Menu

Mode Gelap

Perempuan · 2 Des 2021 16:00 WIB ·

Nyai Hajjah Dlomroh Perempuan Tangguh di Balik Kebesaran Lirboyo


					Nyai Hajjah Dlomroh Perempuan Tangguh di Balik Kebesaran Lirboyo Perbesar

Jalanhijrah.com-Pernikahan Kiai Manab dan Nyai Dlomroh lima tahun berlalu sejak Kiai Manab datang ke Tebuireng. Mulanya ia bermaksud berguru kepada KH. Hasyim Asy’ari yang mendirikan pondok pesantren di sana. Alih-alih, sang pengasuh justru memintanya ikut bantu mengajar. Sebab, Kiai Hasyim adalah sahabatnya kala menimba ilmu dari Syaikhona Kholil di Bangkalan, Madura, sehingga mengerti betul kapasitas keilmuannya.

Usia Kiai Manab telah mencapai setengah abad. Soal keilmuan, beragam fan ilmu agama mahir dikuasainya, apalagi ilmu alat yang Kiai Manab sering menjadi rujukan dalam menjawab persoalan-persoalannya yang merumitkan. Akan tetapi, masih saja ia tak mengisyaratkan tanda-tanda hendak menanggalkan status lajangnya. Kiai Hasyim pun berinisiatif mencarikannya jodoh yang sesuai.

Kiai Hasyim mempunyai kerabat di Banjarmlati, Kediri. Kiai Sholeh namanya. Kelak kita mengenal Kiai Sholeh Banjarmlati ini sebagai kiai yang hampir semua anak dan menantunya menjadi pendiri beberapa pondok pesantren besar di Kediri. Kiai Hasyim mengutus salah satu santrinya sowan kepada Kiai Sholeh sembari menghaturkan tanya apakah Kiai Sholeh mempunyai anak gadis yang siap dinikahkan.

Utusan Kiai Hasyim pulang ke Tebuireng dengan membawa jawaban yang sesuai harapan. Selanjutnya, Kiai Hasyim mengirim kembali utusannya kepada Kiai Sholeh, kali ini guna mengajukan lamaran agar kiranya Kiai Sholeh berkenan menikahkan putrinya dengan sosok alim bernama Kiai Manab yang tengah tinggal di pesantren milik Kiai Hasyim.

Tak lama berselang, Kiai Sholeh datang mengunjungi Tebuireng demi melihat langsung sosok Kiai Manab. Pada kesempatan itu pula, Kiai Sholeh menerima lamaran yang telah diajukan sebelumnya. Kiai Manab pun dinikahkan dengan Dlomroh, putri Kiai Sholeh yang berusia 15 tahun. Tarikh menunjukkan pernikahan tersebut dilangsungkan pada 8 Shafar 1328 hijriah yang bertepatan dengan tahun 1908 masehi.

Dari Banjarmlati ke Lirboyo

Kisah hidup bersama Kiai Manab dan Nyai Dlomroh bermula di desa Banjarmlati. Setahun berselang, setelah kelahiran Hannah, putri mereka yang pertama, mereka hijrah ke desa Lirboyo yang jaraknya dari desa Banjarmelati adalah sekitar 3,9 km.

Baca Juga  Sel Terorisme di (LDK) Kampus

Kepindahan Kiai Manab dan Nyai Dlomroh dari Banjarmlati ke Lirboyo bukanlah inisiatif mereka sendiri, melainkan atas perintah Kiai Sholeh. Ayah Nyai Dlomroh itu telah membeli sebidang tanah di sana serta membangun rumah sederhana di atasnya. Kepala Desa Lirboyo pernah memohon kepada Kiai Sholeh agar menempatkan salah satu menantunya di desa Lirboyo demi mengatasi keadaan desa yang semakin meresahkan. Kiai Sholeh menunjuk Kiai Manab untuk melaksanakan misi tersebut yang diterima oleh Kiai Manab dengan patuh.

Jangan bayangkan kondisi desa Lirboyo saat itu adalah sebagaimana yang kita lihat saat ini. Perusuh, maling, dan perampok yang bermarkas di sana membuat kondisinya berbahaya. Belum lagi keberadaan jin-jin jahat di sana menambah suasananya menjadi angker. Permohonan Kepala Desa Lirboyo kepada Kiai Sholeh tadi semacam jurus demi menentramkan desa, yaitu dengan menempatkan seorang yang alim agar bertempat tinggal dan mendakwahkan ajaran-ajaran agama Islam di sana.

Kiai Manab lebih dulu pindah ke desa Lirboyo. Nyai Dlomroh menyusul beberapa saat kemudian bersama putri kecil mereka, Hannah. Cobaan demi cobaan datang silih berganti menerpa mereka pada masa-masa awal tinggal di sana. Misalnya, barang-barang milik keluarga Kiai Manab sering dicuri sampai-sampai Nyai Dlomroh pernah mengenangnya demikian, “Gek aku lagi tas-tasan nang kene, aku mbiyen duwe lading sitok we nek lali ra dilebokke ilang, wedhus ya ilang.” (Saat saya pertama kali tinggal di sini (Lirboyo), saya hanya mempunyai satu pisau, itu saja jika lupa tidak dimasukkan ke rumah pasti hilang, kambing pun hilang.) Meski begitu, segala cobaan mereka hadapi dengan tegar dan sabar.

Peran Penting Nyai Dlomroh

Cikal bakal pendirian Pondok Pesantren Lirboyo berawal dari kedatangan Umar, santri pertama Kiai Manab asal Madiun. Sejak saat itu—seiring nama Kiai Manab yang kian masyhur—kediaman Kiai Manab semakin ramai oleh kehadiran santri-santri. Apalagi, setelah tahu Kiai Manab merintis pesantren, konon Syaikhona Kholil menolak santri-santri yang hendak berguru kepadanya, dan justru mengarahkan mereka agar berguru saja kepada Kiai Manab.

Baca Juga  Katanya Ingin Setara, Kok Masih Ada Organisasi Khusus Perempuan? Mari Kita Telusuri

Setiap orang butuh tempat bernaung, demikian pula para santri Kiai Manab yang makin hari makin banyak jumlahnya. Tempat yang tersedia, yakni rumah keluarga Kiai Manab, tentu saja tidak muat menampung mereka semua. Nyai Dlomroh-lah yang kemudian mengusahakan pembangunan kamar-kamar santri. Dan saat lahan yang tersedia tak lagi memadai untuk dibangun, Nyai Dlomroh pula yang memperluas kawasan dengan membeli lahan-lahan baru dengan merogoh kocek sendiri, hingga Pondok Pesantren Lirboyo memiliki kawasan yang luas. Menurut KH. Ibrahim A. Hafidz, total keseluruhan lahan yang dibeli Nyai Dlomroh menggunakan uang pribadinya guna kebutuhan Pondok Pesantren Lirboyo adalah sekitar 4,8 hektar.

Tak hanya itu saja, Nyai Dlomroh juga merupakan figur penting di balik pendirian masjid. Awalnya, kegiatan para santri—khususnya shalat berjamaah dan mengaji—berpusat di sebuah langgar yang temboknya hanya berupa anyaman bambu, sedangkan atapnya sekadar daun kelapa. Lama-kelamaan langgar tersebut tak cukup lagi menampung para santri sebab ukurannya yang kecil. Nyai Dlomroh akhirnya meminta kepada ayahnya agar berkenan membangunkan sebuah masjid.

Kiai Sholeh pun dengan senang hati mengabulkan permintaan putrinya tersebut. Di kemudian hari, masjid yang didirikan Kiai Sholeh atas permintaan Nyai Dlomroh ini dikenal dengan sebutan Masjid Lawang Songo.
Perlu pembaca ketahui bahwa Kiai Manab adalah kiai yang waktunya terserap habis untuk mengajar, mengimami jamaah, dan muthala’ah. Waktu yang seharusnya dipakai beristirahat pun masih dipangkasnya guna mengerjakan shalat sunnah, wiridan, dan mendoakan para santri. Dengan demikian, praktis tak ada lagi waktu yang tersisa untuk memperhatikan hal-hal lainnya. Nyai Dlomroh berperan penting mengisi peran-peran yang tidak sempat ditunaikan suaminya tersebut, termasuk dalam membangun sarana dan prasarana pesantren. Bahkan, bisa dibilang sosok yang menjadi tulang punggung keluarga Kiai Manab adalah Nyai Dlomroh dengan ketrampilannya berdagang, bertani, dan memelihara ternak.

Mbah Qowaid, keponakan Kiai Manab, pernah menuturkan sebuah kisah. Kiai Manab pernah diminta oleh para kerabatnya yang ada di Magelang, Jawa Tengah, agar pulang ke tanah kelahirannya tersebut. Di sana telah disediakan sebuah lahan yang bisa digunakan Kiai Manab membangun rumah, masjid, dan pesantren. Mengetahui hal ini, Nyai Dlomroh berkata kepada Kiai Manab, “Menawi njenengan sak estu badhe pindah wonten Magelang, kawula ndereaken, kawulo purun diajak. Nanging, wonten mrika kawula mboten njamin saged ngladeni njenengan. Menawi wonten nggih tak ladeni, menawi mboten wonten nggih mboten kawulo ladeni. Ning menawi tetep wonten Lirboyo, kawulo njamin saged ngladeni, panjengan namung ngibadah lan ngaos.” (Jika Anda bersungguh-sungguh akan pindah ke Magelang, saya pasrah dan bersedia diajak. Namun, di sana saya tidak berani menjamin dapat melayani Anda. Jika ada, ya saya layani, jika tidak ada, ya tidak. Akan tetapi, apabila Anda tetap bersedia tinggal di Lirboyo, saya berani menjamin dapat melayani Anda. Anda cukup konsentrasi ibadah dan mengaji). Setelah dipertimbangkan, Kiai Manab menolak permintaan tersebut dan memutuskan tinggal di Lirboyo.

Baca Juga  Ini Orang Yang Paling Bahagia Mendapatkan Syafaat Rasulullah

Nafkah memanglah kewajiban suami. Namun, bukan berarti Kiai Manab adalah suami yang tidak bertanggung jawab terhadap nasib keluarganya. Nyai Dlomroh justru melarang suaminya tersebut bekerja, supaya dapat senantiasa fokus mengaji dan beribadah, sementara kebutuhan keluarga dan pesantren biarlah ia yang menopangnya. Betapa pengorbanan Nyai Dlomroh ini sangat menunjang keberhasilan Kiai Manab sebagai kiai yang santri-santrinya banyak menjadi orang besar.

Penutup

Narasi perjalanan pondok pesantren biasanya berpusat pada figur kiai, sehingga tak sedikit peran bu nyai yang luput dari pencatatan. Padahal, banyak peran bu nyai yang haram dikesampingkan, sebab ikut menentukan kemajuan pesantren, seperti peran Nyai Dlomroh yang sangat mempengaruhi kemajuan Pondok Pesantren Lirboyo. Bila Lirboyo diibaratkan tubuh, Nyai Dlomroh adalah sosok yang sangat memperhatikan urusan lahirnya, seperti membangunkan kamar, memperluas kawasan, dan sebagainya, selagi Kiai Manab fokus membina urusan batinnya.

Zahid Murtadlohttps://alif.id/read/m-zahid-murtadho/nyai-hajjah-dlomroh-perempuan-tanggih-di-balik-kebesaran-lirboyo-b241060p/

 

Artikel ini telah dibaca 37 kali

Baca Lainnya

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

8 Februari 2023 - 12:00 WIB

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur
Trending di Perempuan