Menu

Mode Gelap

Mujadalah · 20 Sep 2021 06:22 WIB ·

Memaknai Nasionalisme Pada Momen HUT RI, Apa Hanya Sekedar Persoalan Pasang Bendera Merah Putih?


					Memaknai Nasionalisme Pada Momen HUT RI, Apa Hanya Sekedar Persoalan Pasang Bendera Merah Putih? Perbesar

Jalanhijrah.com– Ramai soal bendera Palestina, menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-76, sebuah klinik di Perumahan Villa Tangerang Elok, Kelurahan Kuta Jaya, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten malah mengibarkan bendera Palestina. (Okezone.com).

Fakta ini sebenarnya bukan barang baru, sebab kalau kita lihat di beberapa jalan kota besar, seperti Yogyakarta, Surabaya, bahkan Jakarta, sering saya melihat bendera Palestina yang berkibar di beberapa tempat. Biasanya tempat itu menunjukkan pengumpulan donasi sosial untuk Palestina.

Fakta tersebut, barangkali kita perlu telaah lebih jauh tanpa terburu-buru komentar sebagai sikap positif yang harus dimiliki oleh umat Islam. Tidak hanya itu, tentu kita harus memberikan apresiasi begitu besar kepada orang-orang yang memiliki aksi kemanusiaan yang totalitas terhadap saudara kita di Palestina.

Dimomen kemerdekaan ini, fenomena semacam ini akan menjadi perbincangan yang cukup blunder, saling lempar dan klaim paling nasionalis, paling cinta NKRI menjadi sering kita jumpa pada momen Agustusan. Isu kenegaraan yang begitu sensitif sangat apik untuk digoreng oleh beberapa kelompok yang memanfaatkan momentum kemerdekaan.

Menghormati HUT NKRI, salah satunya mengibarkan bendera merah putih

Selama kita masih hidup sebagai warga negara Indonesia, menjadi wajib hukumya  untuk tidak menciderai segala atribut yang melekat dan menjadi jati diri bangsa Indonesia, salah satunya menghargai bendera merah putih. Jika persoalan ini ditolak, sebaiknya cepat-cepat pindah dari Indonesia.

Baca Juga  NII dan Halusinasi yang Digemakan di Indonesia

Persoalan yang lain kemudian, apakah mengibarkan bendera merah putih bukti bahwa kita nasionalis? Berarti kita hanya perlu mengibarkan bendera merah putih untuk menunjukkan diri nasionalis? Kalau begitu berarti boleh korupsi, boleh makan uang rakyat, asal mengibarkan bendera merah putih, lalu saya nasionalis, sahut kelompok lain. perdebatan logika semacam ini tidak akan pernah selesai. Pemaknaan nasionalis ini sangat kompleks, setiap individu tentu memiliki pandangan dan impelementasi yang berbeda.

Pemaknaan yang menjadi masalah adalah orang-orang yang menolak untuk membela NKRI, tidak ada dalil untuk cinta Indonesia, seperti Khalid Basalamah, dan orang berjuang terus menerus untuk menegakkan khiafah, seperti ustaz Felix Shiauw, dkk. Ini yang harus kita lawan bersama. Kelompok ini membunuh NKRI, menghancurkan NKRI, dengan dalih agama.

Lagian, apasalahnya sih mengibarkan bendera merah putih. Kita sedang menghargai perjuangan para pahlawan, Ibu Fatmawati yang sudah menjahit bendera merah putih, para pahlawan nasional yang sudah berjuang susah payah. Ibarat punya pasangan, kalau kamu sudah komitmen dengan pasanganmu, kok bisa-bisanya masang foto perempuan lain di media sosialmu, misalnya. Fenomena ini dinamakan ketidaksetiaan bukan? Barangkali pemaknaannya sama dengan orang-orang yang keukeuh tidak mau padang bendera merah putih pada momentum kemerdekaan, malah pasang bendera negara lain, contohnya.

Tantangan bangsa Indonesia semakin besar dengan para pendekar khilafah

Mau tidak mau, konsekuensi logis yang harus diterima sebagai penulis adalah cacian, makian karena menolak ide besar Islam kaffah yang dibawa oleh para akhi-ukhti yang gagal moveon dari kejayaan Islam dimasa silam.

Baca Juga  Sunah Rasul, Mulailah Sesuatu Dari Sebelah Kanan

Bagi saya ini hanya masalah kecil, jika dibandingkan dengan konsekuensi yang harus diterima dengan membiarkan para milenial, penerus bangsa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia karena terlena dengan konsepsi kenegaraan yang sesuai dengan aturan Islam.

Ini adalah tantangan kita, momentum kemerdekaan menjadi salah satu refleksi bahwa PR kita sangat banyak. Tanggung jawab menjadi bagian dari bangsa Indonesia, sebagai anak muda harus terus besar, nyalinya juga besar, sebab bukan lagi soal pertarungan tentang narasi siapa paling benar lalu ikut pada kebenaran itu sendiri.

Persoalannya adalah mereka mencari afirmasi dengan  banyaknya massa agar terus membenarkan khilafah sebagai sistem yang sangat ciamik bagi negara Indonesia yang katanya kapitalis, tidak bisa menangani wabah, dan narasi kebencian lainnya.

Fenomena ini juga pasti kita ingat sebuah pidato yang disampikan oleh Ir Soekarno saat Hari Pahlawan 10 November 1961 adalah “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. Perjuangan kita berat, melawan para pengasong khilafah, para teroris, penghancur negeri, dan berbagai elemen yang mencoba merusak NKRI, dan mereka semua adalah bagian dari Indonesia. Wallahu a’lam

Artikel ini telah dibaca 3 kali

Baca Lainnya

Ini yang Dimaksud dengan Seribu Bulan dalam Lailatul Qadar

24 April 2022 - 09:00 WIB

Ini yang Dimaksud dengan Seribu Bulan dalam Lailatul Qadar

Larangan Perilaku Flexing dalam Islam

23 Maret 2022 - 12:00 WIB

Larangan Perilaku Flexing dalam Islam

Tafsir QS. Ali Imran Ayat 159: Etika Musyawarah dan Faedah di Baliknya

9 Maret 2022 - 16:00 WIB

Tafsir QS. Ali Imran Ayat 159: Etika Musyawarah dan Faedah di Baliknya

Zikir Spesial Rasulullah Untuk Muadz Bin Jabal, Apa Itu?

6 Maret 2022 - 12:00 WIB

Walaupun secara tersurat hadis ini ditujukan kepada sahabat Muadz bin jabal. Namun secara tersurat hadis ini ditujukan juga kepada semua Umat Islam. Oleh karenanya Yuks amalkan zikir spesial Rasulullah

Sudahkah Kita Ikhlas dalam Beramal?

1 Maret 2022 - 09:00 WIB

Sudahkah Kita Ikhlas dalam Beramal?

Mengenal Makna Tarekat dalam Tasawuf

23 Desember 2021 - 12:05 WIB

Mengenal Makna Tarekat dalam Tasawuf
Trending di Mujadalah