Reuni 212 dan Gerakan Politik Bungkus Agama

Jalanhijrah.com-Persaudaraan Alumni 212 berencana menggelar acara reuni akbar pada tanggal 2 Desember mendatang. Banyak yang menginginkan reuni itu terjadi. Tetapi banyak juga yang meminta reuni dibatalkan karena berpotensi menambah masalah. Terutama terjadinya lonjakan Covid-19.

Covid menjadi masalah krusial hari ini. Apalagi jika ditambah mau mengadakan reuni yang sebenarnya tidak urgen. Tapi begitulah politik. Covid yang menghabisi banyak korban tak berdampak apa-apa bagi pemain politik. Bahkan tidak dianggap bahaya.

Menuju 2024, pemain politik kembali melirik gerakan aksi 212. Meski sebelumnya kita andaikan tidak mungkin terulang kembali sejarah Indonesia, tapi fakta berkata lain. Masih banyak orang yang ingin menelan korban pada permainan politik sentimen di Jakarta yang berbungkus agama itu.

Gerakan politik berbungkus agama menjadi jalan lapang bagi politisi bahkan hari ini. Sekilas bahkan menjadi kebutuhan bagi orang-orang politisi. Meski yang mempermainkan itu bukan orang-orang atau partai Islam secara keseluruhan. Tapi sebagian partai sekuler yang diam-diam masuk peradaban politik Islam yang sebelumnya mereka cerca. Efeknya tetap pada umat Islam sendiri.

Gerakan Politik Bungkus Agama

Begitulah gerakan politik. Gerakan reuni 212 tidak mau bekerja dalam tataran etis dan adab. Semuanya boleh-halal dan berjalan dengan taktis dan gesit. Haram pun dilindas. Melihat fakta demikian, bagaimana sebenarnya membaca fenomena itu untuk kemudian kita bisa lemparkan kepada masyarakat.

Baca Juga  Pantaskah Bahar bin Smith Disebut Ulama?

Reuni 212 adalah gerakan politik yang mempermainkan emosi masyarakat. Ia bergerak dalam hitungan kerja-kerja politik. Hanya segelintir orang yang kita lihat menikmati hasilnya. Ia bukan masyarakat muslim Indonesia. Ia juga tidak menguntungkan moral umat Muslim itu sendiri.

Dengan adanya reuni 212, sebenarnya malah memperburuk citra umat muslim di Indonesia.

Tak bisa dibaca bahwa reuni 212 adalah gerakan murni untuk membangkitkan umat Islam. Katakanlah meninggikan ekonomi umat Islam. Reuni 212 dalam politik dunia jelas dibaca sebagai gerakan politik Islam yang memanfaatkan umat Islam. Tapi agama dirusak hanya menguntungkan politik.

Banyak yang menyayangkan akan adanya reuni 212. Selain banyak mudaratnya. Ia juga memberikan bekas jelek yang mendalam di hati umat Islam. Masih banyakkah orang-orang yang bermusuhan antartetangga dan antarsaudara gara-gara terjadinya politik identitas Jakarta 2017? Jelas banyak. Orang-orang di luar kota Jakarta saja menerima dampak jelek itu.

Berhenti Mempermainkan Agama

Melihat fenomena demikian, hari ini mungkin kita harus berhenti memainkan narasi sentimen dalam bungkus agama. Gerakan reuni 212 tidak perlu diteruskan jika yang ada hanya memanfaatkan emosi masyarakat yang berdampak pada sintimen ras dan agama.

Agama cukup untuk agama. Dan politik cukup untuk bergerak di jalan politik. Agama dikhususkan untuk meningkatkan martabat manusia dan mendalamkan rohani keikhsanan. Termasuk juga bagaimana toleran menjalankan agama.

Baca Juga  Muslihat Para Tokoh HTI dalam Mengkampanyekan Khilafah

Umat Islam juga harus toleran kepada umat yang lain. Dan non-muslim juga harus toleran kepada semuanya. Di dalam toleransi ada ajaran inti keagamaan, yang bila diringkas adalah kasih (rahmat), kebijaksanaan (hikmat), kemaslahatan universal (maslahat ummat), keadilan (adl). Ajaran toleransi beragama itu menjadi syarat yang tak bisa dibatalkan, boleh disebut bersifat transhistoris, transideologis, trangender, dan lainnya.

Toleransi tak selalu mengacu ke luar. Toleransi agama diujikan pada konsep kedirian. Pertaruhan toleransi diminta untuk diri (self) dan lain (the other) untuk dijadikan satu kaitan yang saling beriringan melihat dunianya. Maksudnya, melihat diri juga harus melihat kaitan orang lain dan melihat yang lain juga melihat dalam sinaran keberadaan dirinya.

Umat Islam dalam hal ini reuni 212, harus toleran pada fenomena alam Covid-19. Berkumpul dalam skala yang banyak waktu pandemi menjadi marabahaya bagi umat yang lain. Dan karena itu, reuni 212 tidak harus dilakukan. Untuk menggairahkan umat Islam dalam hal agama sudah cukup di tempat-tempat agama dan ruang sosial lainnya. Bukan di tempat busuk seperti politik praktis. Kasihan umat Islam dibuat bingung oleh bangsanya sendiri. Iya, kan?

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *