Beranda / Taubat / Khutbah Jumat: Hindari Kemunafikan, Ucapan Tak Sesuai Perbuatan

Khutbah Jumat: Hindari Kemunafikan, Ucapan Tak Sesuai Perbuatan

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُصَلُّونَ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mengawali khutbah ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yakni menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Di antara perintah Allah yang dipesankan kepada Rasulullah untuk umatnya adalah agar kita senantiasa berhati-hati dan menjaga lisan kita serta membersihkan hati kita dari sifat-sifat tercela. Mari kita hindari perbuatan berkata namun dusta, berjanji namun mengingkari, dan diberi amanat namun khianat. Semua itu merupakan ciri dari orang munafik.

Dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan:

آيَة الْمُنَافِق ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اُؤْتُمِنَ خَانَ

Arinya: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu (1) ketika berbicara ia dusta, (2) ketika berjanji ia mengingkari, dan (3) ketika ia diberi amanat ia berkhianat).”

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Abdurrahman Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Kitab Jami’ al-Ulum menjelaskan bahwa munafik secara bahasa adalah bagian dari penipuan, berbuat licik, dan menunjukkan perbuatan yang berbeda dari yang sebenarnya. Ia membagi munafik menjadi dua jenis yakni pertama munafik secara aqidah yakni golongan orang yang mengaku beriman namun mengingkari sebagian atau seluruh ajaran Islam.

Kedua adalah munafik secara perbuatan, yaitu seseorang yang menunjukkan perilaku baik namun sebenarnya menyimpan sifat sebaliknya. Seperti orang yang sering berdusta, sering mengingkari janji, sering berkhianat, dan sejenisnya.

Sifat munafik identik dengan sifat hipokrit atau senang berpura-pura dan oportunis atau suka memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan sendiri. Kemunafikan adalah penyakit hati yang berbahaya dan dapat merusak kehidupan pribadi dan juga masyarakat. Kemunafikan tidak hanya merusak hubungan kita dengan Allah tetapi juga merusak hubungan kita dengan sesama manusia.

Jika kita sering berkata bohong, maka ketika kita berkata jujur pun orang tidak akan percaya. Ketika kita berjanji namun tidak menepatinya, maka orang lain akan kehilangan kepercayaan kepada kita. Dan ketika kita berkhianat ketika mendapatkan amanat, maka orang tidak akan lagi memberikan amanat lain kepada kita. Jika sudah hilang kepercayaan, maka akan sulit untuk dikembalikan.

Karena itu, sudah seharusnya kita menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan kita. Jika kita mengatakan sesuatu yang baik, maka laksanakanlah. Jika kita berjanji, tepatilah. Dengan demikian, kita akan menjadi seorang mukmin sejati yang menjaga kejujuran dan keikhlasan. Jangan sampai di depan mulut kita mengatakan ‘tidak’ namun di belakang kita berkata ‘iya’. Jangan di depan kita mengatakan ‘menolak’ namun dibelakang, kita mengharap, menerima, atau malah meminta.

Kemunafikan harus kita kikis di berbagai lini kehidupan kita, di antaranya dalam akivitas pekerjaan kita. Kemunafikan dapat muncul dalam bentuk kepura-puraan dan manipulasi. Hindari mengaku bekerja dengan integritas, tetapi kenyataannya sering melakukan kecurangan atau bertindak demi kepentingan pribadi meski harus mengorbankan orang lain.  Hindari terlihat menampilkan sikap profesional di depan umum, tetapi di belakang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan etika atau nilai-nilai yang dikatakan.

Kemunafikan dalam aktivitas kerja kita ini dapat merusak hubungan kerja, kepercayaan, dan integritas. Di dunia modern yang penuh dengan persaingan, mari hindari berpura-pura demi keuntungan pribadi, tanpa memikirkan dampaknya terhadap orang lain atau reputasi diri sendiri.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 8-9, Allah sudah menggambarkan orang-orang yang mengaku beriman, tetapi perilakunya bertentangan dengan apa yang mereka ucapkan. Sifat ini sangat dicela karena menyembunyikan keburukan di balik kebaikan yang palsu. Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَۘ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۚ وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَۗ

Artinya: “Di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari Akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang mukmin.  Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.”

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Untuk menjaga diri dari sifat munafik, mari kita perbanyak introspeksi diri. Tanyakan pada diri sendiri: Apakah kita sudah jujur dan selaras dalam perkataan dan perbuatan? Apakah kita sudah berusaha sebaik mungkin memenuhi janji-janji yang kita lakukan? Jika kita mendapati diri kita masih memiliki sifat-sifat tersebut, mari berdoa dan berusaha untuk memperbaiki diri. Jangan pernah lelah untuk terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Kita harus menyadari bahwa akan ada balasan bagi kita yang munafik. Allah sudah menegaskan dalam Al-Qur’an balasan bagi orang-orang munafik yang termaktub dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 68:

وَعَدَ اللّٰهُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقٰتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚوَلَعَنَهُمُ اللّٰهُ ۚوَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيْمٌۙ

Artinya: “Allah telah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (neraka) itu bagi mereka. Allah melaknat mereka. Bagi mereka azab yang kekal.” Allah juga menyebutkan posisi orang munafik di dalam neraka yang disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat 145:

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) di tingkat paling bawah dari neraka. Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.”

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Bahayanya kemunafikan ini, sampai-sampai Rasulullah khawatir pada sifat munafik yang menjangkiti umatnya. Terlebih Rasulullah saw paling khawatir jika terdapat umat munafik yang memiliki kemampuan pintar berbicara, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ بَعْدِيْ كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمُ اللِّسَانِ

Artinya: “Sungguh yang paling aku khawatirkan atas kalian semua sepeninggalku adalah orang munafiq yang pintar berbicara.” Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, Demikian khutbah Jumat kali ini tentang ajakan untuk menjauhi sifat munafik yang merupakan akhlak tercela. Mudah-mudahan kita senantiasa diberikan hidayah oleh Allah SWT dan terhindar dari kemunafikan. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدِنِ ابْنِ عَبدِ الله، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَة. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُسلِمُونَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعْلَمُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ. قَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى، يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

 

 

H Muhammad Faizin,

Sekretaris MUI Provinsi Lampung

Sumber: https://arina.id/khutbah/ar-MxGpF/khutbah-jumat–hindari-kemunafikan–ucapan-tak-sesuai-perbuatan