Jonathan Sperber selama ini kita kenal sebagai sejarawan yang berfokus kepada sejarah Jerman abad 19, khususnya ihwal ‘Gerakan Rhineland’. Buku-bukunya yang telah terbit yaitu: Rhineland Radicals: The Democratic Movement and the Revolution of 1848-1849, Property and Civil Society in South-Western Germany, 1820-1914, The Kaiser’s Voters: Electors and Elections in Imperial Germany, dan The European Revolutions, 1848-1851. Tak heran jika Sperber kemudian menulis tentang kisah hidup Karl Marx (1818-1883).
Namun, kenapa harus tentang tanah kelahiran Karl Marx dan kehidupan awalnya? Jawabannya terletak pada subjudul buku Sperber ini: “Kehidupan Abad Kesembilan Belas”. Tema biografi ini berfokus untuk memanggungkan sosok Marx secara tepat dalam konteks sejarah. Bagi Sperber, nama Karl Marx berkelindan dengan pengalaman sosialisme abad 20. Buah pikirannya telah bergumul selama lebih dari satu dekade. Dia silih berganti ditahbiskan (dipuja atau dikutuk) sebagai “seorang nabi” komunisme abad ke-20.
Bahkan lebih dari dua puluh tahun pasca-runtuhnya Blok Timur dan berkesudahannya Perang Dingin, benang merah antara Marx dengan pengalaman Soviet tetap begitu kuat dan aktual. Terlebih, beberapa mahasiswa yang baru bersawala dengan penuh gairah untuk memamah marxisme, banyak yang terkejut saat mendengar bahwa Marx tidak benar-benar hidup di abad ke-20.
Akar masalah ini terletak pada sejarah panjang pelbagai tulisan tendensius mengenai Karl Marx. Terutama di lingkungan akademik yang sangat bernuansa “Politik Perang Dingin”, seseorang intelegensia terpenjara hanya dalam salah satu perspektif. Oleh sebab itu, karya-karya tentang Marx dan sejarah sosialisme, bukanlah menjadi perhatian ilmiah yang serius, atau sebaliknya, memperlakukan subjek itu dengan cara yang kompatibel dengan “garis partai”. Perihal ini menyebabkan narasi yang dihasilkan dari pendakian atas gagasan-gagasan Marx sangat bercorak teologis. Marx diidealkan sebagai tokoh dan filsuf, dan unsur-unsur pemikiran yang dilahirkannya, disoroti karena relevan dengan masalah kontemporer.
Biografi perdana Marx muncul dua tahun setelah kematiannya, ditulis oleh Gustav Gross Tahun 1885. Buku ini adalah proyek intelektual yang dini dan bias: Gross berkonsentrasi pada pelbagai tulisan ekonomi Marx periode akhir, yang pertama kali mempunyai tingkat perhatian pada saat itu. Sejumlah karya yang diterbitkan oleh para pemimpin gerakan buruh yang baru lahir di Eropa pada awal abad ke-20, misalnya karangan Franz Mehring (1918). Sejarawan Isaiah Berlin menerbitkan biografi Karl Marx-nya pada 1939, yang mengingatkan kita pada pandangan ‘Skeptisisme Berlin’ yang kuat terhadap komunisme.
Kemudian Berlin juga secara alamiah mengambil sikap yang lebih kritis terhadap sang protagonis. Titimangsa 1973, David McLellan menulis Karl Marx: His Life and Thought. Dalam edisi keempatnya, buku McLellan telah menjadi salah satu karya paling banyak dibaca perihal Marx dalam edisi Inggris. Dan pada 1999, Jurnalis Francis Wheen meluncurkan karyanya perihal kisah kehidupan Marx, tetapi karya ini kurang memerhatikan ide-ide Marx, dan rincian hidupnya. Akan tetapi faktanya, buku Wheen begitu laris dan populer di masyarakat.
Apa yang membedakan buku baru Sperber ini, dari karya penulis biografi Marx lainnya? Sebagaimana McLellan dan Wheen, tentu dia tidak mengidealkan Marx dalam narasi yang jelas ideologis. Karya Sperber laiknya sebuah lukisan. Sperber lebih menyoroti Marx sebagai manusia abad ke-19 yang menunjukkan betapa sulitnya figur ini untuk ditarik dari fenomena sosial-politik kontemporer. Sperber menekankan, menitikberatkan–-dan akhirnya mungkin menggarisbawahi secara berlebihan–-bahwa kita perlu memahami Marx sebagai manusia sejarah dari abad ke-19, dan senyatanya hampir tidak memiliki hubungan dengan, versi komunisme yang kelak diwujudkan dalam negara Uni Soviet.
Sebagaimana Sperber menghamparkan tujuan penelitiannya, “Pandangan Marx sebagai ide kontemporer yang membentuk dunia modern telah mengalir begitu saja dan sudah saatnya bagi penerokaan anyar tentangnya sebagai sosok tokoh sejarah dari masa lampau, salah satu yang semakin jauh dari kita sendiri: usia Revolusi Perancis, filsafat Hegel, dari tahun-tahun awal industrialisasi Inggris, dan ekonomi politik yang berasal dari hal ihwal itu. Bahkan mungkin, bahwa Marx lebih berfaedah jika dimengerti sebagai sosok yang melihat ke belakang, dalam rentang waktu paruh pertama abad kesembilan belas, dan diproyeksikannya ke masa depan, …” (hlm. xiii). Tujuan Sperber adalah untuk menegaskan kenyataan bahwa, “Bahkan setelah berakhirnya rezim yang paling komunis pada 1989 sekalipun, pandangan Marx sebagai filsafat kontemporer kini tetap eksis” (hlm. xii).
Salah satu kebaruan pendekatan Sperber adalah dia menyadari inovasi terbaru dalam historiografi untuk studi periode ini, dan mendedahkan tafsirannya atas kisah kehidupan Marx. Revisi penulisan sejarah ini telah secara sadar mengecilkan dampak dari periode revolusi industri, dan lebih menyoroti agama sebagai faktor yang jauh lebih sentral dari asumsi sebelumnya. Selain itu, karya ini juga menyebutkan adanya pelbagai revisi atas sejarah pemikiran sosialis.
Sejarawan intelektual macam: Gareth Stedman Jones, Douglas Moggach, Warren Breckman, dan David Leopold, juga telah mencoba untuk memperbaiki generalisasi historiografi Marxis klasik, lewat studi-studi rinci mengenai Marx dan filsuf sosialis sezamannya. Upaya mereka laksana cahaya penerang bagi kompleksitas ide-ide mereka yang berpendar di masa lalu. Gareth Stedman Jones, misalnya, menyoroti sifat Marx muda yang sangat religius saat meniti jalan sebagai filsuf sosialis.
Elemen baru lainnya dalam proyek intelektual ini adalah pemanfaatan data yang cukup maksimal atas koleksi berbagai sumber historis yang melimpah. Seperti diketahui, proyek MEGA (Marx Engels Gesamt-Ausgabe) yang menghimpun kumpulan karya-karya Marx dan Engels, dimulai tahun 1920, lalu sempat vakum selama puluhan tahun, kemudian dilanjutkan kembali pada 1975, dan akhirnya kini proyek itu hampir rampung. Ini berarti hampir semua karya yang pernah ditulis oleh Karl Marx (termasuk catatan hariannya), kini telah tersedia bagi sidang pembaca. Sperber menuturkan, “Sumber-sumber baru ini bukanlah mesiu, karena tak ada dokumen tunggal yang benar-benar dapat mengubah pemahaman kita akan Marx, tetapi pelbagai sumber ini dapat membawa cahaya atas ratusan detail kecil nan halus, dan mampu mengubah potret kita tentang Marx” (hlm. xiv).
Sperber juga telah menyediakan terjemahan baru dari banyak bagian kunci atas tulisan Marx yang sebelumnya telah disalahtafsirkan, karena karya terjemahan yang berkualitas buruk. Kekuatan buku ini tentu saja terletak pada nuansa-nuansa dan berbagai detail. Karl Marx: A Nineteenth-Century penuh dengan fakta-fakta yang sangat menarik dan anekdot karikatural, yang ditempatkan bersama-sama, sehingga membuat lanskap kehidupan Marx menjadi begitu indah dan melankolis. Buku ini, dengan narasi halus seperti dongeng modern, menonjolkan aksesibilitasnya, kejelasan, dan gambaran yang kaya dengan cat protagonis.
Sepanjang halaman, Sperber mendedah sejelas mungkin mengenai telatah Marx, dan terutama sebagai figur yang dapat kita akses dan mengerti. Pada saat yang sama, Sperber secara kritis memeringatkan, bahwa Marx juga seorang manusia. Ia salah satu dari kita. Akan tetapi, apakah pesan utama buku ini adalah bahwa Karl Marx itu berbeda dari kita? Sperber sangat prihatin untuk mengungkapkan kebenaran tentang sisi manusiawi Marx yang telah lama dielu-elukan para pemujanya. Memang, kita banyak belajar dari Sperber, tapi ia juga penuh kejutan. Perihal Karl Marx dalam karya ini misalnya: bahwa dia adalah seorang pembicara publik yang buruk, bahwa kekasihnya (yang calon istrinya itu) sangat romantis, bahkan untuk standar percintaan masa kini sekalipun, dan bahwa lebih dari kaum borjuis sejagat, Marx sangat membenci Monarki Prusia dan Tsar Rusia.
Buku ini dipenuhi oleh kejujuran yang lugas. Sperber ingin mengungkap Marx dan untuk melakukannya, dia mengacu pada segala macam informasi rinci dan wawasan para ahli. Pengetahuan medis, misalnya, digunakan di seluruh buku untuk menjelaskan fakta-fakta, seperti sifat yang tepat dari kondisi kulit Marx, seiring dengan berlanjutnya usia. Tanda tedeng aling-aling, buku ini melebar ke cerita yang sangat intim, mengenai hubungan Marx dengan istrinya, dan rincian seperti misalnya, apakah mereka pernah menggunakan kontrasepsi dalam bersanggama? Kegamblangan ini adalah keelokan utama dari karya Sperber.
Namun, fakta-fakta dari proyek demistifikasi sang penulis, tidak membuat kecemerlangan sosok Marx pun memudar –tentu ini sebuah prestasi bagi seorang sejarawan yang sangat terampil. Karya ini dibagi menjadi tiga bagian, masing-masing setebal hampir 200 halaman. Bagian pertama, ‘Shaping’ berkisah perihal latar belakang keluarga Marx, jejak langkahnya, dan perkembangan pemikiran intelektualnya sampai dengan akhir 1846. Yang kedua, ‘Struggle’, dimulai dengan keterlibatan Marx dalam revolusi 1848 dan selanjutnya saat pengasingan London-nya hingga 1871, dan pengalaman a la Komune Paris, suatu peristiwa yang kemudian membawa Marx tiba-tiba begitu masyhur di seluruh dunia.
Bagian ketiga dan terakhir, ‘Legacy’, selain menggambarkan fase 12 tahun terakhir kehidupan Marx, termasuk bab tematik yang bertutur secara lebih detail dan cerkas tentang aspek pemikiran, dan menawarkan refleksi pada hidup Marx secara holistik.
Pada bagian pertama buku ini kita belajar tentang ‘Society of Orders’ di masa kanak-kanak Marx. Sperber melukiskan akar perilaku membangkang dalam diri Marx dan tingkah polah ini kemudian larut sepanjang hidupnya. Sperber meneroka bahwa perihal itu merupakan dampak dari berbagai peraturan Prusia yang diterapkan di Rhineland, dan dia juga memaparkan kaitannya terhadap peristiwa penting yang lain, yakni keputusan ayah Karl, Heinrich Marx, yang semula adalah seorang Yudaisme yang kemudian berpindah ke agama Protestan pada 1810-an.
Dalam bab kedua kita tahu, mengapa cerita cinta Marx dengan Jenny von Westphalen adalah salah satu aspek yang paling radikal dalam hidupnya. Awal keterlibatan keduanya, jauh sebelum Marx berada dalam posisi untuk memiliki penghasilan yang stabil, bagi seorang perempuan empat tahun lebih tua darinya, tanpa mas kawin, berani untuk menantang konvensi budaya yang begitu kuat di Barat abad ke-19.
Sperber meyakinkan kita, bahwa Marx dan Jenny yang digambarkan sebagai kisah romansa sejati, dan deskripsinya perihal hubungan Marx dan istrinya ini adalah salah satu sorotan dari bukunya. Begitu banyak penjelasan: mereka benar-benar saling mencintai dan berkomitmen satu sama lain. Meskipun kondisi kehidupan rumah tangga mereka teramat kacau dan tak stabil; juga kegagalan Marx yang berlarut-larut dalam mensejahterakan keluarganya, Jenny tetap setia kepada Marx. Jenny aktif mendorong dan mengapresiasi proses kreatif dan buah karya suaminya, dan ia selalu siap membela Marx, bahkan dalam masalah paling sepele sekalipun, seperti banyak perselisihan Marx dengan rival-rival politik dan filsafatnya.
Bab-bab berikutnya membahas ihwal Marx sebagai Hegelian Muda dan aktivitas jurnalistiknya untuk kantor berita Rheinland. Sperber bukan hanya menuturkan kembali aspek yang lebih akrab dalam kehidupan Marx, seperti awal dari persahabatannya dengan Engels, tetapi juga menguraikan isu-isu yang sebelumnya yang kusut-masai. Misalnya, Sperber menekankan peranan Karl Grün, karakter yang hanya sepintas lalu, jika tidak benar-benar absen dari biografi-biografi Marx sebelumnya. Grün saat ini hampir tidak dikenal, tapi dia adalah salah satu saingan Marx yang paling penting pada 1840-an.
Seperti Marx, ia menemukan ide-ide sosialis di awal 1840-an, dan kemudian mereka mempromosikan gagasannya itu di dalam Konfederasi Jerman namun, pasca pengusirannya, sebagai pekerja Jerman di pengasingan Paris. Karena pengaruhnya di kalangan masyarakat Paris, figur Grün semakin dilihat sebagai saingan serius oleh Marx dan Engels pada paruh kedua 1840-an. Mereka mulai sadar pengaruh Grün, dan ini diterjemahkan dari antipati pribadi ke serangan filosofis, terutama dalam ideologi Jerman, di mana Grün pertama kali dikecam sebagai pemikir sosialis Jerman yang ‘terbelakang’, karena penekanan atas visi humanistik sosialisme.
Komentar Sperber tentang hubungan antara Marx dan Grün: “Konflik antara dua pria ini muncul justru karena mereka begitu mirip, karena keduanya berusaha untuk menempati posisi yang sama strategisnya dalam gerakan sosialis Jerman: bahwa dari teori yang bisa mencairkan sekat hubungan antara ide-ide Perancis dan kondisi sosial Jerman” (hlm. 185). Sperber mendedahkan tentang pelembagaan gerakan radikal periode sebelum Revolusi 1848, di mana Marx memainkan peranan utama dalam Institusi Liga Komunis.
Saat inilah, Marx dan Engels menulis karya penting berjudul Manifesto Komunis. Sperber mengambil secara terpisah unsur Manifesto Komunis itu –yang sekarang menjadi salah satu karangan Marx yang paling terkenal– dan menjelaskan asal-usul keduanya dalam biografi intelektual Marx hingga publikasinya pada awal 1848. Proyek utama Marx dalam fase 1848-9, ketika dia kembali ke Rhineland dari pengasingan di Brussels, adalah untuk bekerja sebagai editor New Rhineland News. Sperber menunjukkan bahwa banyak argumen yang disajikan dalam koran yang hanya dibidani oleh Marx secara singkat ini, dapat digambarkannya sebagai “sangat tidak marxis”.
Marx kala itu, misalnya, tidak menganjurkan perjuangan kelas, bahkan sebenarnya menentang hal itu. Pada akhir musim panas 1849, Marx terpaksa melarikan diri dari Jerman dan hijrah ke pengasingannya di London. Marx menetap di Inggris hingga akhir hayatnya. Akan tetapi, seperti yang ditunjukkan oleh Sperber, Jerman tetap menjadi fokus penting bagi pemikiran politiknya. Dia menulis, “Rencana Marx pasca 1859 untuk terjun kembali ke dunia politik, hanya berpusat pada Jerman, pada isu-isu nasionalisme Jerman” (hlm. 557).
Marx secara serius memertimbangkan kembali untuk pulang kandang tahun 1861. Namun saat itu, isteri dan anak perempuan remajanya, telah betah hidup di London. Lantas, mengapa pula dia harus pulang kampung? Bertungkus-lumus dengan masalah finansial, situasi keuangan Marx di London menjadi bala bencana. Penghasilan Marx yang kronis adalah topik yang Sperber eksplorasi panjang-lebar, dan memberikan ilustrasi yang jernih, seperti kisah putra Marx saat berusia enam tahun, yang melindungi ayahnya dari kreditur, ketika mereka muncul di rumah mereka (hlm. 256). Edgar sendiri, putera Marx itu, akhirnya menjadi korban kemiskinan dari “marxisme”.
Dia meninggal di usia delapan tahun pada 1855. Sebuah tragedi yang kemudian sangat menghantui keluarga ini selama bertahun-tahun. Periode awal kehidupan Marx di London juga dibayangi oleh kelahiran anak haramnya. Pengurus rumah, Helene Demuth, melahirkan seorang putra, Frederick, pada 1851. Alih-alih, sang sahabatlah, Engels (meskipun dia belum menikah) mengaku sebagai bapak dari Frederick. Diduga ini dilakukannya untuk menyelamatkan reputasi intelektual dan bahtera pernikahan Marx. Kisah Marx sebagai ayah adalah contoh penceritaan, bagaimana cara biografi telah menjadi medan perang kepentingan politik.
Dalam biografi Marx lainnya, karya Paul Thomas (yang berkualitas payah), telah meragukan kebenaran cerita ini. Thomas menyoroti bahwa kisah ini pertama kali termasuk dalam biografi Marx pada 1960, saat di mana iklim politik sangat bergema. Dia juga menunjukkan bahwa laporan itu didasarkan pada satu sumber tunggal: sebuah surat yang ditulis oleh istri dari filsuf sosial demokrat Karl Kautsky (1898), yang belum pernah bertemu Marx. Sumber pembuktiannya adalah surat ini yang menceritakan, bahwa saat dipenghujung hidupnya, Engels mengungkapkan ihwal ayah biologis yang sebenarnya dari anak Helene Demuth itu.
Tidak ada sumber lain yang pernah disebutkan dalam cerita, dan sang penerima surat, August Bebel, juga tidak pernah membawanya. Ketidaktersediannya bukti, seperti rumor yang beredar di sekitar waktu kelahiran Frederick Demuth itu sendiri, ketika banyak lawan politik Marx di London, akan melahap setiap kesempatan untuk bergosip ria tentang dirinya. Sperber, bagaimanapun, memosisikan diri untuk membela fakta bahwa Frederick merupakan anak biologis Marx, meskipun hanya dengan bukti laporan kronologis (hlm. 62).
Apakah seseorang dapat memercayai fakta versi Thomas atau Sperber? Masalah ini menunjukkan bahwa rincian kehidupan Marx tetaplah kontroversial. Tahun 1850-an, Marx mendedikasikan sebagian besar waktunya kepada dunia jurnalistik. Sebuah fakta yang tidak diketahui oleh sebagian besar publik adalah bahwa potongan-potongan berita itu merupakan sebagian dari tulisan-tulisan Marx. Di antaranya adalah apa yang diakui menjadi bagian yang paling brilian, misalnya The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte, di mana Marx menganalisis Kudeta Napoleon Bonaparte pada Desember 1851. Tahun 1850 juga, Marx mulai berharap kepada munculnya krisis ekonomi yang akan mengakhiri kedigdayaan kapitalisme. Keterlibatan politiknya yang aktif sebelumnya, sementara dipindahkan ke balik layar.
Arkian, gelora di dalam diri Marx ini hanya bisa dihidupkan kembali oleh Ferdinand Lassalle, yang mengunjungi Marx di London tahun 1860. Dan dia pada tahun berikutnya, hampir meyakinkan Marx untuk kembali ke Jerman, dalam rangka untuk terlibat dalam gerakan buruh yang baru di sana. Nyatanya, Marx lebih memilih untuk tetap tinggal di Inggris dan sebaliknya, sejak 1864, menjadi terlibat dalam kegiatan organisasi (yang membosankan) bernama Asosiasi Buruh Internasional, yang membuncah dalam konflik yang terkenal dengan Mikhail Bakunin, era awal 1870-an.
Kehidupan Marx sejauh ini diceritakan dalam dua bagian pertama buku Sperber, sebagai hamparan narasi yang menawan dan kaya. Bagian ketiga dari buku ini mencakup dekade terakhir kehidupan Marx dan beberapa tema menyeluruh yang agak kurang koheren. Beberapa bab tematik yang lebih berhasil dari yang lain. Bab ‘theory’ yang melukiskan konfrontasi Marx dengan kelompok positivisme pada paruh kedua abad ke-19 ialah yang menarik. Peristiwa itu adalah pertemuannya dengan Charles Darwin.
Sperber berupaya untuk menekankan sejauh mana kebenaran perihal Karl Marx tetap istiqomah sebagai seorang Hegelian. Bahwa Marx secara gigih membela Hegel dari serangan Charles Darwin, dan cerita bahwa Marx berencana untuk mendedikasikan modalnya kepada Darwin diungkapkan sebagai mitos. Bahkan dalam kacamata Sperber, tulisan-tulisan ekonomi Marx memiliki struktur ‘Hegelian’ yang mencolok.
Sayangnya, menurut saya, dalam dua bab berikutnya Sperber kurang berhasil. Sebuah bab (agak teknis) yang bertujuan untuk memberikan pengenalan pemikiran ekonomi Marx secara langsung, dan tiba-tiba, kemudian diikuti oleh satu bab yang mengulangi karakternya sebagai sosok pribadi dan menilai seberapa jauh Marx sepaham dengan “pandangan maskulinitas Victorian”. Hal ihwal ini mengulangi banyak informasi yang disajikan di awal buku dan menambahkan sedikit argumen.
Pada akhir karyanya, dalam sebuah bab yang didedikasikan untuk “ikon” Marx, Sperber menjelaskan bagaimana Karl Marx hadir untuk menjadi populer dalam sepuluh tahun terakhir hidupnya dan di mana dan bagaimana istilah ‘marxis’ berasal (Marx terutama menjauhkan diri dari itu). Sperber memberikan penjelasan pendek dari peristiwa setelah kematian Marx pada 1883, yang menyebabkan dia melejit sebagai ikon abad ke-20. Seberapa berhasil Sperber meneroka Karl Marx? Hemat saya, dia tentu membuat mahakarya untuk menyajikan Marx sebagai manusia biasa.
Paradoks ini adalah hasil dari beberapa penemu-ciptaan mitos. Sperber benar, saat dia menekankan kesulitan keuangan Marx dalam buku ini dan memberikan contoh bagi permainan manajemen moneter yang memilukan dari hampir setiap episode kehidupan Marx. Apakah yang harus kita pahami dari kisah bahwa Marx sangat miskin dalam masalah penanganan finansial? Sperber, pada satu titik, menulis: “Satu-satunya cara yang dapat diketahui dari eksterior konvensional Marx, bahwa dia adalah seorang radikal dalam krisis keuangan kronis” (hlm. 500).
Apakah itu simpulan yang memuaskan pasca Sperber berusaha untuk menyajikan Marx sebagai ‘sesuatu’ selain ikon abad ke-20? Sementara itu, usaha yang sangat berharga untuk menghilangkan prasangka atas Marx dan untuk memosisikannya lewat karakter manusiawi, dengan banyak sifat bertubrukan dengan perkara remeh-temeh, tetap ada kebutuhan untuk bermaknai dan karakterisasi atas keseluruhan jati diri Karl Marx. Para sarjana generasi mendatang tidak akan puas dengan hanya mengetahui, misalnya, bahwa Marx menderita penyakit jerawat yang sangat parah. Akan menjadi menarik untuk mengetahui jika Sperber menyajikan versi sederhana dari telatah Karl Marx.
Suatu cara baru untuk memafhumi dirinya secara ringkas. Catatan ini hanyalah sekadar kritik kecil dari apa yang dinyatakan sebuah prestasi yang luar biasa. Karyatama Sperber ini pasti akan banyak dibaca di tahun-tahun yang akan datang, dan kaum terpelajar akan mengenal Marx seperti itu. Tentu saja ini menjadi angin segar, seperti keberhasilan Sperber dalam memertontonkan kepada kita tentang banyaknya kesalahpahaman yang ajeg dan menyajikan versi Marx yang sesuai dengan abad ke-21.
Mereka yang ingin belajar lebih banyak perihal teknis, seumpama, perdebatan seputar aspek pemikiran Marx secara ilmiah, tentu tidak akan mendapatkan cerita lengkap dalam biografi buah pena Sperber ini, dan akan perlu untuk beralih ke literatur spesialis yang luas. Kalakian, dengan membaca buku Sperber ini saya seperti berhayal sedang berjabat tangan erat dengan Karl Marx: sepintas berkenalan, namun meninggalkan kesan yang kuat dan tajam. Setidaknya, Karl Marx: A Nineteenth-Century Life adalah salah satu biografi Karl Marx terbaik yang pernah saya baca.
Muhammad Iqbal
Sejarawan IAIN Palangka Raya. Menulis tiga buku: Tahun-Tahun yang Menentukan Wajah Timur (Yogyakarta: EA Books, 2019), Menyulut Api di Padang Ilalang: Pidato Politik Sukarno di Amuntai 27 Januari 1953 (Yogyakarta: Tanda Baca, 2021), dan Bermula dari Cerita Abah: Pemikiran Islam, Politik Islam, dan Islam Tradisi (Yogyakarta: Tanda Baca, Mei 2022).
*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/perspektif/ar-aA0W1/siluet-karl-marx—nabi-komunisme–yang-dipuja-sekaligus-dikutuk






