Di tengah keberagaman yang mewarnai Indonesia, terciptanya kedamaian menjadi tujuan yang harus dijaga bersama, termasuk di lingkungan pendidikan. Kepala SMAN 5 Makassar, Sudirman Kadir, menyadari betapa pentingnya kedamaian di sekolah sebagai fondasi bagi pembelajaran yang kondusif.
Dalam kegiatan dialog interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh,” yang diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMAN 5 Makassar, Sudirman mengajak para pelajar untuk menjunjung tinggi perdamaian.
“Kedamaian di sekolah tidak hanya menciptakan pembelajaran yang kondusif, tetapi juga menjadi cerminan kecil dari perdamaian yang kita cita-citakan untuk Indonesia,” ucapnya.
Pernyataan ini menekankan bahwa kedamaian dalam lingkungan sekolah tidak hanya menjadi kepentingan institusi pendidikan, tetapi juga untuk kemaslahatan bangsa. Melalui perdamaian di sekolah, generasi muda akan belajar menghargai perbedaan, meningkatkan rasa toleransi, dan membentuk karakter yang menghargai keberagaman.
Kegiatan dialog interaktif ini menghadirkan sosok mantan pelaku terorisme yang telah bertaubat serta penyintas aksi terorisme, untuk menyampaikan pengalaman mereka dan mengingatkan para siswa akan pentingnya semangat cinta damai dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan.
Selain di SMAN 5, kegiatan ini juga diadakan di berbagai sekolah lain di Makassar, termasuk SMAN 1, SMAN 2, SMKN 5, dan SMKN 8, dengan harapan pesan perdamaian akan meluas di kalangan generasi muda.
Menurut Sudirman, keberagaman agama dan etnis di SMAN 5, yang meliputi Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan berbagai suku seperti Bugis, Makassar, Toraja, Mandar, serta Kalimantan, menjadi potensi untuk menumbuhkan toleransi. Melalui fasilitas dan dukungan yang disediakan sekolah bagi siswa untuk menjalankan ibadah sesuai agamanya, Sudirman berupaya menanamkan nilai-nilai penghormatan terhadap perbedaan.
“Sikap toleransi kita tanamkan di sekolah. Setiap siswa dari berbagai latar belakang agama difasilitasi untuk beribadah dan mengamalkan ajarannya masing-masing,” jelasnya.
Kehadiran AIDA di sekolah-sekolah menjadi langkah edukasi yang sangat diapresiasi oleh Sudirman. Ia berharap, dengan mengikuti kegiatan ini, para siswa akan menjadi agen perdamaian yang bisa menyebarkan semangat cinta damai kepada teman-teman mereka.
“Kita harapkan anak-anak yang mengikuti kegiatan ini bisa menyebarkan kepada rekan-rekannya. Ini jadi barometer menciptakan sekolah yang cinta damai,” katanya.
Di tengah tantangan radikalisme dan intoleransi yang kadang merasuki kalangan muda, penting bagi dunia pendidikan untuk berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai kedamaian dan toleransi. Dengan semakin banyaknya sekolah yang mencontoh inisiatif seperti ini, harapan untuk menciptakan generasi yang tangguh, toleran, dan cinta damai akan semakin nyata.
Generasi yang terdidik dengan baik tentang nilai-nilai ini akan menjadi pilar bagi kemaslahatan NKRI, mewujudkan Indonesia yang damai dan harmonis.






