Menu

Mode Gelap

Perempuan · 2 Feb 2022 16:00 WIB ·

Melihat Lebih Jauh Potret Pemberdayaan Perempuan di Pakistan


					Melihat Lebih Jauh Potret Pemberdayaan Perempuan di Pakistan Perbesar

Jalanhijrah.com – Mendengar kata “Pakistan”, ingatan kita tentu kepada Islam, negara Timur Tengah, bahkan Arab. Benar, bahwa Negara Pakistan merupakan salah satu negara dengan penduduk muslim yang terbanyak. Dilansir dari Republika.co.id, Pakistan merupakan negara Islam yang ideal dengan pelbagai alasan, di antaranya:

Pertama, dalam kondisi Covid-19, masyarakat saling membantu, memberikan support satu sama lain, menolong dan terus menjaga kerukunan. Kedua, Pakistan adalah benteng kuat bagi seluruh dunia muslim. Pemuda Pakistan memiliki pengaruh untuk mengubah nasib negerinya itu.

Penjelasan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Nasional Pakistan, Qasim Khan Suri, mengatakan pandangan ini saat berpidato pada upacara penutupan Konferensi Nasional dua hari bertajuk “An inclusive and peaceful society in Pakistan: Challenges and Opportunities“, di Universitas Islam Islamabad.

Dalam penyampaiannya juga, diharapkan untuk masyarakat Pakistan, khususnya anak muda berperan aktif untuk menebarkan toleransi, ajaran damai disertai dukungan para ulama, lembaga pendidikan yang terus memberikan pengajaran tentang toleransi kepada masyarakat Pakistan.

Dengan kondisi ideal tersebut? bagaimana kehadiran perempuan dalam jenjang karir, kesempatan berkiprah di ranah publik di Pakistan? Seperti apa pemberdayaan perempuan di Pakistan? Mari kita lihat!

Masyarakat Muslim Pakistan sangat misoginis

Salah satu masalah yang kerap dialami oleh perempuan di Pakistan “standar baik” yang disematkan. Hal itu terjadi mungkin karena norma-norma yang diberlakukan sesuai dengan syariat Islam. Meskipun demikian, posisi perempuan yang kerap kali menjadi korban dari pengaruh budaya patriarki, tidak jarang mengalami diskriminasi dan ketimpangan.

Baca Juga  Melihat Bagaimana Website Salafi Mewacanakan Wanita Ideal Muslimah

Mengapa penulis katakan bahwa Pakistan misoginis? Ada beberapa bukti yang mendukung statement tersebut?

Tentu kita masih ingat kisah Qandeel Baloch yang dibunuh dengan alasan “kehormatan”. Perempuan yang aktif di media sosial. dia dibunuh oleh kakaknya sendiri lantaran mengunggah foto dengan salah seorang ulama.

2017 ada Mahira Khan, aktris perempuan yang dihakimi masyarakat akibat mengenakan gaun pendek dan tertangkap kamera sedang merokok di Jalanan Kota New York. Perempuan-perempuan Pakistan yang memilih jalan hidupnya kerap kali diolok-olok karena telah menyebabkan Islam dan Pakistan tidak terhormat.

Sebenarnya, kejadian semacam itu bukan hal yang baru. Sebab pada beberapa tahun silam, tepatnya tahun 2007, perempuan yang bernama Zill-e-Huma seorang menteri provinsi, dibunuh lantaran pakaiannya dianggap tidak pantas.

Di tahun yang sama, ada Nilofar Bakhtiar yang dipermalukan oleh partainya sendiri karena alasan “standart baik” tersebut. Fatwa tentang keharaman bagi perempuan, standar baik yang harus dimiliki oleh perempuan, mengakibatkan para perempuan yang berdikari, prestasi serta fokus pada bidang tertentu, melepaskan karirnya dan tidak lagi mendapat simpati dari masyarakat.

Pemberdayaan perempuan bagian dari SDGS

Dengan fenomena demikian? bagaimana seharusnya pemberdayaan dilakukan untuk meningkatkan partisipasi perempuan di Pakistan? Seperti yang kita ketahui bahwa, salah satu pilar untuk mewujudkan Substainable Development Goals adalah kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (Women Empowerment).

Baca Juga  Bolehkah Sholat Dengan Menggunakan Parfum Beralkohol?

Pemberdayaan perempuan ditentukan oleh empat dimensi, yaitu harga diri perempuan, kontrol mereka atas sumber daya, mobilitas dan partisipasi dalam proses pengambilan keputusan.

Berdasarkan hasil penelitian yang ditulis oleh: Sajid Husainkan dan Syafiq Jullandhry yang berjudul “Are urban women empowered in Pakistan? A study from a metropolitan city” menemukan bahwa sebanyak 49% perempuan tidak memiliki kendali atas pengeluaran tabungan dalam keluarga. 70-85% perempuan tidak memiliki hak kepemilikan atas properti, seperti tanah dan rumah.

Sebanyak 80% dan 55% perempuan memiliki keterbatasan mobilitas dalam lembaga keuangan. Hasil penelitian tersebut dilakukan di Kota Lahore, yakni kota kedua terbesar di Pakistan. Sebanyak 260 orang menjadi objek dalam penelitian tersebut.

Selain itu, dalam relasi internal keluarga, tidak banyak perempuan yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan, termasuk keputusan untuk berdaya sesuai dengan keinginan dan minat yang dimiliki. Meskipun demikian, ada perbedaan yang cukup menarik antara perempuan yang sudah menikah dengan yang belum menikah.

Keterlibatan perempuan pasca-menikah, kemudian memiliki anak, sebagian besar dari mereka justru merasa lebih berdaya dibandingkan dengan sebelum menikah. Perempuan Lajang hanya memiliki sedikit peran bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan.

Jika dilihat dari Indeks ketidaksetaraan gender, Pakistan menempati peringkat 136. Artinya, keterlibatan perempuan untuk mengambil peran masih terhalang oleh budaya patriarki, ditambah dengan dogma dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.

Baca Juga  Ummu Hisyam binti Haritsah, Bahagia dalam Dekapan Islam

Berdasarkan data tersebut, pemberdayaan perempuan di Pakistan masih rendah karena faktor terkuatnya adalah budaya patriarki yang masih melekat kuat pada masyarakat Pakistan.

Artikel ini telah dibaca 15 kali

Baca Lainnya

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

8 Februari 2023 - 12:00 WIB

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur
Trending di Perempuan