Beranda / Perempuan / Kemuliaan Perempuan Tidak Bergantung pada Feminisme

Kemuliaan Perempuan Tidak Bergantung pada Feminisme

jalanhijrah.com – Perdebatan mengenai kedudukan perempuan sering berangkat dari anggapan bahwa kemajuan harus terlihat melalui kesamaan peran dengan laki-laki. Akibatnya, sebagian orang mengukur kesetaraan dari pekerjaan, posisi sosial, hingga tanggung jawab yang serupa.

Namun, Islam menawarkan cara pandang yang berbeda. Kemuliaan seseorang tidak bergantung pada kemampuannya meniru peran orang lain. Sebaliknya, Islam menilai manusia melalui ketakwaan, tanggung jawab, serta kontribusinya dalam kehidupan.

Islam Memberikan Kedudukan Terhormat kepada Perempuan

Sejak awal, Islam memberikan hak yang jelas kepada perempuan. Mereka dapat menuntut ilmu, memiliki harta, menjalankan usaha, menyampaikan pendapat, serta berkontribusi di tengah masyarakat.

Selain itu, sejarah Islam mencatat banyak perempuan yang aktif dalam kehidupan sosial. Berbagai bidang seperti perdagangan, pendidikan, dan pelayanan kesehatan menjadi ruang kontribusi mereka.

Khadijah binti Khuwailid, misalnya, menjalankan aktivitas perdagangan dan memiliki posisi penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Sementara itu, Aisyah binti Abu Bakar menjadi salah satu rujukan ilmu dan periwayatan hadis. Dalam bidang kesehatan, Rufaidah Al-Aslamiyah turut memberikan pelayanan dan merawat korban perang.

Dengan demikian, sejarah menunjukkan bahwa Islam tidak menutup ruang bagi perempuan untuk berkembang dan berkarya.

Kesetaraan Tidak Harus Berarti Kesamaan

Persoalan muncul ketika masyarakat memahami kesetaraan sebagai kewajiban untuk membuat laki-laki dan perempuan menjalankan peran yang sama dalam seluruh bidang kehidupan.Padahal, keadilan tidak selalu berarti kesamaan.

Secara biologis, laki-laki dan perempuan memiliki sejumlah karakteristik yang berbeda. Selain itu, keduanya juga dapat memikul tanggung jawab yang tidak selalu identik. Meski demikian, perbedaan tersebut tidak menentukan siapa yang lebih mulia.

Justru, perbedaan memungkinkan laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi. Karena itu, Islam menempatkan hak dan kewajiban sesuai dengan tanggung jawab masing-masing. Dengan kata lain, keadilan tidak harus menghapus seluruh perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Peran Ibu Tidak Lebih Rendah dari Karier Profesional

Salah satu kemampuan khas perempuan ialah mengandung, melahirkan, dan menyusui. Melalui kemampuan tersebut, perempuan memiliki peran penting dalam membentuk generasi berikutnya.

Dalam keluarga, seorang ibu tidak hanya merawat anak. Ia juga menanamkan nilai, membangun karakter, serta membentuk cara pandang seorang anak sejak usia dini.

Sayangnya, sebagian masyarakat masih menganggap pekerjaan profesional lebih tinggi daripada aktivitas domestik. Padahal, keluarga menjadi lingkungan pertama bagi seorang anak untuk belajar tentang disiplin, tanggung jawab, nilai, dan moralitas.

Oleh sebab itu, peran seorang ibu memiliki pengaruh yang besar terhadap kualitas sebuah generasi. Kontribusi tersebut tidak semestinya dianggap lebih rendah hanya karena berlangsung di dalam keluarga.

Laki-Laki Juga Memiliki Tanggung Jawab Besar

Di sisi lain, Islam tidak hanya memberikan tanggung jawab kepada perempuan. Laki-laki juga memikul kewajiban besar dalam kehidupan keluarga.

Sebagai suami dan ayah, seorang laki-laki berkewajiban memenuhi kebutuhan keluarga, memberikan perlindungan, serta mendukung pendidikan dan kesejahteraan anggota keluarganya.

Lebih dari itu, laki-laki juga perlu terlibat dalam kehidupan rumah tangga. Rasulullah ﷺ memberikan teladan mengenai keterlibatan seorang suami dalam membantu keluarganya.

Dengan demikian, pembagian peran tidak berarti salah satu pihak memperoleh kebebasan sementara pihak lain menanggung seluruh kewajiban. Sebaliknya, laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki hak sekaligus tanggung jawab.

Perempuan Tetap Bisa Berkarya di Ruang Publik

Pembahasan mengenai keluarga tentu tidak berarti perempuan harus meninggalkan ruang publik.

Dalam praktiknya, perempuan dapat menjadi akademisi, pengusaha, tenaga kesehatan, pendidik, maupun berkontribusi dalam berbagai bidang lainnya. Selama memperhatikan nilai dan tanggung jawab yang berlaku, aktivitas tersebut tidak mengurangi kemuliaan seorang perempuan.

Pada saat yang sama, keberhasilan perempuan tidak harus selalu diukur berdasarkan kemampuannya menyaingi laki-laki.

Setiap orang memiliki bentuk kontribusi yang berbeda. Seorang perempuan dapat mengembangkan karier sekaligus menjalankan peran penting dalam keluarganya. Begitu pula sebaliknya, keterlibatan seorang laki-laki dalam pengasuhan anak tidak mengurangi kedudukannya sebagai laki-laki.

Hubungan Laki-Laki dan Perempuan Bukan Persaingan

Pada dasarnya, Islam tidak membangun hubungan laki-laki dan perempuan sebagai pertandingan untuk menentukan siapa yang lebih dominan.

Sebaliknya, keduanya dapat menjadi mitra yang saling melengkapi. Masing-masing memiliki kelebihan, tanggung jawab, serta ruang kontribusi dalam keluarga maupun masyarakat.

Karena itu, perempuan tidak perlu menjadi sama dengan laki-laki untuk mendapatkan penghormatan. Islam telah memberikan perempuan kedudukan, hak, serta kesempatan untuk memberikan kontribusi sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya.

Pada akhirnya, masyarakat tidak perlu menghapus seluruh perbedaan demi menghadirkan keadilan. Hal yang lebih penting ialah memastikan laki-laki dan perempuan memperoleh penghormatan, kesempatan untuk berbuat baik, serta perlindungan dari ketidakadilan.

Dengan demikian, kemuliaan seseorang tidak terletak pada jenis kelamin, jabatan, atau status sosialnya. Dalam Islam, ketakwaan dan kualitas amal menjadi ukuran yang lebih utama.

Tag: