Bulan Rajab memiliki keistimewaan khusus dalam sejarah Islam. Di bulan ini, sejumlah peristiwa agung terjadi, termasuk awal mula diturunkannya Nur Muhammad (Cahaya Nabi Muhammad) pada rahim ibunda Rasulullah, Sayyidah Aminah. Nur tersebut dipercaya sebagai tanda kenabian Rasulullah saw. Peristiwa ini menjadi tonggak penting bagi umat Islam sekaligus menandakan dimulainya perjalanan kehidupan manusia agung yang membawa rahmat bagi semesta alam.
Menurut Syaikh Syihabuddin al-Qastalani dalam Mawahibul Ladduniyyah, sebelum menikah dengan Sayyidah Aminah, Abdullah bin Abdul Muthalib telah menunjukkan tanda-tanda kenabian melalui pancaran cahaya di wajahnya. Beberapa wanita yang melihatnya tertarik dan berharap membawa keturunan darinya. Salah satunya adalah seorang wanita dari Bani Asad yang menawarkan diri, tetapi Abdullah menolak dengan tegas sebagai bentuk komitmennya terhadap kehormatan dan agamanya.
Setelah menolak wanita itu, Abdullah menikah dengan Aminah binti Wahb, seorang wanita terhormat dari suku Quraisy. Pernikahan tersebut terjadi pada hari Senin di bulan Dzulhijjah, saat musim haji di Mina. Abdullah langsung tinggal bersama Aminah. Sejak pernikahan itu, cahaya kenabian dari Abdullah berpindah ke dalam rahim Sayyidah Aminah. Peristiwa ini sekaligus menjadi awal mula Aminah mengandung Rasulullah saw.
Setelah kehamilan Aminah, wanita yang sebelumnya menawarkan diri kepada Abdullah kembali menemuinya. Namun, kali ini ia tidak lagi menunjukkan ketertarikan. Ia berkata bahwa cahaya yang sebelumnya terlihat di wajah Abdullah telah berpindah. Hal ini menguatkan keyakinan bahwa cahaya tersebut kini berada di rahim Aminah, sebagai awal penciptaan Rasulullah.
Kehamilan Aminah membawa banyak tanda keajaiban. Berkaitan dengan hal ini, al-Qastalani dalam Mawahibul Ladduniyyah sampai membuat bab khusus yang menjelaskan keajaiban kehamilan Aminah.
Menurut salah satu riwayat, ketika benih Rasulullah mulai berkembang dalam rahimnya, terdengar seruan dari langit yang memerintahkan para malaikat untuk memuliakan bumi dan langit. Tempat-tempat suci dipenuhi wewangian surgawi. Fenomena ini menunjukkan kemuliaan dan keistimewaan kelahiran Rasulullah SAW yang akan menjadi rahmat bagi umat manusia.
Riwayat dari Sahl bin Abdullah At-Tustari menyebutkan bahwa kehamilan Rasulullah dimulai pada malam Jumat di bulan Rajab. Malam itu, Allah memerintahkan penjaga surga untuk membuka pintu-pintu surga dan mengumumkan bahwa Nur Muhammad telah berpindah ke dalam rahim Aminah. Pengumuman ini menjadi kabar gembira bagi seluruh alam semesta.
Kejadian luar biasa juga terjadi di bumi. Pada malam kehamilan tersebut, berhala-berhala di seluruh dunia terjungkal sebagai simbol hilangnya kekuasaan Jahiliah. Sementara itu, wilayah Makkah yang sebelumnya dilanda kekeringan berubah menjadi subur. Pohon-pohon berbuah lebat dan bantuan datang dari berbagai penjuru, sehingga tahun itu dikenal sebagai “Tahun Kemenangan dan Kegembiraan” (sanatul fathi wal ibtihaj).
Sayyidah Aminah sendiri merasakan keistimewaan saat mengandung Rasulullah. Ia tidak merasakan beban kehamilan seperti wanita pada umumnya. Dalam sebuah mimpi, ia diberi kabar bahwa dirinya mengandung pemimpin umat. Saat mendekati kelahiran, ia diperintahkan untuk melantunkan doa perlindungan bagi anaknya dari segala keburukan, serta memberikan nama “Muhammad” kepada bayi yang akan lahir kelak. (Al-Qastalani, 2004: juz 1, h. 116-119)
Peristiwa ini menjadi bukti nyata kemuliaan Rasulullah, bahkan sebelum kelahirannya. Sebagai calon nabi terakhir, keberadaan beliau telah membawa perubahan positif pada alam semesta. Cahaya kenabian yang berpindah ke rahim Sayyidah Aminah menandakan dimulainya era baru bagi umat manusia karena kebenaran, keadilan, dan kasih sayang akan ditegakkan.
Hakikat Nur Muhammad
Nur Muhammad adalah konsep metafisik dalam tradisi Islam yang memiliki akar kuat dalam tasawuf dan filsafat Islam. Istilah ini secara harfiah berarti “Cahaya Muhammad” dan merujuk pada cahaya primordial atau asal-usul spiritual dari Nabi Muhammad sebelum penciptaan alam semesta. Nur Muhammad dianggap sebagai makhluk pertama yang Allah ciptakan dan menjadi sumber atau sebab bagi penciptaan seluruh alam semesta.
Dalam pandangan ini, Nur Muhammad adalah “hakikat” dari Nabi Muhammad dalam bentuk cahaya, bukan jasad fisik. Konsep ini diakui oleh kalangan sunni. Ibnul Mibrad al-Hanbali (w. 909 H) menjelaskan bahwa Allah menciptakan cahaya Nabi Muhammad sebelum ‘Arsy, Kursi, langit, dan bumi. Dari cahaya ini, muncul sosok yang memuji Allah dengan tasbih, mencerminkan keagungan Sang Pencipta.
Sosok tersebut kemudian diizinkan mandi di Lautan Cahaya dan menghasilkan tetesan yang menjadi asal penciptaan para nabi. Setiap tetesan menciptakan satu nabi, yang kemudian mengelilingi ‘Arsy bersama sosok cahaya itu, sambil memuji Allah. Hal ini menunjukkan peran cahaya Nabi Muhammad sebagai sumber keberkahan dan awal penciptaan. (al-Hanbali, tanpa tahun: h. 81)
Imam al-Qasthalani (w. 923 H) menegaskan keistimewaan Nabi Muhammad dibanding para nabi lainnya. Ia menjelaskan bahwa seluruh mukjizat para nabi berasal dari Nur Muhammad. Cahaya ini seperti matahari, sementara nabi-nabi lainnya seperti bintang yang memantulkan sinarnya. Para ulama lain seperti Ibn Marzuq juga menyatakan bahwa mukjizat para nabi adalah pantulan dari cahaya Nabi Muhammad. Ia menegaskan bahwa Nur Muhammad tidak pernah berkurang, meskipun menjadi sumber bagi berbagai mukjizat para nabi sepanjang sejarah.
Ibn Marzuq melanjutkan bahwa cahaya Nabi Muhammad telah muncul sejak zaman Nabi Adam. Adam diberi ilmu nama-nama seluruh makhluk dari maqam jawami’ al-kalim yang juga dianugerahkan kepada Nabi Muhammad, menunjukkan koneksi spiritual lintas zaman. (Al-Qastalani, 2004: juz 1, h. 583)
Menurut al-Diyar Bakri (w. 966 H), Nur Muhammad adalah ciptaan pertama Allah. Seluruh makhluk lain, termasuk ‘Arsy, air, dan pena, diciptakan setelahnya. Penjelasan ini menggarisbawahi posisi sentral Nur Muhammad dalam kosmologi Islam. Al-Diyar Bakri juga menyebutkan bahwa penciptaan pertama, seperti pena dan ‘Arsy, bersifat relatif. Namun, Nur Muhammad adalah ciptaan pertama secara absolut sehingga menjadikannya sumber segala keberkahan dan ilmu.
Dalam konteks ini, Imam Ibn Hajar al-Haytami (w. 974 H) menghubungkan hadis “Awal ciptaan adalah cahaya Nabimu, wahai Jabir” dengan narasi penciptaan lainnya. Hal ini menunjukkan kesepakatan ulama bahwa Nur Muhammad adalah awal segala sesuatu. Imam al-Qari (w. 1014 H) juga menegaskan bahwa Nur Muhammad merupakan penciptaan pertama secara hakiki. Beliau menyebut bahwa ruh atau cahaya Nabi Muhammad menjadi sebab utama kehidupan seluruh makhluk, termasuk para nabi. (Al-Qari, 2012: juz 2, h. 4) K
esimpulannya, konsep Nur Muhammad memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam pandangan para ulama. Ia tidak hanya dianggap sebagai simbol spiritual, tetapi juga sebagai sumber awal penciptaan alam semesta dan keberkahan yang menyertainya. Pemahaman ini memperkuat keyakinan umat Islam tentang keistimewaan Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Melalui perspektif ini, cahaya Nabi Muhammad merefleksikan hubungan spiritual yang mendalam antara Allah, Rasul-Nya, dan umat manusia. Nur Muhammad tidak hanya menjadi awal mula penciptaan, tetapi juga pusat keberlanjutan kehidupan dan petunjuk ilahi yang memandu umat manusia di dunia.
Muhamad Abror
Dosen Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta. Alumnus Pesantren KHAS Kempek Cirebon dan Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta.
*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/islami/ar-5lNH8/rajab–bulan-diturunkannya-nur-muhammad-pada-rahim-ibunda-rasulullah










