jalanhijrah.com- Sekelompok warga Israel mendatangi perbatasan Gaza dengan tujuan menekan pemerintah agar membangun permukiman baru di wilayah tersebut. Mereka secara terang-terangan juga menyuarakan desakan agar warga Palestina di daerah itu dipaksa keluar. Daniella Weiss, tokoh pendiri kelompok pemukim ekstrem, menyatakan kesiapannya untuk segera menetap di Gaza.
“Hari ini, seribu keluarga siap berbaris dan pindah sekarang juga. Karena kondisi saat ini, mereka bersedia tinggal di tenda. Kami siap bersama anak-anak kami untuk segera menempati wilayah Gaza,” kata Weiss sebagaimana dikutip NU Online dari video Al-Jazeera pada Jumat (1/8/2025).
Kelompok tersebut tampak mengabaikan kerusakan besar yang telah ditimbulkan oleh Israel di wilayah Gaza. Mereka secara terbuka menyerukan pengusiran terhadap dua juta penduduk Palestina dari daerah itu.
“Jika Anda membicarakan negara Palestina, maka negara Anda adalah Palestina sendiri. Anda tidak bisa mengubah Israel menjadi negara Palestina,” ujar Daniella Weiss.
Sementara itu, Nurit Dahan, warga Israel asal Bat Yam, mengklaim bahwa Gaza merupakan bagian dari Israel dan menyatakan niatnya untuk merebut wilayah tersebut kembali.
“Gaza adalah bagian dari Israel, milik bangsa Yahudi. Musuh telah merampas tanah kami, dan kini mereka harus mengembalikannya,” ujar seorang warga.
Di sisi lain, Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, mengutip pandangan para ahli internasional bahwa kondisi kelaparan terburuk kini benar-benar telah melanda Gaza. Ia menegaskan bahwa krisis ini sepenuhnya disebabkan oleh tindakan manusia.
“Wilayah Gaza telah melewati ambang kelaparan. Wabah kelaparan dan kekurangan gizi menyebar luas, termasuk di kalangan anak-anak. Lebih dari 100 jiwa telah meninggal akibat kelaparan hanya dalam beberapa minggu terakhir,” tulisnya dalam unggahan di akun X pribadinya.
Lazzarini menegaskan bahwa satu-satunya solusi untuk mengatasi bencana kemanusiaan di Gaza adalah dengan mengalirkan bantuan dalam jumlah besar secara terus-menerus.
“Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk @UNRWA, memiliki kapasitas dan sumber daya yang memadai. UNRWA saja sudah menyiapkan bantuan setara 6.000 truk berisi makanan dan obat-obatan yang siap dikirim ke Gaza. Izinkan kami menjalankan tugas kami tanpa hambatan, dengan aman dan penuh martabat,” ujarnya menutup pernyataan.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa penduduk Gaza tengah mengalami kondisi kelaparan yang nyata.
Pada Senin, Trump secara terbuka membantah klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang sebelumnya menyebut kabar kelaparan di Gaza sebagai propaganda Hamas.
Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat bersama para sekutunya akan membangun pusat distribusi makanan di wilayah tersebut.
“Kita akan kirimkan makanan bergizi dan menyelamatkan banyak nyawa. Anak-anak di sana benar-benar mengalami kelaparan. Kita harus beri makan mereka,” katanya dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, seperti dilansir TRT Global.
Sebelumnya, AS juga telah membentuk Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah lembaga bantuan kontroversial yang beroperasi di wilayah yang masih diblokade.
GHF dibentuk sebagai jalur alternatif dari distribusi resmi PBB, namun mendapat kecaman karena disebut sebagai “jebakan maut”, di mana tentara Israel dilaporkan menembaki warga Palestina kelaparan yang berusaha mengambil bantuan.









