, resensi, dan esai yang tersebar di beberapa media online.
*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/mozaik/ar-NiTe5/maut-dan-cinta–mochtar-lubis-tak-sekadar-pengisah-perang–ia-pengkritik-kesewenangan-soekarno










