Menu

Mode Gelap

Perempuan · 21 Mei 2022 15:00 WIB ·

Asmah Sjachruni, Singa Podium Muslimat NU


					Asmah Sjachruni, Singa Podium Muslimat NU Perbesar

Jalanhijrah.com-Di tengah minimnya pembahasan tentang ketokohan perempuan Muslimat NU, terdapat sosok Ibu Asmah Sjachruni, perempuan yang sering disebut Singa Podium oleh sahabat-sahabat nya ketika ia bergelut di organisasi perempuan Muslimat NU maupun ketika ia memilih untuk menjadi anggota DPR RI.

Perempuan kelahiran 28 Februari 1927 di Rantau, Kandangan Kalimantan Selatan ini, berasal dari keluarga sederhana yang kuat memegang tradisi serta kuat akan pemahaman keagamaannya, khususnya Nahdlatul Ulama (NU). Di daerahnya, NU dianggap pas karena ajaran NU selalu mengikuti petunjuk Ulama dan tidak mengekang wanita. Itulah yang kemudian membuatnya yakin untuk aktif di Muslimat NU sejak tahun 1952, di usianya yang ke 25 tahun.

Sebagai anak pertama dari ke sembilan bersaudara, Asmach dari muda sudah terbiasa untuk membantu adik serta keluarganya untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada. Beruntungnya juga, Asmach mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR) selama 5 tahun di samping Ayahnya yang juga selalu mengajarkannya tentang Ilmu Fiqih dan Tauhid dasar. Termasuk salah satu pengajar di SR tersebut adalah Bibi nya sendiri yang seorang nasionalis tulen. Asmach dan Bibinya menyukai sastra, mereka sering bersyair bersama, syair itu berjudul Di Timur Matahari yang berbunyi Di Timur Matahari, Mulai Bercahaya, Bangun dan berdiri kawan semua, Marilah mengatur barisan kita, Pemuda pemudi Indonesia.

Nama Sjachruni ia dapat dari suaminya yang bernama Sjachruni, yang masih merupakan keluarganya juga. Kedua orang tua mereka dari pihak ayah mereka masih sepupu. Mereka menikah setelah 6 (Enam) bulan mereka bertunangan.

Sosok yang Gigih

Pada saat ia muda, adalah saat dimana pendidikan untuk perempuan dianggap sebelah mata, yang membuat perempuan sulit untuk mendapatkan hak dalam berpendidikan. Itu karena, Pertama, anggapan sebuah keluarga yang menganggap bahwa pendidikan itu tidak penting bagi anak perempuan. Kedua, tenaganya diperlukan untuk bekerja di sawah oleh karenanya perempuan harus segera dicarikan suami untuk menambah tenaga kerja untuk keluarga. Ketiga, adalah aib kalau perempuannya tidak segera menikah. Dan itu mungkin memang sengaja diciptakan oleh Bangsa Penjajah agar orang pribumi tidak maju dan berkembang. Sebaliknya, anak pejabat yang bekerja pada belanda diperbolehkan sekolah sampai MULO (sekarang SMA).

Baca Juga  Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

Tapi hal itu tidak berlaku bagi Asmah, sebagai pemuda pribumi yang ingin maju dia sangat teguh untuk mengenyam pendidikan di sekolah umum. Beruntung, kakeknya Iskandar yang seorang tokoh membuatnya mempunyai kesempatan untuk mengikuti kelas. Ketika dia kelas 4, Asmah mulai merasa memiliki pandangan yang tidak sama dengan orang tuanya. Pandangannya jauh ke depan, meski dia perempuan dia harus menikmati pendidikan. Memang pertentangan dari keluarga Sang ayah muncul karena masih menganggap tabu perempuan berpendidikan. Akhirnya Asmah lulus kelas lima pada usianya yang ke 14 tahun. Seusai menikah, Ashma menjadi guru. Peranannya sebagai guru tidak hanya sebagai panggilan nurani untuk mengajar dan memberantas kebodohan, namun juga dipakai untuk menjadi penghubung antara pasukan di pedalaman dan orang-orang kota.

Berjuang di Muslimat NU

Setelah melakukan perjuangan panjang, akhirnya Muslimat NU diterima dengan suara bulat pada tanggal 19 Maret 1946 saat Muktamar NU di Purwokerto. Kelahiran Muslimat NU merupakan bentuk kepedulian Ulama Perempuan Nahdlatul Ulama yang berasal dari kalangan pesantren juga tidak kalah dengan pejuang-pejuang perempuan Indonesia lainnya.

Sosok Asmach Sjachruni hadir di lingkungan Pengurus Pusat (PP) sejak Kongres Muslimat NU di Solo tahun 1962. Namanya Ny. Mahmudah Mawardi perempuan kuat yang sudah 28 tahun memimpin Muslimat NU (1952, 1956, 1959, 1962, dan 1967). Ny Mahmudah meletakkan jabatannya pada Kongres Muslimat di Semarang tahun 1979, dan Asmah Sjachruni menggantikannya pada periode selanjutnya.

Baca Juga  Liciknya Buzzer: Berlindung Di Bawah Demokrasi, Menyebarkan Ujaran Kebencian

Asmah membawa Muslimat NU pada organisasi perempuan Muslimah yang tegas, dia mempunyai motto: Jangan meminta jatah atau keistimewaan karena kodrat perempuan kita. Tapi kita harus menuntutnya jika memang layak untuk kita. Jadi, ada perjuangan. Kalau perlu kita rebut posisi itu dengan argumentasi yang tepat. Itu namanya berjuang. Jangan sekali-kali berharap diberi. Tak bakalan wanita akan diberi hak-hak yang lebih tinggi oleh kaum pria.

Menjadi Anggota Parlemen

Menjadi Pimpinan Muslimat NU sekaligus menjadi anggota parlemen memang banyak mendatangkan manfaatnya. Suami juga ikut pindah ke Jakarta demi memberikan dukungan penuh terhadap Asmah. Akses yang dimiliki Asmah dipergunakan penuh untuk kepentingan Muslimat dan masyarakat. Ia membentuk Yayasan Kesejahteraan Muslimat (YKM) yang bergerak di bidang sosial.

Rapat-rapat di DPR dulu juga ada yang hingga larut malam. Terutama panitia anggaran. Karena rumahnya dekat, hal itu tidak menjadi masalah. Asmah biasanya diantar dan dijemput suaminya dengan menaiki Becak. Maklum, saat itu DPR masih miskin dan tidak ada jatah mobil. Gaji sekitar Rp 1.050 yang dipotong untuk organisasi, buat Muslimat dan juga buat NU.

Peristiwa G 30 S/PKI membuat situasi politik kacau balau. Hingga akhirnya Asmah dan KH Ahmad Widjaja ditunjuk sebagai perwakilan dari Fraksi NU sebagai juru bicara. Sidang istimewa MPRS di tengah situasi politik memanas tahun 1965. Pidato yang disampaikannya antara lain meminta pertanggungjawaban Bung Karno terhadap peristiwa tersebut. Dan dinilai pidato dari Asmah lah yang paling menukik tajam dari pada fraksi-fraksi yang lain. Hingga julukan “Singa Podium” yang sering diberikan orang untuknya.

Baca Juga  NU, Makna Sabilillah dalam Distribusi Zakat, dan Fatwa Tentara Perempuan

Meski lahir dari keluarga sederhana, sosok Asmah dengan kegigihannya belajar dari kecil hingga ia menjadi pucuk pimpinan Muslimat juga sebagai anggota Dewan menunjukkan betapa hidup seorang Asmah Sjachruni memang digunakan untuk mengabdikan diri kepada Muslimat dan Masyarakat kecil. Keadaan yang tidak serba hedon tidak membuatnya mengeluh dan berhenti atas ketidakstabilan keadaannya. Ia justru bangkit dan menginspirasi banyak perempuan-perempuan Muslimat NU untuk tidak berdiam diri, namun justru berjuang melawan ketidakadilan melalui organisasi Nahdlatul Ulama.

Asmah Sjachruni di Mata Gus Sholah

Ibu Asmah memulai karir betul-betul dari bawah. Beliau tidak berasal dari keluarga yang mempunyai nama besar. Jadi dapat dikatakan bahwa keberhasilan yang diraihnya adalah betul-betul mengandalkan dirinya sendiri. Bu Asmah menjadi pimpinan Muslimat Nu di usia yang relatif muda pada 25 tahun.

Para kader sudah semestinya meniru jejak Ibu Asmah yang pendidikan formalnya tidak tinggi tetapi bisa menunjukkan bahwa Islam pada dasarnya tidak menghambat kemajuan perempuan. Latar belakang sosial budaya dan tingkat pendidikanlah yang menimbulkan penafsiran yang kurang mendukung untuk kemajuan Muslimat.

Tokoh Muslimat masa kini, tentu harusnya bisa lebih leluasa dan lebih kaya wawasan dalam memberikan penafsiran yang sesuai dengan konteks zaman, tanpa harus meninggalkan esensi pesan Al quran dan Hadis Nabi.

Penulis: Pegiat Konten Keislaman dan Keindonesiaan,

Artikel ini telah dibaca 13 kali

Baca Lainnya

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur

Aisyah binti Sa’ad, Putri Pendekar Islam

25 Januari 2023 - 10:00 WIB

Aisyah binti Sa’ad, Putri Pendekar Islam
Trending di Perempuan