Beranda / Taubat / Pasca-Pilpres: Rajut Kerukunan untuk Keutuhan Indonesia

Pasca-Pilpres: Rajut Kerukunan untuk Keutuhan Indonesia

Jalanhijrah.com – Tensi memanas jelang perhelatan Pilpres merupakan hal yang sangat wajar. Terlebih totalitas upaya dalam rangka memenangkan calon yang diusung. Segala jerih payah dan upaya dikerahkan demi hasil yang maksimal, bahkan terkadang dengan cara tidak terpuji sekalipun. Asalkan menang tak jadi soal.

Sebaran hoaks, hate speech menghiasi dinding media sosial. Satu-persatu fitnah menyebar setiap waktu tanpa dapat dihindari. Namun, pasca pencoblosan, alangkah baiknya meredam pertikaian, perselisihan dengan saling menghormati, berdamai, dan merajut kembali kerukunan.

Sebab sikap pemaaf harus dimiliki setiap umat Islam, seperti yang dijelaskan dalam surah Al A’raf ayat 199:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Artinya: “Jadilah pemaaf dan perintahkan untuk berbuat kebaikan, serta jangan pedulikan cibiran orang-orang yang bodoh.”

Dalam tafsir As-Sa’di dijelaskan:

هذه الآية جامعة لحسن الخلق مع الناس، وما ينبغي في معاملتهم، فالذي ينبغي أن يعامل به الناس، أن يأخذ العفو،- أي: ما سمحت به أنفسهم، وما سهل عليهم من الأعمال والأخلاق، فلا يكلفهم ما لا تسمح به طبائعهم، بل يشكر من كل أحد ما قابله به، من قول وفعل جميل أو ما هو دون ذلك، ويتجاوز عن تقصيرهم ويغض طرفه عن نقصهم، ولا يتكبر على الصغير لصغره، ولا ناقص العقل لنقصه، ولا الفقير لفقره، بل يعامل الجميع باللطف والمقابلة بما تقتضيه الحال وتنشرح له صدورهم.

Artinya: “Ayat ini mencakup pembahasan tentang berakhlak mulia kepada orang lain dan perbuatan yang patut saat berinteraksi dengan mereka. Salah satu perbuatan itu adalah berbesar hati memaafkan kesalahan, dan bersikap toleran. Tidak perlu ada pemaksaan terhadap tabiat yang telah mereka miliki, namun cukup mensyukuri atas perbuatan yang mampu mengimbanginya seperti berbuat baik, ucapan santun dan lain sebagainya, memaafkan kesalahannya, tidak sombong terhadap minoritas, terhadap orang bodoh, terhadap fakir, bahkan sebaiknya merangkul mereka dengan lembut dan sikap yang menyenangkan sekaligus membuat hati gembira.”

وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ- أي: بكل قول حسن وفعل جميل، وخلق كامل للقريب والبعيد، فاجعل ما يأتي إلى الناس منك، إما تعليم علم، أو حث على خير، من صلة رحم، أو بِرِّ والدين، أو إصلاح بين الناس، أو نصيحة نافعة، أو رأي مصيب، أو معاونة على بر وتقوى، أو زجر عن قبيح، أو إرشاد إلى تحصيل مصلحة دينية أو دنيوية،

Artinya: “Suruhlah berbuat kebaikan maksudnya dengan ucapan yang santun, perbuatan baik, akhlaq mulia untuk orang yang dekat maupun jauh. Tebarkan sesuatu yang positif darimu untuk mereka, misalnya bisa dengan mengajarkan ilmu, mengajak berbuat kebaikan seperti silaturahim, patuh pada agama, mendamaikan mereka yang berselisih, memberikan nasihat yang bermanfaat, pendapat yang benar, mengajak untuk berbuat baik dan takwa pada Allah, mencegah keburukan, membimbing meraih kemaslahatan agama (ukhrawi) dan duniawi.”

ولما كان لا بد من أذية الجاهل، أمر اللّه تعالى أن يقابل الجاهل بالإعراض عنه وعدم مقابلته بجهله، فمن آذاك بقوله أو فعله لا تؤذه، ومن حرمك لا تحرمه، ومن قطعك فَصِلْهُ، ومن ظلمك فاعدل فيه

Artinya: “Dan jika ditemukan perbuatan/ucapan yang menyakitkan hati dari orang-orang bodoh, maka Allah memerintahkan untuk berpaling dari mereka dan tidak membalas kebodohan itu; siapa saja yang menyakitimu dengan ucapan atau tindakannya, jangan engkau balas; dan siapa saja yang menghalangimu, jangan kau balas mengalangi mereka; dan siapa saja yang memutus tali silaturahim, maka sambunglah tali itu; dan siapa saja yang bersikap dzalim, maka bersikaplah adil.”

Dari sini, dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan pendapat dan munculnya pertikaian yang bermula dari hawa panas Pilpres sudah saatnya diredam dan didinginkan bersama-sama demi keutuhan negeri tercinta, Indonesia.

Sudah seharusnya mereka yang telah terpilih oleh rakyat, segera bersiap merealisasikan janji-janjinya, bersinergi dengan rakyat, memaafkan kompetitornya dan menolong kaum tertindas serta menegakkan hukum dengan adil.