Beranda / Hijrah / Buya Yahya Ingatkan Orang Yang Berhijrah: Jangan Merasa Paling Benar

Buya Yahya Ingatkan Orang Yang Berhijrah: Jangan Merasa Paling Benar

jalanhijrah.com – Buya Yahya mengingatkan bahwa hijrah seharusnya membentuk seseorang menjadi lebih santun, rendah hati, dan bijaksana. Semangat memperbaiki diri tidak boleh berubah menjadi kebiasaan menghakimi orang lain.

Fenomena hijrah menarik perhatian banyak kalangan, termasuk generasi muda. Banyak orang mulai mengubah cara berpakaian, lingkungan pergaulan, kebiasaan sehari-hari, serta meningkatkan semangat untuk mempelajari agama.

Perubahan tersebut tentu membawa nilai positif. Namun, sebagian orang terkadang menjalani proses hijrah dengan sikap yang terlalu berlebihan. Mereka mudah menilai, menegur, bahkan menyalahkan orang lain yang belum mengikuti pilihan hidupnya.

KH Yahya Zainul Ma’arif atau Buya Yahya mengingatkan umat Islam agar menjalani hijrah dengan akhlak yang baik. Menurutnya, seseorang tidak perlu menunjukkan perubahan diri dengan cara yang mencolok hingga membuat orang lain merasa rendah atau terhakimi.

Jalankan Prinsip Dengan Cara Yang Santun

Buya Yahya mencontohkan cara menjaga batas interaksi antara laki-laki dan perempuan. Seseorang boleh memilih untuk tidak berjabat tangan dengan lawan jenis, tetapi ia tetap harus menyampaikan sikap tersebut secara sopan.

Saat orang lain mengulurkan tangan, seseorang dapat menolak melalui gestur yang halus dan ramah. Ia tidak perlu langsung menyampaikan larangan dengan nada keras atau mempermalukan orang yang belum memahami prinsip tersebut.

Sikap santun tidak akan mengurangi keteguhan dalam menjalankan agama. Sebaliknya, cara yang baik justru menunjukkan kedewasaan seseorang dalam memahami ajaran Islam. Setiap muslim perlu menjaga prinsip sekaligus menghormati perasaan orang lain. Ketegasan dan keramahan dapat berjalan bersama selama seseorang mampu menempatkan diri dengan bijaksana.

Jangan Merasa Paling Suci

Orang yang baru berhijrah sering memiliki semangat besar untuk mempelajari agama. Akan tetapi, semangat tersebut tidak boleh menumbuhkan perasaan paling benar, paling saleh, atau lebih baik daripada orang lain.

Perubahan pakaian dan meningkatnya pengetahuan agama belum tentu mencerminkan kualitas iman secara keseluruhan. Seseorang juga perlu memperbaiki hati, ucapan, sikap, serta cara memperlakukan sesama. Rasa paling suci justru dapat merusak proses hijrah. Sikap tersebut membuat nasihat terdengar seperti celaan dan menjauhkan orang lain dari pesan kebaikan.

Dakwah seharusnya menghadirkan ketenangan, bukan ketakutan. Seorang muslim perlu mengajak orang lain melalui keteladanan, kelembutan, dan perilaku yang baik. Buya Yahya menegaskan bahwa umat Islam harus menyampaikan ajaran agama dengan bahasa yang indah. Semangat berdakwah perlu berjalan bersama kesabaran dan budi pekerti.

Perkuat Ilmu Sebelum Menilai Orang Lain

Proses hijrah juga membutuhkan kemauan untuk terus belajar. Seseorang tidak seharusnya terburu-buru memberikan penilaian hanya karena baru mengetahui satu atau dua dalil. Ilmu agama memiliki pembahasan yang luas. Setiap persoalan membutuhkan pemahaman mengenai konteks, kondisi, serta cara penerapan yang tepat.

Karena itu, seseorang perlu memilih waktu dan cara terbaik saat menyampaikan nasihat. Tidak setiap percakapan harus berubah menjadi ceramah keagamaan, terlebih ketika lawan bicara tidak meminta penjelasan. Orang yang berilmu biasanya menunjukkan kerendahan hati. Semakin banyak pengetahuan yang ia miliki, semakin besar pula kesadarannya bahwa ia masih perlu belajar.

Dengan sikap tersebut, seseorang dapat menyampaikan kebaikan tanpa membuat orang lain merasa tersudut. Ia juga dapat menjaga hubungan sosial sambil tetap memegang prinsip agama.

Hijrah Berarti Memperbaiki Diri

Hijrah bukan perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling saleh. Proses ini juga tidak hanya berkaitan dengan pakaian, gaya bicara, atau penampilan luar. Setiap orang menjalani hijrah sebagai perjalanan pribadi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Perjalanan tersebut membutuhkan keikhlasan, kesabaran, ilmu, dan kesediaan untuk terus mengevaluasi diri.

Akhlak yang semakin baik menjadi salah satu tanda perubahan yang positif. Seseorang yang berhijrah seharusnya semakin sabar, lebih lembut dalam berbicara, dan lebih berhati-hati saat memperlakukan orang lain. Ibadah yang meningkat juga perlu melahirkan kepedulian dan kasih sayang. Seseorang tidak cukup hanya rajin menjalankan kewajiban, tetapi juga harus menjaga sikap terhadap keluarga, teman, dan masyarakat.

Pesan Buya Yahya mengingatkan bahwa hijrah tidak memerlukan tindakan yang berlebihan. Seorang muslim dapat menjalankan ajaran agama secara teguh tanpa menyindir, merendahkan, atau menyakiti orang lain. Pada akhirnya, kualitas hijrah tidak bergantung pada seberapa sering seseorang menunjukkan perubahan dirinya. Akhlak, ketulusan, dan manfaat bagi sesama justru menjadi bukti nyata dari proses perubahan tersebut.

Tag: