Menu

Mode Gelap

Perempuan · 23 Nov 2021 15:00 WIB ·

Ketika Mata Laki-Laki Bernama Imam Syafi’i Membaca Perempuan


					Ketika Mata Laki-Laki Bernama Imam Syafi’i Membaca Perempuan Perbesar

Jalanhijrah.com-Saat penulis belajar Metodologi Hukum Islam (usul fikih), tepatnya pada semester enam. Penulis merasa terkesima dengan penjelasan dosen yang begitu memakau. Beliau menerangkan bahwa pencetus ilmu ini, yaitu Imam Syafi’i dengan karyanya yang berjudul ar-Risalah pernah ditanya oleh seseorang, “Wahai Imam apa hukuman jika membunuh orang?”

Sang Imam pun menjawab bahwa membunuh orang adalah perbuatan haram yang dilarang agama, yang pelakunya tidak dimaafkan dan akan dimasukan kedalam neraka.

Beberapa hari kemudian ada orang yang bertanya lagi kepada Imam Syafi’i tentang pertanyaan yang sama. Kemudian Imam Syafi’i menjawab bahwa membunuh adalah perbuatan dosa, akan tetapi pelakunya bisa mendapatkan ampunan tuhan apabila bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Murid Imam Syafi’i pun terheran-heran dengan gurunya ini, bagaimana mungkin pertanyaan yang sama dijawab dengan dua jawabanya berbeda. Yang satu pelakukanya tidak akan dimaafkan dan dimasukan kedalam neraka sedangkan yang satunya bisa mendapatkan ampunan.

Kemudian Imam Syafi’i menjawab, “Wahai muridku taukah engkau bahwa orang pertama yang menanyakan ini sedang menaruh dendam dan ingin melakukan pembunuhan. Makanya saya jawab dengan tegas bahwa pelaku pembunuhan tidak akan dimaafkan dan akan dimasukkan dalam neraka. Dengan jawaban ini semoga orang itu tidak akan melakukan pembunuhan.”

Sedangkan orang kedua yang menanyakan ini adalah orang yang pernah membunuh orang, sehingga saya jawab bahwasanya pelaku pembunuhan akan tetap mendapatkan ampunan asalkan mau bertaubat dengan sungguh-sungguh. Semoga dengan jawaban ini dia mau bertaubat dan mengerti bahwasanya ampunan Allah itu maha luas.

Kemudian Muridnya bertanya lagi, Wahai guru dari mana engkau bisa mengetahui hal itu, maka Imam Syafi’i menjawab saya melihat dari sorot matanya.

Ternyata dalam memberikan fatwa ini, Imam Syafi’i tidak hanya menggunakan pendekatan ilmu fikih saja akan tetapi juga menggunakan Ilmu firasat, yaitu suatu ilmu yang digunakan untuk membaca kharakter seseorang dengan melihat anggota tubuhnya.

Baca Juga  Hukum dan Cara Menjawab Stiker Salam Di Whatsapp

Walaupun cerita mengenai ilmu firasat ini mashyur akan tetapi Imam Syafi’i tidak membukunya dalam sebuah buku. Imam Syafi’i hanya membukukan ilmu yang berkaitan dengan agama saja, seperti kitab al-Um dan ar-risalah.

Sedangkan ulama yang membukukan ilmu firasat ini adalah Imam ar-Razi dalam dalam kitabnya yang berjudul “Al-Firasat Daliluka Ila Makrifatil Ahlakinnas”. Dalam dunia modern ilmu firasat dinamakan dengan ilmu Fisiognomi.

Yang lebih menarik adalah ada naskah nusantara yang mencatat secara apik mengenai ilmu firasat Imam Syafi’i ini. Penulis menemukan ada dua naskah yang merekam ilmu firasat Imam Syafi’i ini. Naskah pertama dengan judul “Wirasat Sapi’i” dan naskah kedua berjudul “Pirasating Sujalma Miwah Katurangganing Wanita”.

Naskah pertama ini merupakan koleksi Perpustakaan Nasional, dengan nomor panggil Br 8. Naskah ini menggunakan bahasa Jawa dan beraksara Arab-Pegon. Dalam naskah ini bisa kita temukan ilmu firasat Imam Syafi’i untuk mengetahui kharakter seseorang, baik itu perempuan ataupun pria.

Naskah ini memberikan informasi yang cukup detil mengenai kharakter seseorang dilihat dari wajahnya. Ada delapan Aspek dalam wajah yang perlu dicermati untuk bisa menilai kharakter seseorang yaitu bentuk kepala, rambut, dahi, alis, telinga, mata, hidung dan bibir. Setiap bentuk dari delapan aspek ini akan menunjukan kharakter yang berbeda.

Agar lebih mudah penulis sajikan salah satu aspek dari delapan wajah tersebut, yaitu aspek hidung.

  1. Hidung panjang menunjukan bahwa seseorang tersebut memiliki watak yang tidak karuan (irung kang pinur cita, wong kadewan irung, tanda budine belasar)
  2. Hidung tebal menunjukan bahwa orang tersebut bintar bercerita dan memainkan retorika kata-kata (irung kandel ing antara kang ireki tandane sugih cerita)
  3. Hidung lebar menandakan bahwa orang tersebut suka khawatir (irung jembar lang-langan nireki)
  4. Hidung agak menjorok kedalam menunjukan bahwa orang tersebut senang dalam syahwat (irung kalungsur asing ing sahwat)
  5. Hidung yang lebar ujungnya (mancung) menunjukan bahwa orang tersebut suka berbohong (irung kang jembar pucuke, iku tanda gadebus.
  6. Hidung yang berukuran sedang menunjukan orang tersebut memiliki perilaku yang baik (irung sedeng pertanda becik)
Baca Juga  Polwan Indonesia Pelopor Kesetaraan Gender?

Sedangkan naskah kedua merupakan koleksi dari Perpustakaan Museum Kirti Griya Taman Siswa Yogyakarta dengan nomor panggil MTS.DKG.Bb.1073. Naskah ini ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa Krama dan dengan menggunakan aksara Jawa.

Dalam naskah ini diceritakan banyak kisah tentang Imam Syafi’i dalam menerapkan ilmu firasatnya. Di antaranya Imam Syafi’i bisa menjelaskan dua anak dari seorang perempuan, bahwa anak perempuan tersebut yang satu adalah hasil pernikahan yang sah dan yang satunya adalah sebab zina. Dalam naskah ini juga diceritakan ketika Imam Syafi’i sempat merasa bimbang karena ilmu firasat yang dimiliki meleset untuk mengetahui kharakter seseorang akan tetapi pada akhirnya memang benar bahwa Ilmu firasat Imam Syafi’i itu tepat.

Menurut hemat penulis bahwa ilmu firasat itu berasal dari ilmu titen atau ilmu pengamatan dengan menggunakan landasan kaidah fikih al-Adah muhakkamah(Adat bisa dijadikan hukum). Artinya ilmu ini telah diterapkan kepada banyak orang sehingga muncul suatu kesimpulan atau adat bahwa orang yang memiliki hidung panjang akan memiliki kharakter ini dan yang memiliki hidung pendek akan memiliki kharakter itu.

Dalam naskah ini diterangkan bahwa untuk mengetahui kharakter seseorang harus diperhatikan 18 aspek, berbeda dengan naskah pertama yang hanya menyebutkan delapan aspek saja. Kedelapan belas aspek ini adalah dimulai dari bentuk kepala, rambut, bulu, dahi, alis, telinga, mata, hidung, bibir, gigi, dagu, suara, jenggot, leher, bahu, dada, perut, serta betis.

Hal ini menunjukan bahwa naskah kedua memberikan informasi yang lebih komprhensif dalam menerangkan ilmu firasat daripada naskah yang pertama. Dalam naskah kedua ini juga ditambah ilmu firasat untuk mengetahui kharakter seorang perempuan.

Baca Juga  Kafa’ah Sebagai Bentuk Keadilan untuk Perempuan

Bahkan bisa dikatakan naskah ini cukup informatif dalam mengabarkan kharakter kaum Hawa ini, tentu saja ya, informasi ini dari sudut pandang laki-laki yang bisa dinilai amat misoginis (Imam Syafi’i laki-laki bukan?). Hal ini karena naskah ini menyajikan lebih dari tiga puluh aspek untuk mengetahui kharakter perempuan.

Sebagaimana contoh naskah ini menuliskan:

“Yen kuning pawakanipun, akas rema tur apanjang, ing pucuk lemes tur dadi, dhasar aking sakunira, punika estri kinaot, abener pangucap ira, iku wong estri srepen, ing candranipun pinunjul, ingaran retna kencana”

Terjemahan

“Kalau kuning badanya, rambut panjang dan lurus serta dipucuknya lembut dan pekat, kakinya kurus kecil itu istri yang baik yang diucapkan selalu berupa pengetahuan yang benar memiliki kelebihan yang disebut mutiara kencana.

Dalam halaman 30 naskah ini juga menerangkan bahwa perempuan yang mempunyai kulit putih banyak bicaranya serta memiliki rambut lurus dan panjang menunjukan bahwa kharakter perempuan yang banyak mendatangkan kenikmatan, banyak dikeberkahi tuhan serta khusuk dalam beragama.

Dan masih banyak aspek-aspek lainnya dalam naskah ini yang menggambarkan secara jelas kharakter perempuan. Bahkan dalam salah satu kitab yang berjudul “Fathul Izar”, wajah perempuan pun juga menunjukan bagaimana organ intimnya. Dalam kitab tersebut ditulisakan:

“Para ahli firasat berkata bila mulut seorang wanita lebar maka besar pula organ intimnya. Bila mulutnya kecil begitupun juga dengan organ intimnya. Bila kedua bibir wanita tebal maka tebal pula bibir organ intimnya.”

Dalam budaya patriarkis-misogonis, cukuplah laki-laki dengan bermodal ilmu ini untuk memilih perempuan yang mau dijadikan istrinya. Tapi apakah ilmu ini masih masuk akal sekarang? Apakah ilmu ini menghormati hak-hak perempuan untuk menerima atau menolak laki-laki, bahkan menolak “kodrat” perempuan menjadi istri seperti Rabiah al-Adawiyah?

Ahmad Khalwani https://alif.id/read/akh/ketika-mata-laki-laki-bernama-imam-syafii-membaca-perempuan-b223414p/

Artikel ini telah dibaca 20 kali

Baca Lainnya

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur

Aisyah binti Sa’ad, Putri Pendekar Islam

25 Januari 2023 - 10:00 WIB

Aisyah binti Sa’ad, Putri Pendekar Islam
Trending di Perempuan