Home / Uncategorized / Peran Islam Moderat dalam Meluruskan Narasi Ekstrem di Platform Game Online

Peran Islam Moderat dalam Meluruskan Narasi Ekstrem di Platform Game Online

jalanhijrah.com – Game online kini menjadi salah satu ruang sosial utama bagi anak dan remaja. Melalui platform ini mereka bermain, berinteraksi, dan membentuk identitas diri—sering kali tanpa pengawasan orang tua. Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh kelompok radikal.

Densus 88 mencatat perubahan signifikan dalam pola perekrutan teroris. Jika pada 2011–2017 hanya 17 anak yang terpapar ekstremisme, maka pada 2025 jumlahnya melonjak menjadi 110 anak, banyak di antaranya direkrut melalui game online. Kenaikan drastis ini menandakan adanya pergeseran besar dalam strategi perekrutan.

Kelompok radikal tidak lagi mengandalkan pertemuan langsung. Mereka memanfaatkan ruang digital yang setiap hari diakses anak-anak, membuat proses penargetan berlangsung tanpa menimbulkan kecurigaan. Game online menyediakan interaksi intens yang memudahkan pendekatan.

Data lain dari Densus 88 memperlihatkan kecenderungan yang tak kalah mengkhawatirkan. Dalam periode Desember 2024 hingga November 2025, dua dari tiga terduga teroris yang ditangkap berusia 18–19 tahun. Ini menunjukkan bahwa proses radikalisasi dimulai jauh sebelumnya, ketika mereka masih aktif bermain game.

Sebagian pelaku juga tercatat sebagai relapse—kembali terlibat dan merekrut lewat jalur digital. Internet memberi ruang bagi mantan pelaku untuk membangun jaringan baru tanpa perlu bertemu langsung dengan target.

Proses perekrutan dilakukan di ruang digital tertutup, seperti grup gim, pesan pribadi, dan forum eksklusif yang sulit dipantau. Perekrut menyamarkan identitas dan masuk sebagai teman bermain. Mereka membangun kedekatan melalui obrolan ringan dan pujian sebelum secara perlahan menyisipkan narasi ekstrem. Anak yang menjadi target biasanya tidak menyadari perubahan ini.

Anak dan remaja menjadi sasaran ideal karena mereka sedang mencari jati diri, membutuhkan penerimaan, dan merindukan pengakuan. Komunitas game sering memberi rasa kebersamaan yang mereka cari, sehingga mudah dimanfaatkan oleh perekrut.

Minimnya literasi agama membuat mereka semakin rentan. Pemahaman keagamaan yang hanya berasal dari potongan konten singkat menyebabkan mereka tak mampu memeriksa konteks ayat atau hadis yang digunakan perekrut.

Literasi digital yang masih rendah juga membuat mereka sulit mengenali manipulasi psikologis dan tanda-tanda perekrutan. Lingkungan game yang menyenangkan menciptakan rasa aman palsu, padahal ancaman justru tersembunyi di dalamnya.

Orang tua pun sering tidak terlibat dalam aktivitas digital anak. Mereka tidak mengetahui game yang dimainkan, maupun dengan siapa anak berinteraksi. Akibatnya, ruang virtual anak menjadi area tanpa pendampingan, sehingga radikalisasi digital dapat berjalan diam-diam namun tetap berdampak besar. Karena itu, melarang game bukanlah solusi.

Game telah menjadi bagian dari kehidupan generasi digital. Yang dibutuhkan adalah narasi tandingan yang kuat, masuk akal, dan relevan. Islam moderat menawarkan fondasi yang tepat—ajaran yang seimbang, jauh dari ekstremisme, dan mampu memberikan panduan rasional yang diperlukan remaja masa kini.

Pandangan M. Quraish Shihab memberikan landasan penting bahwa Islam pada dasarnya merupakan agama yang menjunjung moderasi. Konsep wasathiyah menekankan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Menurut beliau, sikap moderat hanya dapat terwujud jika seseorang mempertimbangkan kondisi nyata sekaligus berpegang pada ajaran agama. Dengan pemahaman ini, seorang Muslim dapat menafsirkan situasi secara bijaksana.

Pemahaman agama yang tidak proporsional membuka ruang bagi tumbuhnya ajakan ekstrem. Karena itu, gagasan wasathiyah harus disampaikan secara tegas dan mudah dipahami. Remaja perlu sadar bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan tanpa alasan, maupun menebarkan kebencian terhadap orang lain.

Prinsip tawassuth menolak sikap berlebihan dalam beragama. Tasamuh mengajarkan pentingnya toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Tawazun menuntut keseimbangan dalam mengambil keputusan moral. Sementara i‘tidal menegaskan bahwa keadilan adalah fondasi setiap tindakan.

Namun, penyampaian prinsip-prinsip ini tidak bisa lagi menggunakan metode tradisional. Generasi digital membutuhkan bentuk komunikasi yang visual, interaktif, dan dekat dengan keseharian mereka. Pola ceramah panjang tidak lagi efektif.

Karenanya, Islam moderat harus hadir dalam ruang digital yang remaja gunakan. Video pendek, meme edukatif, forum santai, hingga podcast singkat dapat menjadi media yang lebih diterima. Narasi tandingan harus tampil di platform yang sama dengan propaganda ekstrem. Ulama muda, pendidik agama, dan influencer positif perlu masuk ke komunitas gamer. Mereka harus memahami gaya bahasa gamer dan tampil sebagai teman yang menyenangkan, bukan sebagai sosok yang menggurui. Kehadiran seperti ini dapat menjadi alternatif yang sehat bagi remaja.

Komunitas gamer Muslim moderat juga sangat penting. Ruang ini dapat menjadi tempat aman untuk bermain sekaligus belajar nilai positif. Mereka dapat bersama-sama menolak pesan ekstremisme. Peran orang tua juga tidak kalah krusial. Mereka perlu mengenal game yang dimainkan anak dan berdialog dengan tenang. Anak yang merasa didengar akan lebih terbuka.

Pendekatan seperti ini jauh lebih efektif dibanding pengawasan yang keras. Sekolah pun perlu memadukan literasi digital dan literasi agama, karena keduanya saling melengkapi. Anak harus dilatih berpikir kritis sekaligus memahami agama secara seimbang. Pendidikan semacam ini menjadi benteng yang kuat.

Jika Islam moderat hadir secara konsisten di ruang digital, ruang gerak ideologi ekstrem akan semakin sempit. Remaja akan lebih mampu menolak ajakan mencurigakan dan lebih siap menghadapi tekanan sosial. Narasi moderat harus menjadi bagian dari ekosistem digital mereka. Islam moderat perlu hadir di tempat mereka beraktivitas. Jika tidak, ruang digital akan terus dikuasai narasi menyesatkan—sesuatu yang tidak boleh dibiarkan.

Game online seharusnya menjadi tempat hiburan yang aman. Tanggung jawab kita adalah memastikan ruang itu bebas dari infiltrasi ekstremisme. Dengan narasi Islam moderat, anak-anak dapat bermain tanpa ancaman ideologi berbahaya.