Beranda / News / Disiplin Tanpa Drama: Pendekatan Tenang untuk Siswa Bermasalah

Disiplin Tanpa Drama: Pendekatan Tenang untuk Siswa Bermasalah

jalanhijrah.com – Edi Subkhan, Dosen Pendidikan di Universitas Negeri Semarang (Unnes), menekankan bahwa pelatihan manajemen emosi untuk guru dan penanganan siswa bermasalah sangat penting, namun pelatihan semata tidak cukup jika tidak dikaitkan dengan pendekatan pedagogis.

Menurutnya, program pelatihan tersebut seharusnya mendukung guru dalam membuat keputusan profesional di kelas tanpa harus marah atau bereaksi berlebihan terhadap perilaku siswa. “Pelatihan manajemen emosi bagi guru memang bisa dilakukan, tetapi itu belum cukup.

Dalam konteks pendidikan, pelatihan harus diintegrasikan dengan aspek pedagogis, yakni bagaimana guru mampu mengambil keputusan profesional di kelas tanpa kehilangan kendali emosi,” ungkap Edi pada Rabu (29/10/2025).

Edi menjelaskan bahwa guru sebenarnya telah dibekali dengan pengetahuan tentang psikologi belajar dan pendekatan humanis sejak masa kuliah. Namun, penerapan ilmu tersebut di lapangan sering menemui kendala jika tidak didukung oleh sistem sekolah yang sehat dan pembagian tugas yang jelas.

Ia menekankan pentingnya kepala sekolah dalam membagi tanggung jawab secara proporsional, sehingga semua elemen sekolah dapat saling mendukung dalam membangun budaya positif.

“Harus ada guru yang fokus membangun kedekatan dengan siswa, ada yang mendampingi kegiatan, memberikan ruang kreativitas dan apresiasi. Jika pembagian tugas tidak merata, guru justru bisa terfragmentasi dan kehilangan kekompakan,” ujarnya.

Selain itu, Edi menyoroti bahaya hukuman fisik terhadap siswa. Ia menekankan bahwa dampak hukuman fisik berbeda-beda pada setiap anak.

“Beberapa anak mungkin jera, tetapi ada juga yang justru semakin mencari perhatian atau bahkan mengalami trauma. Hukuman fisik jarang membentuk kesadaran; lebih sering membuat anak takut atau bersikap patuh secara pura-pura,” tegasnya.

Edi menekankan bahwa pendidikan sebaiknya dipandang sebagai sistem sosial yang melibatkan sekolah, keluarga, dan organisasi kepemudaan. Seringkali, perilaku nakal anak di sekolah berkaitan dengan masalah pribadi atau keluarga yang belum terselesaikan.

“Jika ada anak ketahuan merokok, jangan langsung memberikan hukuman. Ajak bicara untuk memahami permasalahannya, kemudian arahkan pada kegiatan sesuai minatnya agar energinya tersalurkan dan ia merasa dihargai,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan para guru untuk selalu mengedepankan sisi kemanusiaan dalam mendidik. “Anak-anak pada dasarnya memang anak-anak. Mereka bisa nakal, lalai, dan wajar mencari perhatian. Tugas guru adalah memberikan pemahaman, empati, serta menanamkan nilai dan aturan berdasarkan ilmu pengetahuan,” pungkas Edi.