Menu

Mode Gelap

Perempuan · 8 Nov 2021 08:00 WIB ·

Menguak Kegelisahan Istri Eks-Narapidana Terorisme


					Menguak Kegelisahan Istri Eks-Narapidana Terorisme Perbesar

“…. maaf saya menangis ini ingat masa lalu, saat suami saya masuk penjara. Pokoknya doa saya, jangan sampai kambuh lagi. Selama tiga tahun tahanan, saya hanya sekali bisa berkunjung. Bukan karena tidak mau, itu karena saya memang tidak punya biaya untuk berkunjung,” U.S (istri narapidana teroris kasus Bom Bali I)

Jalanhijrah.com– Di atas adalah cuplikan salah satu paper yang saya presentasikan pada Agustus 2018. Paper dengan judul “Voices of the Wives of Ex-Terrorism Inmates (Rebelling and Accepting Extremist Doctrine in Household Relationship)” ini dipresentasikan pada APRiSH 2018 Conference Program di Jakarta, dan ditulis oleh Fitria Sari dkk, (2018). Berbagai perasaan menyeruak tiada terkira. Sedih, haru, mengenaskan, kasihan, campur aduk menjadi satu selama proses presentasi.

Perempuan dalam lingkaran terorisme memang selalu menjadi korban. Pun dalam keadaan menjadi pelaku kelompok maupun lone wolf posisinya tetap menjadi korban. Korban dari penetrasi narasi ekstremis yang dimaknai sebagai kebenaran tunggal. Begitu pula ketika ia menjadi istri dari narapidana, tersangka, eks-narapidana terorisme, ia justru mengalami beban yang berlipat-lipat.

Harus berperan sebagai ibu yang mengurusi kebutuhan sekolah anak, harus menjadi ayah yang harus mencari nafkah, dan diwaktu yang sama juga dituntut untuk menaati suami secara mutlak di balik narasi ekstrimis. Jangankan memikirkan self reward untuk dirinya, tidak mendapatkan blamingdan penghakiman atas perilaku suaminya saja sudah sangat bersyukur sekali.

Namun sayangnya pembahasan mengenai isu terorisme masih sering memfokuskan diri pada ranah penegakan hukum, kerja sama pemberantasan antar negara, analisis Undang Undang, hingga pendefinisian terorisme dari kacamata hukum, agama, dan politik. Pembahasan tentang perempuan/istri dalam terorisme seringkali terlupakan dalam wacana dan diskusi mengenai isu terorisme, baik dalam penyelesaian masalah maupun pada proses pembuatan kebijakan untuk melawan terorisme di Indonesia.

Baca Juga  Memahami Hukum Wanita Saat Istihadhah

Perempuan juga menjadi sosok yang tereksklusi dalam proses perencanaan, dialog, dan respons mengenai isu pencegahan dan penanganan ektremisme, baik dari sisi kesehatan, pendidikan, keamanan hingga perdamaian.

Istri dalam Pusaran Terorisme

Menurut Sarwono (2016), istri menjadi sosok penting dalam kehidupan para pelaku teroris. Melalui pernikahan dengan pelaku teroris, istri memiliki kepentingan ketika suaminya tertangkap, tertuduh dan menjadi tersangka kasus terorisme.

Hal tersebut dikarenakan suami menjadi sosok tunggal sebagai panutan sekaligus pemimpin dalam keluarga mereka. Apabila pemimpin tersebut meninggalkan anggota keluarga, memberikan dampak besar dalam keberlangsungan kehidupan istri dan anak-anaknya.

Sjober dan Neil membagi tipologi istri pelaku terorisme menjadi tiga jenis. Tipologi pertama mengarahkan perempuan atau istri sebagai pelaku aksi terorisme, atau lebih dikenal dalam aksi “martir” dalam aktivitas terorisme. Tipologi kedua, istri yang masuk sebagai pendukung aktivitas terorisme suami.

Dukungan biasanya dalam hal pemahaman ekstremisme, penyalur informasi dalam jamaah, maupun menyembunyikan informasi terhadap keberadaan suami maupun kelompok jaringannya. Tipologi ketiga yaitu para istri yang pada dasarnya tidak mendukung aktivitas suami, dan atau yang membantu pemerintah memberikan informasi tentang aktivitas suami. Tipologi ini lebih banyak ditemukan pada istri yang kurang menyetujui aktivitas terorisme suami.

Berdasarkan penelitian Fitria Sari, dkk (2018), terdapat pergulatan pemikiran pada eks narapidana terorisme tentang relasi suami istri. Sebagaimana dinyatakan oleh May (44 tahun), istri dari Fahmi, narapidana terorisme jaringan bom bunuh diri di Masjid Kepolisian Resort Cirebon-.

Baca Juga  Fenomena Jilbabisasi dan Kekerasan Struktural di Sekolah Negeri

Ada masa tertentu yang membuat May merasa gelisah dengan kondisi perekenomian rumah tangganya. May mengaku selalu mendapatkan upaya penenangan dan penghiburan dari sang suami untuk sabar dengan keterbatasan ekonomi. Akan tetapi, pada saat itu pula May berusaha mempertanyakan ulang mengenai kondisi dan kata-kata yang disampaikan suami. Kebutuhan ekonomi tak bisa ditunda, sedangkan pemasukan nyaris tak ada.

Pun demikian, May tidak berani menentang dan menuntut kepada suami karena meyakini bahwa ketaatan kepada suami adalah sebuah kemutlakan. Melalui doktrin ideologi tersebut, muncul sebuah mekanisme kontrol kepada perempuan tentang imajinasi surga. Dapat dikatakan bahwa tidak ada penyangkalan tentang posisi suami dan imajinasi tentang surga (male senter).

May menerima secara langsung nilai ekstremis dari suami tentang imajinasi surga dan kehidupan yang damai secara kekal di akhirat. Sang istri yang patuh dan tunduk kepada suami juga tidak perlu mendapatkan perhitungan dan penyiksaan di akhirat.

Stigmatisasi, Dampak Bersuami Teroris

Meskipun keempat subjek penelitian Fitria Sari, dkk (2018), tidak mendukung aktivitas terorisme, maupun menegakkan hukum Islam di jalan Allah melalui aksi pemaksaan maupun pembunuhan, namun mereka mengalami stigmatisasi luar biasa. Selain mendapatkan pelabelan bahwa mereka juga terlibat dalam aksi terorisme, pelabelan tersebut juga dapat berujung pada diskriminasi yang dialami dalam keseharian.

Misalnya saja, May yang mengungkapkan seringkali mendapatkan pandangan sinis hingga cibiran dari orang-orang yang ditemuinya saat berjalan di tempat umum. Atas dasar narasi itulah, perempuan yang kedirian dan penampilannya diatur oleh nilai ekstremisme sedemikian rupa, justru menimbulkan pelabelan negatif hingga diskriminasi bagi perempuan itu sendiri.

Baca Juga  Membaca Partisipasi Perempuan dalam Dunia Politik dengan Nalar Emansipatoris

Aktivitas istri tidak hanya terhenti setelah mempersiapkan sekolah anak-anak, melainkan mereka juga tetap harus merawat anak, membersihkan rumah, sekaligus bekerja di sektor informal hingga sore hari. Pekerjaan tersebut sesuai dengan keyakinan narasi dalam ekstremis (berdagang), serta adanya ajaran bahwa tugas perempuan adalah ranah domestik.

Akan tetapi, perempuan juga tetap dituntut untuk membantu suami. Ironisnya, mereka tidak dianggap sebagai pencari nafkah utama, atau sampingan. Hal ini jelas menimbulkan beban pekerjaan yang berlapis bagi para subjek dalam kehidupan sehari-hari.

Perlunya Kemandirian Istri sebelum Berumah Tangga

Berdasarkan pemaparan di atas, maka di sini saya tekankan pentingnya kemandirian perempuan sebelum memutuskan untuk berumah tangga. Kemandirian disini tak hanya berhubungan dengan finansial, namun juga kemandirian dan mengambil keputusan, dan kemandirian untuk mampu bernegosiasi.

Jika perempuan sudah membekali dirinya dengan kemandirian, maka ketika berumah tangga, ia tidak akan dibayangi dengan superioritas laki-laki. Salah satunya adalah  superioritas dibalik narasi ekstremis yang acap kali membebani perempuan. Sekaligus untuk memastikan bahwa anggota dalam keluarganya tidak ada yang terpapar radikalisme. Maka yang paling utama adalah menguatkan peran istri terlebih dahulu.

Artikel ini telah dibaca 8 kali

Baca Lainnya

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

8 Februari 2023 - 12:00 WIB

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur
Trending di Perempuan