Beranda / Hijrah / Berhijrah Tanpa Meninggalkan Teman, Begini Sikap yang Dianjurkan Islam

Berhijrah Tanpa Meninggalkan Teman, Begini Sikap yang Dianjurkan Islam

jalanhijrah.com – Hijrah merupakan proses meninggalkan kebiasaan yang tidak disukai Allah SWT dan berusaha menjalani kehidupan yang lebih baik. Namun, perubahan tersebut sering menghadirkan tantangan, terutama ketika lingkungan pertemanan masih dekat dengan kebiasaan lama.

Tidak sedikit orang kemudian bertanya, apakah seseorang yang telah berhijrah harus memutus hubungan dengan teman-temannya? Dalam Islam, hijrah tidak berarti menutup seluruh hubungan dengan orang-orang dari masa lalu. Sikap yang diperlukan adalah menjaga hubungan dengan baik sekaligus lebih bijaksana dalam menentukan lingkungan pergaulan.

Ustaz Fadly Gugul menjelaskan bahwa hubungan dengan keluarga dan kerabat harus tetap dipelihara karena termasuk bagian dari silaturahmi. Perbedaan kebiasaan maupun tingkat pemahaman agama tidak semestinya menjadi alasan untuk menjauhi keluarga.

Seseorang yang sedang memperbaiki diri justru dapat membawa pengaruh positif kepada keluarganya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengarahkan pembicaraan kepada hal-hal yang bermanfaat, mengajak mengikuti kegiatan keagamaan, memberikan bacaan Islami, maupun menyampaikan nasihat secara lembut.

Dakwah kepada keluarga juga perlu dilakukan secara bijaksana dan tidak terkesan menggurui. Manusia hanya berkewajiban menyampaikan kebaikan, sedangkan diterima atau tidaknya nasihat merupakan bagian dari kehendak Allah SWT.

Lebih Selektif Menentukan Teman Dekat

Sikap terhadap teman di luar lingkungan keluarga dapat disesuaikan dengan pengaruh yang ditimbulkan. Teman sekolah, rekan kerja, teman nongkrong, hingga orang-orang yang diikuti melalui media sosial dapat memengaruhi pemikiran, kebiasaan, dan kehidupan beragama seseorang.

Karena itu, orang yang sedang berhijrah dianjurkan memilih teman dekat yang dapat membantu dirinya mempertahankan kebaikan. Namun, ketentuan tersebut tidak berarti seluruh teman lama harus langsung ditinggalkan.

Hubungan tetap dapat dijaga apabila seseorang masih mampu melindungi dirinya dari pengaruh buruk. Pertemanan tersebut bahkan dapat menjadi jalan untuk menyampaikan nasihat dan menunjukkan perubahan melalui perilaku yang baik.

Sebaliknya, mengambil jarak dapat dipertimbangkan apabila suatu lingkungan terus mengajak kepada perbuatan maksiat, meremehkan ibadah, atau membuat seseorang kembali melakukan kebiasaan buruk. Membatasi pergaulan dalam kondisi tersebut merupakan langkah untuk menjaga diri, bukan alasan untuk membenci maupun merendahkan orang lain.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa keadaan agama seseorang dapat dipengaruhi oleh teman dekatnya. Oleh sebab itu, setiap Muslim perlu memperhatikan siapa yang dijadikan sahabat dan lingkungan tempatnya menghabiskan banyak waktu.

Pengaruh Pertemanan Juga Hadir di Media Sosial

Lingkungan pergaulan tidak hanya terbentuk melalui pertemuan secara langsung. Akun yang diikuti, tayangan yang ditonton, dan percakapan di media sosial juga dapat memberikan pengaruh secara perlahan.

Paparan terhadap konten yang berisi ghibah, gaya hidup berlebihan, maupun perilaku yang bertentangan dengan nilai agama berpotensi membentuk kebiasaan seseorang. Karena itu, proses hijrah juga perlu disertai dengan kemampuan menyaring informasi dan memilih konten yang bermanfaat.

Pada akhirnya, hijrah bukan sekadar perubahan penampilan atau aktivitas yang terlihat dari luar. Hijrah juga mencakup upaya menjaga hati, pikiran, kebiasaan, serta lingkungan yang paling sering memengaruhi kehidupan.

Dengan demikian, berhijrah tidak mengharuskan seseorang memutus seluruh pertemanan. Silaturahmi dengan keluarga tetap dijaga, sedangkan hubungan dengan teman perlu dikelola secara selektif. Nasihat dapat disampaikan tanpa menggurui, sementara jarak dapat diambil apabila pergaulan tersebut mengancam keistiqamahan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari ikhtiar agar proses memperbaiki diri tetap berjalan tanpa kehilangan sikap santun dan kepedulian kepada sesama.

Tag: