Beranda / Perempuan / Kartini, di Antara Soekarno dan Pengakuan Pram

Kartini, di Antara Soekarno dan Pengakuan Pram

Pada saat remaja atau dewasa, Soekarno pasti mengenal nama Kartini. Ia tumbuh dalam arus pemikiran modern dan pergolakan pemikiran. Soekarno memiliki daftar nama dalam rujukan pengetahuan dan tindakan-tindakan dalam berpolitik. Kita menduga Kartini masuk dalam daftar nama berpengaruh dalam perubahan-perubahan nasib tanah jajahan.

Soekarno membuat tulisan berjudul “Kongres Kaoem Iboe”. Tulisan menjelang hajatan besar kaum perempuan di Jogjakarta, 1928. Soekarno mengingatkan: “Adat istiadat jang berabad-abad, adat-istiadat jang soedah menjoeloer akar itoe, menjebabkan jang banjak kaoem iboe bangsa kita tak memikirkan soal kenaikan deradjat, malahan ada jang memoesoehi oesaha menaikkan deradjat itoe: hamba jang bernama kaoem iboe itoe adalah banjak jang tak insjaf akan penghambaan sendiri…” Kalimat mengingatkan biografi dan pemikiran Kartini bertumpu adat istiadat dan modernitas.

Di tulisan panjang, Soekarno membahas gerakan perempuan di pelbagai negara berbeda zaman. Ia pun mencantumkan nama para tokoh perempuan. Di situ, kita tak membaca nama Kartini. Soekarno mungkin lupa atau sengaja tak memberi ruang kehadiran Kartini. Di akhir tulisan, Soekarno menulis tentang Indonesia dan gamelan.

Dulu, Kartini pun mengisahkan gamelan dalam citarasa Jawa saat memasuki zaman “kemadjoean”. Soekarno dalam curah perasaan berbeda: “Gamelan Indonesia berboenji kembali, berboenji dalam pendopo Indonesia dan melagoekan persatoean Indonesia, pada waktoe boelan poernama raja, penoeh dengan baoe boenga dan kembang jang haroem. Indonesia piatoe soedah ber-iboe kembali.” Pada suatu masa, Kartini dalam lagu mendapat pengakuan: “ibu kita”. Kartini itu “putri sejati”. Indonesia beribu Kartini.

Kita membuka buku berjudul Kartini: Pribadi Mandiri (1990) susunan Haryati Soebadio dan Saparinah Sadli. Kartini dikenang dan ditafsir setelah seabad. Kita diajak menilik silam: “… berasal dari kalangan bangsawan, Kartini tidak buta terhadap berbagai kepincangan sosial yang terjadi. Sesuatu yang memang diharapkan dari seorang dalam kedudukan itu, tetapi di zamannya tidak diharapkan dari seorang perempuan.” Kartini dalam zaman penuh “larangan”, “tabu”, dan “kemustahilan” untuk tampil mengajukan pengetahuan dan menentukan tindakan.

Kartini menggugat dengan sadar keterbatasan dan benturan. Tafsir setelah situasi Indonesia berubah, berjarak dari lakon Kartini pada akhir abad XIX: “…. Kartini muncul sebagai gadis-kabupaten yang berkeras hati untuk tidak menerima kondisi hidup yang tidak memperlakukan perempuan sebagai manusia yang dapat berpikir dan mempunyai perasaan seperti setiap manusia lain.” Tafsiran itu mengingatkan tulisan Soekarno (1928) meski tak ada kegamblangan bereferensi Kartini. Soekarno sudah mengajukan tafsir dan seruan meski ia berlebihan dalam menampilkan persamaan dan perbedaan antara kaum perempuan (ibu) dan kaum lelaki (bapak) berlatar abad XX.

Ikhtiar menjadi perempuan “modern” terjerat dilema dan tragedi. Kartini menginginkan perubahan dan raihan peran tapi menanggungkan derita. Sitisoemandari Soeroto dalam buku berjudul Kartini: Sebuah Biografi (1977) membahasakan “tragik Kartini”. Ia menjelaskan benturan dan kejatuhan berkaitan pendidikan dan identitas: “Dalam satu saat khilaf, Kartini melepaskan rencana hidup yang telah dirintis hampir 10 tahun lamanya. Cita-citanya yang telah memenuhi seluruh jiwanya sekonyong-konyong dicabut dari akar-akarnya, maka dengan sendirinya meninggalkan luka-luka yang tak tersembuhkan lagi.”

Kita turut mengingat Kartini dan sekolah. Pada awal abad XX, situasi di tanah jajahan perlahan berubah. Kartini pamitan tapi jejak-jejak biografis dan pemikiran berpengaruh dalam kehadiran kaum perempuan di sekolah-sekolah. Kita tak usah menuntut warisan Kartini diartikan dengan penamaan Universitas (Nasional) Kartini atau penamaan penghargaan (tertinggi) dalam capaian pengetahuan bagi kaum perempuan atas kewenangan negara.

Penghormatan besar justru diberikan Pramoedya Ananta Toer dengan buku berjudul Panggil Aku Kartini Saja (1962). Pada masa 1960-an, buku itu sengat atas nasib perempuan di arus revolusi dan sengketa ideologi. Pram mengajukan tafsir dan “pengesahan” dengan kadar tinggi ketimbang Soekarno, sejak masa 1920-an sampai 1960-an. Pram seolah “juru bicara” terbesar dalam meresmikan pengaruh Kartini dalam arus sejarah Indonesia.

Kartini itu pengarang. Pram menafsir kehendak Kartini: “Kepengarangan adalah tugas sosial.” Kartini tak bergelar akademik dan gagal berada di jenjang pendidikan tinggi. Ia malah sanggup tampil sebagai pemikir melalui tulisan-tulisan. Kesadaran tugas sosial itu mengacu “kewajiban-kewajiban” terhadap nasib kaum terjajah. Kita mengandaikan segala ujian Pram itu kelak menghasilkan album lengkap tulisan-tulisan Kartini. Ia datang dan berpengaruh duluan ketimbang Soekarno. Tulisan-tulisan bisa terbit dengan judul “Di Bawah Bendera Kemajuan”.

Pada abad XXI, peringatan Hari Kartini perlahan sekadar ucapan-ucapan dan lomba-lomba “picisan”. Kita makin jarang mengetahui persembahan tulisan-tulisan untuk mengesahkan garis-garis warisan gagasan di arus zaman berbeda. Kesibukan dalam peringatan diatasnamakan Kartini kadang menjauh dari usaha-usaha para penafsir Kartini bermaksud memuliakan dan “mengultuskan”. Peringatan-peringatan berulang tanpa bara dan gairah justru menerbitkan klise-klise. Begitu.