Jalanhijrah.com – Shalat lima waktu merupakan perkara yang wajib bagi umat Islam yang mukallaf untuk dilakukan setiap hari, sebab shalat adalah pilar agama. Konsekuensinya, siapa saja dari umat Islam yang meninggalkan sholat, maka sama halnya merobohkan agama.
Selain itu, sholat juga dapat mencegah dari perbuatan buruk dan munkar. Allah berfirman:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ
Artinya: Bacakan wahyu yang telah sampai kepadamu (wahai Muhammad), dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat dapat mencegah berbuatan buruk dan munkar (Al-Ankabut: 45)
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan tentang orang yang melaksanakan sholat itu mencakup dua perkara; meninggalkan perbuatan buruk dan perbuatan munkar. Maksudnya, setiap muslim yang rajin menjalankan sholat mendorongnya untuk meninggalkan perbuatan buruk dan kemunkaran.
Pakar tafsir Indonesia, Prof Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, mengemukakan substansi sholat adalah mengingat Allah. Siapa pun yang mengingat Allah dengan memelihara baik shalatnya, maka dia akan selalu terbuka menerima cahaya ilahi. Cahaya inilah yang menjadikan seseorang terpelihara dari kedurhakaan, dosa, dan ketidakwajaran. Sebab, shalat merupakan ibadah yang keutamaannya melebihi dari ibadah-ibadah yang lain.
Lantas bagaimana jika ada orang yang tekun ibadah shalat namun masih melakukan perbuatan buruk dan kemunkaran?
Dalam hal ini Ibnu Katsir mengutip hadis riwayat Imran dan Ibnu Abbas:
وقد جاء في الحديث من رواية عمران ، وابن عباس مرفوعا : ” من لم تنهه صلاته عن الفحشاء والمنكر ، لم تزده من الله إلا بعدا
Artinya: Dalam sebuah hadis marfu’ dari Imran dan Ibn Abbas disebutkan, Siapa saja yang sholatnya tidak dapat mencegah keburukan dan kemunkaran, maka Allah akan menjauhinya.
Dari keterangan di atas dapat dipahami bersama bahwa maksud shalat dapat mencegah perbuatan buruk dan kemunkaran itu artinya orang yang rajin menjalankan sholat akan memiliki kecenderungan dan kebiasaan baik untuk selalu taqarrub ilallah. Ia disibukkan beribadah dan meninggalkan perbuatan buruk, dan kemaksiatan.
Di samping itu, sholat yang dilakukan harus disertai dengan hati yang khusyuk, karena akan membentuk kepribadian seseorang, sehingga unsur positif (atsar) dapat membekas dalam sanubarinya dan mempengaruhi perbuatannya dalam kehidupan sehari-hari.






