jalanhijrah.com – Perkembangan teknologi digital membuka ruang belajar dan kreativitas yang semakin luas bagi anak. Namun, dunia digital juga membawa berbagai risiko. Karena itu, keluarga perlu mengambil peran lebih aktif dalam mendampingi anak.
Anak kini mudah mengakses media sosial, permainan daring, dan berbagai platform digital. Mereka juga menerima arus informasi dalam jumlah besar setiap hari. Dalam kondisi ini, orang tua tidak cukup hanya mengawasi dari kejauhan. Orang tua perlu hadir, berdialog, dan membantu anak memahami apa yang mereka lihat di internet.
Komunikasi Menjadi Kunci Pendampingan Anak
Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo menilai keluarga memegang peran penting dalam membentuk karakter anak. Keluarga juga memberi rasa aman ketika anak menghadapi masalah. Hubungan emosional yang baik membuat anak lebih terbuka kepada orang tua. Anak akan lebih mudah bercerita ketika mengalami hal yang tidak menyenangkan di dunia digital.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya mengandalkan larangan. Mereka perlu membangun komunikasi dua arah dengan anak. Orang tua juga perlu mengetahui platform yang digunakan anak. Mereka perlu memahami pola interaksi dan jenis konten yang sering anak konsumsi.
Pendekatan ini membantu orang tua mengenali risiko sejak awal. Orang tua kemudian dapat memberikan arahan dengan cara yang lebih tepat.
Literasi Digital Perlu Diajarkan Sejak Dini
Anak perlu memahami bahwa tidak semua informasi di internet benar. Mereka juga harus belajar menjaga data pribadi dan berhati-hati saat berinteraksi dengan orang lain. Orang tua dapat mengenalkan literasi digital melalui percakapan sederhana sehari-hari. Misalnya, orang tua dapat membahas cara mengenali berita palsu, menjaga kata sandi, atau memilih konten yang aman.
Anak juga perlu memahami jejak digital. Apa yang mereka unggah dapat bertahan lama dan memengaruhi kehidupan mereka di kemudian hari. Selain itu, orang tua perlu mengatur waktu penggunaan gawai. Penggunaan perangkat yang berlebihan dapat mengurangi interaksi langsung dalam keluarga.
Aturan penggunaan gawai sebaiknya berlaku secara konsisten. Orang tua juga perlu memberi contoh melalui kebiasaan digital yang sehat.
Media Sosial Bisa Memengaruhi Kepercayaan Diri
Media sosial memberi ruang bagi anak untuk berekspresi dan belajar. Namun, platform tersebut juga dapat menimbulkan tekanan sosial. Sebagian anak mulai mengukur penerimaan sosial melalui jumlah tanda suka, komentar, atau pengikut. Kebiasaan ini dapat memengaruhi rasa percaya diri.
Orang tua perlu membantu anak memahami bahwa nilai diri tidak bergantung pada respons pengguna media sosial. Anak juga perlu belajar menghadapi komentar negatif. Dukungan keluarga akan membantu mereka mengelola tekanan tersebut dengan lebih baik.
Regulasi Tidak Bisa Menggantikan Peran Keluarga
Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak atau PP Tunas. Aturan tersebut memperkuat kewajiban penyelenggara sistem elektronik dalam melindungi anak di ruang digital. Namun, regulasi hanya menjadi salah satu lapisan perlindungan.
Keluarga tetap memegang peran utama karena orang tua berinteraksi langsung dengan anak setiap hari. Mereka dapat mengenali perubahan perilaku, mendengar keluhan, dan memberikan arahan secara langsung. Karena itu, perlindungan anak tidak cukup hanya mengandalkan aturan dan fitur keamanan pada platform.
Keluarga Menjadi Benteng Pertama
Anak membutuhkan hubungan keluarga yang kuat untuk menghadapi tantangan dunia digital. Mereka juga membutuhkan komunikasi terbuka, pendidikan karakter, dan teladan dari orang tua. Keluarga sebaiknya tidak hanya berperan sebagai pengawas. Orang tua perlu menjadi pendamping yang membantu anak memahami risiko dan manfaat teknologi.
Dengan pendekatan tersebut, anak dapat menggunakan teknologi secara lebih sehat, aman, dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, keluarga tetap menjadi benteng pertama bagi anak. Teknologi dapat terus berubah, tetapi peran orang tua tetap menjadi dasar utama dalam membentuk ketahanan anak di ruang digital.









