Beranda / News / Festival Beda Setara: Upaya Menggugah Anak Muda tentang Isu Keberagaman

Festival Beda Setara: Upaya Menggugah Anak Muda tentang Isu Keberagaman

Naswa bukan main terkejut. Musababnya adalah berbagai artikel yang tuntas dibacanya dalam pameran di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta, Rabu 13 November 2024.

Pameran di sebelah kiri panggung utama memang menampilkan beragam fakta yang terjadi dan dialami sejumlah rumah ibadah yang ada di Indonesia melalui artikel-artikel pilihan.

Beberapa di antaranya masjid Ahmadiyah yang disegel dan membuat trauma anak-anak hingga perjuangan umat Hindu di Gorontalo dalam mendirikan Pura. Ada pula bom waktu intoleransi di Aceh.

“Saya baru tahu ada berita-berita ini. Ternyata ada diskriminasi pada agama lain misalnya izin tempat beribadah sampai penyegelan yang membuat trauma anak-anak,” ungkap mahasiswi UIN Sunan Kalijaga itu.

“Yang saya tahu selama ini baik-baik saja.”

Gadis 19 tahun itu mengaku selama ini tak pernah berinteraksi langsung dengan agama lain. Selain selama ini dia hanya tahu bahwa Indonesia memiliki lima agama dia juga tak menyangka masih terdapat diskriminasi pada rumah ibadah agama lain.

Bukan hanya Naswa yang terbuka matanya dengan yang terjadi di negeri ini. Nova, juga mengalami hal yang sama. Kali ini tentang diskriminasi yang dialami para penghayat kepercayaan yang semestinya sebagai warga negara punya hak yang sama untuk menjalankan kepercayaanya.

“Film ini cukup menggugah kesadaran anak muda untuk ikut terlibat menyuarakan isu keberagaman ini” ujarnya.

Film yang dimaksud adalah Atas Nama Percaya yang diputar malam itu. Film ini menceritakan tentang aliran kepercayaan yang ada di beberapa sudut Indonesia. Di antaranya aliran kepercayaan lokal Marapu yang berkembang di Sumba, Nusa Tenggara Timur dan aliran kebatinan Perjalanan yang tumbuh di Cianjur, Jawa Barat.

Film ini mengajak penonton melihat perjalanan panjang kelompok penghayat kepercayaan atau penganut agama leluhur untuk bertahan dari tekanan, berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari negara, dan penerimaan dari masyarakat.

Pergelaran Festival Beda Setara atau Best Fest, yang diselenggarakan selama tujuh hari di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta memberikan sebuah pemahaman baru pada para pengunjungnya tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) di negeri ini.

Acara yang digelar dalam rangka memperingati hari Toleransi Internasional ini mengangkat tema “Menegakkan Kesetaraan untuk Kemanusiaan” dikemas dalam simposium, pameran bestari, bioskop rakyat, learning forum, fun walk, dan puncak acaranya adalah Peringatan Haul ke-15 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) yang diangkat sebagai tema besar yang diusung karena masih banyaknya persoalan terkait pendirian rumah ibadah dan pelanggaran kebebasan beragama di akar rumput. Keberpihakan pada keragaman inilah yang terus disuarakan Gusdurian dengan membangun kolaborasi dan jejaring dengan berbagai pihak, termasuk melalui pergelaran festival.

Koordinator Seknas Jaringan Gusdurian, Jay Akhmad menekankan bahwa untuk memperjuangkan hak konstitusi, pemerintah dan masyarakat sipil harus bekerja sama demi terciptanya moderasi beragama yang menjunjung tinggi keberagaman.

Penyelenggaraan festival ini ditujukan sebagai ruang dialog yang diharapkan dapat mendorong advokasi KBB di tingkat akar rumput. Selain itu, diharapkan masyarakat dapat lebih terbuka dalam menanggapi isu keberagaman dan turut serta dalam mendukung hak-hak konstitusional setiap warga negara dalam hal kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Dialog Sambil Kulineran

Dalam tahun ini festival tersebut dikemas dalam bentuk “Pasar Bestari,” yang memperkenalkan keragaman kuliner sekaligus menjadi wadah dialog antarwarga. “Jadi, bukan sekadar tempat membeli dan pergi, tetapi tempat berdiskusi dan bercengkerama seperti dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Jay Akhmad.

Acara ini melibatkan masyarakat umum, tidak hanya dari Yogyakarta, tetapi juga dari berbagai daerah lain. Walhasil di sana beragam jenis makanan pun hadir. Di sebelah kanan panggung budaya tepatnya di Taman Peradaban dipenuhi deretan tenda dari bambu yang menjajakan berbagai kuliner khas Indonesia.

“Pasar adalah tempat bertemunya orang dari berbagai latar belakang. Di sini, kami ingin menyampaikan pesan bahwa pasar bukan hanya ruang transaksional, tapi juga ruang dialog bagi mereka yang berbeda,” katanya.

Sejumlah pengunjung tampak menikmati kuliner dan sebagian membentuk kelompok diskusi yang membahas kebebasan beragama mereka saling berbagi pengalaman selama berkawan dengan orang yang berbeda agama.

Di pasar ini, setiap transaksi membeli produk-produk ini dipusatkan pada kasir. Tak cuma itu, setiap transaksi tidak ada kantong plastik untuk bahan pembungkus makanan. Kegiatan ini mengangkat konsep eco green. Setiap pengunjung diminta membawa tumbler untuk mengurangi sampah plastik.

Pasar Bestari bukan sekadar tempat transaksi, di tengah pasar sekelompok mahasiswa tengah bermain ular tangga keberagaman, permainan modifikasi ular tangga klasik dengan beragam pertanyaan tentang keragaman.

Selain pasar kuliner, acara ini juga diisi dengan pameran yang menyoroti kondisi rumah ibadah di Indonesia. Pameran ini tidak sekadar menampilkan karya seni, tetapi juga menyampaikan pesan penting bahwa rumah ibadah, sebagai simbol toleransi dan keberagaman, masih menghadapi berbagai tantangan.

Jay berharap dengan melihat langsung potret rumah ibadah dari berbagai daerah, pengunjung dapat memahami situasi yang sebenarnya dan tergugah untuk mendukung hak konstitusi beragama bagi seluruh warga negara.

“Kami ingin agar masyarakat menyadari bahwa isu keragaman tidak hanya soal kerukunan, tapi juga soal penegakan hak konstitusional setiap warga negara,” jelas Jay.

Menurut Jay, festival ini bukan solusi instan bagi permasalahan keberagaman, melainkan sebuah kampanye yang berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat.

“Kami berharap, masyarakat akan membicarakan isu ini: apa itu KBB, hak konstitusi, dan masalah rumah ibadah yang masih kerap menjadi sengketa. Kami ingin ini menjadi ruang refleksi bagi pemerintah dan masyarakat untuk melihat persoalan keberagaman dan kebebasan beragama, serta menemukan strategi yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Sumber: https://arina.id/berita/ar-9fxWO/festival-beda-setara–upaya-menggugah-anak-muda-tentang-isu-keberagaman