Kiprah guru madrasah di era modern menghadapi tantangan besar. Kecenderungan para akademisi Muslim dalam merujuk teori-teori pendidikan ala Barat dinilai semakin menjauhkan spirit ajaran Islam dari kultur pendidikan madrasah. Dalam hal ini, metode pendidikan Islam seolah hanya dijadikan sumber sekunder, yang bersifat alternatif.
Belum lagi, keberadaan artificial intelligence (AI) berpotensi mengancam peran guru sebagai sumber ilmu. Kemudahan dalam mengakses informasi melalui AI berpotensi memunculkan berbagai dampak negatif. Di antara efek buruknya yaitu murid cenderung enggan belajar dan memperoleh pengetahuan yang tidak akurat.
Kondisi yang demikian itulah yang menggerakkan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama RI untuk menyusun buku Menjadi Guru Ala Nabi. Buku ini ditulis dengan semangat agar para guru madrasah kembali kepada nilai-nilai yang diajarkan oleh Rasulullah, sahabat, dan ulama terdahulu dalam mendidik murid.
Dengan merujuk pada sumber-sumber primer kajian keislaman (turats), buku anggitan Thobib Al Asyhar dkk tersebut berupaya menghadirkan keteladanan Nabi dalam mendidik para sahabat. Sosok Nabi Muhammad sebagai guru, sebagaimana dijelaskan dalam buku ini, adalah living values atau teladan nyata yang hidup di tengah-tengah umat Islam. Nabi bukan sekadar guru teoritis, melainkan guru yang mencontohkan terlebih dahulu.
Ketika sahabat bertanya tentang kepribadian Rasul, Sayyidah Aisyah menjawab, akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Artinya, keteladanan Nabi bersumber sekaligus mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Tiga tugas utama seorang guru, sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 2, yaitu tilawah (membacakan), tazkiyah (menyucikan), dan ta’lim (mengajarkan ilmu dan hikmah). (hal. 106).
Buku Menjadi Guru Ala Nabi secara komprehensif menguraikan konsep pendidikan yang diteladankan oleh Rasulullah. Bab satu, misalnya, membahas tentang pendidikan dalam sudut pandang Al-Qur’an, mulai dari kedudukan Al-Quran sebagai pedoman bagi guru, istilah pendidikan yang digunakan dalam Al-Quran, visi, karakteristik, dan prinsip-prinsip pendidikan dalam Al-Qur’an.
Kemudian pada bab dua, dijelaskan metode pembelajaran dalam Al-Qur’an, yang terdiri atas metode Mau’izhah/Ceramah (QS. Luqman: 13), Kisah (QS. Yusuf: 3), Keteladanan (QS. Al-An’am: 90). Targhib wa Tarhib (QS. Al-Maidah: 9-10), Perumpamaan (QS. Al-Baqarah: 261), dan Dialog (QS. Ash-Shaffat: 102).
Bab tiga berisi tentang tugas Nabi sebagai guru, yang mencakup kepribadian dan paradigma Nabi sebagai guru, serta tugas-tugas Rasul sebagai pengemban risalah, termasuk menyampaikan prinsip tauhid, penyucian jiwa, dan melakukan transfer ilmu.
Bab empat mengupas tentang cara mengajar ala nabi, seperti bagaimana Rasul menciptakan suasana belajar, membangun keteladanan, mengajar secara bertahap, mengajar secara kontekstual (berdiferensiasi), melakukan dialog dan tanya jawab, memanfatkan alat peraga, hingga mengajar dengan canda dan guyon. Bab kelima menjelaskan tentang pembentukan karakter ala Nabi dan bab keenam, terakhir, menguraikan berbagai pemikiran dan best practice dari para tokoh pendidikan dalam Islam. Tokoh-tokoh yang menjadi role model tersebut di antaranya Luqman Al-Hakim, Ali Bin Abi Thalib, Al-Ghazali, Al-Zarnuji, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Kholil Bangkalan, dan KH. Ahmad Dahlan.
Buku ini penting untuk dibaca oleh para pendidik, baik guru, dosen, maupun akademisi. Jika terdapat sekurang-kurangnya 20% guru atau dosen inspiratif dengan meneladani Nabi Muhammad SAW dalam setiap lembaga pendidikan, maka ini dapat menjadi starting point bagi lahirnya SDM dan generasi hebat, berprestasi, cerdas, kreatif, terampil, dan berakhlak mulia.
Satu kritik dari kelemahan buku ini karena tidak dilengkapi trasliterasi penulisan teks Arab, sehingga dalam beberapa penulisannya nampak masih kurang konsisten. Selain itu, bahasan buku ini masih cenderung teoritik karena didasarkan pada kajian literatur, bukan hasil uji coba empirik. Meskipun penting untuk diuraikan, tetapi akan lebih lengkap jika buku ini ditulis seri keduanya yang menyajikan praktik-praktik pembelajaran yang langsung bisa digunakan di madrasah/sekolah.
Judul Buku: Menjadi Guru Ala Nabi
Penulis : Thobib Al-Asyhar, Moh. Salapudin, Ahmad Asrof Fitri, Tata Septayuda Purnama, M. Zidni Nafi’
Penerbit: : Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Kementerian Agama RI
ISBN: 978-602-293-229-1 Isi : xi + 285 halaman
Sumber: https://arina.id/buku/ar-eMyro/guru-profetik-mendidik-generasi-emas





