Mampukah Pendekatan Humanis dalam Penanganan Aksi terorisme?

Jalanhijrah.com—Husein Hasni merupakan napiter yang ditangkap oleh densus 88 pada 29/03 silam di condet, Jakarta Timur. Perlu diketahui juga bahwa, Husein Hasni merupakan bagian dari Front Pembela Islam (FPI). Berdasarkan kartu identittas keanggotaannya, ia tercatat sebagai wakil ketua bidang jihad FPI.

Meskipun Husein mendekan di penjara, Pernikahan anakya harus tetap dilaksanakan. Pernikahan tersebut dilaksanakan di Rutan Polda Metro Jaya, Sabtu (14/5) lalu. Densus 88 menyiapkan segala keperluan pernikahan putri Habib Husein, Afiyah Husein, dengan Muhammad Annagib bin Zainal Arifin. Ijab kabul menggunakan bahasa Arab, dan Habib Husein juga diberikan kesempatan memimpin doa hingga tak kuasa menahan air matanya.

“Lega sekali, senang. Karena ini kan namanya anak ya kan, buah hati, hal yang dinanti-nanti. Suatu kebahagiaan yang tak terhingga. Ini anak pertama saya. Pertama kali saya mengadakan pernikahan. Ini sesuatu yang saya tunggu-tunggu sebetulnya. Ini kita ada di Polda Metro Jaya karena kenakalan saya. Pokoknya terima kasih sebesar-besarnya. Saya tidak dapat balas kebaikan daripada tim ini semua yang ada di sini,” ujar Husein, dilansir dari kompas.id

Apa yang dilakukan oleh aparat kepolisian beserta densus 88 tidak lain sebagai upaya alternatif untuk mengembalikan kepercayaan kepada napiter bahwa, anggapan tentang pemerintah tidaklah seburuk seperti apa yang dibayangkan sebelumnya. Tidak hanya itu, pelayanan yang diberikan oleh aparat juga menjadi salah satu langkah humanis dalam membuka ruang perdamaian bagi para napiter.

Baca Juga  Jalan Damai Wali Nusantara

Pendekatan humanis menurut perspektif psikologi

Abraham maslow, ilmuwan yang merumuskan hirarki kebutuhan manusia, mengemukakan pendapatnya tentang psikolog humanis. Menurut psikolog humanis, setiap orang memiliki keinginan yang kuat untuk merealisasikan potensi-potensi dalam dirinya untuk mencapai tingkatan aktualisasi diri. Berdasarkan hal itu, perlu kita ketahui bahwa, manusia ketika diperlakukan secara manusiawi, dipenuhi haknya, ia akan merasa bahwa dirinya dihargai dan diperlakukan secara manusia.

Hal itu juga sejalan dengan pandangan Gus Dur tentang humanisme. Menurut Gus Dur, wacana atau pemikiran yang digunakan untuk memberikan apresiasi secara luas terhadap segala hal yang baik dalam manusia ditambah perhatian pada kesejahteraan individu. Dengan demikian, konsep humanisme dalam kehidupan sosial sangatlah relevan diterapkan untuk menghargai keberadaan manusia dan memberikan ruang yang luas bagi seseorang dalam mengembangkan dirinya.

Dalam penanganan masalah, khususnya pada kasus terorisme, pendekatan humanis sangat mungkin untuk diterapkan sebagai upaya mengapresiasi perubahan perilaku yang awalnya dianggap menyimpang, kemudian berubah kepada perilaku yang lebih baik. Dengan demikian, pendekatan humanis sangat menjunjung kemanusiaan seseorang. Terlebih ketika orang itu berada di posisi yang salah, sikap menghargai dia sebagai manusia yang memiliki kebutuhan, masih tetap dipenuhi.

Teroris berlaku kasar, penanganannya tidak selalu dengan pembunuhan

Jika selama ini kita melihat bahwa penanganan terorisme selalu dibunuh, diteror dengan kekerasan, cara semacam itu cukup klasik. Sebab posisi mereka berada dalam ketakutan, ideologi ada pada ruang pemikiran. Dibunuh sekalipun, justru bukan merasa menyesal, melainkan merasa bangga atas kematian itu. Belum lagi dengan kebanggan para kader teroris yang lain. Pastinya, mereka cukup bangga karena menganggap bahwa kematian tersebut adalah syahid.

Baca Juga  Gagalnya U-20 di NKRI: Bukti Kedaulatan atau Menangnya Radikalisme?

Cara yang lebih elok yakni dengan pendekatan humanistik seperti yang dilakukan oleh pihak kepolisian serta Densus 88 dalam menangani kasus Husein Hasny. Husein Hasny secara sadarpun mengaku bahwa, perbuatannya selama ini adalah perilaku salah dan melanggar ketentuan hukum. Secara konteks keindonesiaan, bagi penulis, sosok Husein Hasny sudah memberikan ruang bagi dirinya untuk berefleksi tentang kesalahan dan perbuatannya selama ini.

Menariknya, kesadaran itu justru sejalan dengan apa yang ditunjang oleh para aparat untuk berkomitmen dalam memberikan pengayoman, serta memberikan ruang yang begitu terbuka atas kesempatan kepada Husein Hasny. Nyatanya, pendekatan semacam ini juga bisa dikatakan ampuh untuk melawan ideologi terorisme yang menyemai pada diri seseorang.

Ke depan, strategi perlawan teror melalui pendekatan humanis sangat bisa menjadi alternatif utama dalam penangan terorisme. Sebab secara kemanusiaan, tiap orang memiliki keinginan yang sama untuk diperlakukan seperti manusia, dihargai, di dengar pendapatnya, berbicara dan bercerita bagaimana kisah hidupnya hingga sampai pada pemahaman demikian.

Penulis: Muallifah  Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *