Pembuktian Kaum Sarungan
Saya bersyukur atas sejarah. Menjadi mahasiswa di penghujung tahun 1990-an, semestalah yang pada akhirnya membawa saya dalam suatu ekosistem pemikiran anak-anak muda yang begitu bergejolak di masa itu. Di antara sekian banyak faksi gerakan intelektual, bisa dikatakan kultur pemikiran anak-anak muda Nahdlatul Ulama (NU) adalah yang paling moncer.
Mereka bertumbuh seperti cendawan di musim hujan. Di setiap kota besar, dan bahkan di kota yang paling pelosok sekalipun, lahir anak-anak muda yang berpikir kritis, menempa diri dalam proses kreatif menulis, mendobrak-dobrak kemapanan pemikiran ‘agama’, dan ‘mencangkokan’ pikiran kritis itu dalam kultur santri, sehingga bisa berdialektika dengan kultur keagamaan tradisional NU.
Mereka bersenyawa antara satu dan lainnya sehingga menjadi arus yang sulit dibendung. Siapa pun yang hidup di zaman itu, pasti menjadi saksi derasnya arus tersebut. Arus yang begitu berdampak di dalam tubuh NU sendiri, dan berdampak pula dalam mengubah peta pemikiran Islam di Indonesia. Di periode 1970-80an, kalangan NU—termasuk anak-anak mudanya, sering diolok-olok sebagai ‘kaum sarungan’.
Istilah ini bersifat peyoratif karena tidak dimaksudkan untuk menyebut kearifan kultur santri, tetapi justru untuk menegaskan keadaan ‘jumud,’ tidak progresif, dan jauh dari pemikiran modern. Sebaliknya, keberadaan ‘kaum sarungan’ ini sering diperbadingkan dengan arus pemikiran modern Islam yang dibawa oleh tokoh-tokoh modernis sejak periode Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka (1908-1981) hingga Nurcholish Madjid (1939-2005).
‘Kaum sarungan’ juga sering diperbandingkan dengan tokoh-tokoh yang berafiliasi dengan gerakan Islam modern, sebut saja Muhammadiyah, seperti Moeslim Abdurrahman, Buya Syafi’i Maarif, Abdul Munir Mulkhan, Azyumardi Azra dan seterusnya. Pendek kata, sejauh membaca buku-buku peta pemikiran Islam di Indonesia pada 1980-an, para ahli sangat gemar menyuguhkan polarisasi hitam-putih antara pemikiran Islam modern dan Islam tradisional; Muhammadiyah vs NU; kalangan modern vs kaum sarungan.
Dan, di penghujung 1990-an, peta itu menjadi ambyar. Di periode itu, kalangan yang disebut sebagai ‘kaum sarungan’ telah membuktikan dirinya keluar dari ‘kejumudan,’ karena karya-karya intelektual mereka bukan hanya bersifat kritis-progresif, tetapi sekaligus menyalakan dialektika pemikiran Islam modern yang jauh lebih kontekstual dengan situasi Indonesia. Panggung intelektual dibuat terkejut karena hadirnya tokoh-tokoh intelektual baru yang ‘mengubur’ polarisasi pemikiran modern vs tradisional Islam.
Lahirnya tokoh-tokoh seperti Masdar Farid Mas’udi, Muhammad AS Hikam, Bisri Effendy, Abdul Mu’im DZ, Ahmad Suaedy, Marzuki Wahid, Ulil Abshar Abdalla, Rumadi, Ahmad Zainul Hamdi, Imdadun Rahmat, Abdul Moqhsith Ghazali, Zuhairi Misrawi, dan bila dilanjutkan, tulisan ini hanya akan berisi deretan nama saja, hanya sekadar untuk menggambarkan betapa menjamurnya anak-anak muda berhaluan kritis dalam tubuh NU di zaman itu. Mereka mendobrak-dobrak kemapanan pemikiran modern Islam seperti ditawarkan oleh para pendahulu modernis—yang dalam kadar tertentu dianggap sudah aus.
Kultur Hibrida
Hairus Salim dan Muhammad Ridwan memberi ilustrasi penting dengan menyebut tokoh-tokoh intelektual muda NU itu dengan istilah hibrida, seperti disinyalir dalam “Kultur Hibrida: Anak Muda NU di Jalur Kultural” (1999). Pesona mereka ditentukan oleh corak pemikiran progresif seperti ditemukan dalam berbagai publikasi ilmiah maupun buku.
Semua memahami, para intelektual muda itu juga sekaligus pelopor lahirnya publikasi mandiri seperti dilakukan oleh Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta (1992), juga publikasi dalam bentuk jurnal seperti Tashwirul Afkar oleh Lakpesdam PBNU; jurnal Gerbang yang diinisiasi oleh Lembaga Studi Agama dan Demokrasi (éLSAD) Jawa Timur; jurnal Desantara maupun Srinthil yang diinisiasi oleh Yayasan Desantara, dan; berbagai publikasi yang dikawal oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Tentu saja masih banyak publikasi lain yang tidak disebut dalam tulisan ini.
Sementara LKiS banyak berperan dalam mengintrodusir pemikiran-pemikiran kontemporer dunia Islam, dengan menerbitkan karya-karya tokoh seperti Muhammad Arkoun, Hassan Hanafi, Mahmud Muhammad Taha, Asghar Ali Engineer, Abdullah Ahmed An-Naim, dan seterusnya, maka publikasi jurnal seperti Afkar, Gerbang, Desantara dan lainnya, lebih banyak mengelaborasikan pemikiran kontemporer (baik dari dunia Islam maupun Barat) dalam konteks ke-Indonesiaan.
Para intelektul muda NU itu disebut sebagai generasi hibrida karena, pemikiran yang mereka usung sesungguhnya tidak mendapatkan sanad yang kuat, sejauh dibentangkan ke dalam tradisi pemikiran tradisional NU sendiri. Mungkin, satu-satunya tambatan intelektual yang bisa disebut sebagai sanad adalah gagasan Islam emansipatori dan pluralisme yang diusung oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, selama memimpin NU sejak Muktamar Situbondo tahun 1984.
Seperti namanya, generasi hibriditas itu lahir dari kultur ‘campuran.’ Mereka dilecut oleh semangat Islam emansipatoris ala Gus Dur, tetapi pada saat bersamaan spirit itu sekaligus menjadi jalan untuk berkenalan dengan pemikiran kontemporer Islam, juga gagasan-gagasan filsafat kontinental yang sedang menyedot banyak perhatian. Model dekonstruksi ala Jacques Derrida, arkeologi pengetahuan ala Michel Foucault, kritik gagasan ala Mazhab Frankfurt, bahkan model dekonstruksi poskolonialis seperti ditawarkan Frantz Fanon, Hommi K. Bhabha dan seterusnya. Semua pemikiran tersebut memang sedang menjadi tren saat itu.
Harus tetap dicatat, sejauh apapun mereka berkenalan dengan pemikiran modern/postmodern, para intelektual muda itu tetaplah hidup dalam kebersahajaan sebagai seorang santri, dan pada saat bersamaan mereka juga tetap saja menegaskan diri sebagai anak-anak ideologis Gus Dur. Ini adalah identitas yang kuat, dan dalam kadar tertentu telah menjadikan gerakan para intelektual muda itu sangat mempesona dan menebarkan magnet yang besar.
Titik Berangkat Saya
Di masa itu, saya termasuk anak bawang yang melihat dari kejauhan pesona dan magnet besar tersebut. Pada 1997, di saat internet masih menjadi barang mewah, sumber-sumber pengetahuan masih sangat terbatas, kemampuan beli buku juga tidak seberapa, pengaruh para intelektual muda NU itu—baik melalui tulisan mereka maupun diskusi terbuka—telah benar-benar ‘memabukan’ saya. Bagian ini saja sudah cukup untuk membulatkan mimpi saya. Kelak, saya pasti menjadi bagian dari gerakan para intelektual muda yang beken itu.
Karena saya berada di Jawa Timur, ‘padepokan’ yang segera bisa saya akses dengan cepat adalah éLSAD dan jurnal Gerbang. Dalam imajinasi saya, para pengelola jurnal Gerbang saat itu adalah prototipe intelektual yang tak tertandingi bahkan oleh intelektualisme kampusan. Di masa itu, kampus-kampus di Jawa Timur bahkan dibuat inferior karena kehadiran tokoh-tokoh muda seperti Maulidin, Anom Surya Putra, Nur Syam, Mochtar W. Utomo, Ahmad Zainul Hamdi, Fawaizul Umum, Khoirul Faizin, Maftukhin Rasmani, dan masih banyak nama lain.
Bahwa sebagian mereka adalah orang-orang kampusan, memang benar, tetapi identitas yang selalu menemel di saat mereka menguasai semua panggung diskusi adalah, identitas sebagai intelektual muda NU. Tulisan-tulisan mereka juga terdistribusi dengan baik, di lingkungan kampus maupun pesantren. Seingat saya, orang-orang telah dibuat ‘mabuk’ dengan metode kritik nalar agama model Arkounian maupun Mazhab Kritis, hanya karena dalam suatu edisi jurnal Gerbang mengangkat tema tersebut dan menyebarkan gagasan itu secara efektif.
Publikasi itu seolah-olah telah menggiring arah diskusi semua kalangan akademik—bahkan pesantren, untuk hanyut dalam langgam yang dibuat oleh éLSAD di zaman itu. Mimpi saya pun semakin membuncah. Tidak ada jalan lain yang bisa saya tuju, kecuali bergabung lebih intens dalam diskusi publik yang dibuat oleh lembaga tersebut, terutama terkait dengan tema “Marxisme dan akar gerakan buruh di Indonesia” pada tahun 2000an.
Meski saya sudah memimpikan bergabung sejak 1997, semesta juga yang memperkenankan saya baru bisa bergabung di akhir tahun 2000an. Akibat perjumpaan yang intens dengan para pengelola jurnal Gerbang, saya akhirnya diminta secara khusus oleh Maulidin, Direktur éLSAD, untuk bergabung di lembaga tersebut. Selain karena éLSAD butuh kader yang secara intelektual dianggap sudah ‘setengah jadi,’ fakta lainnya adalah, secara kelembagaan padepokan tersebut memang sedang membutuhkan tenaga baru untuk menggantikan posisi sejumlah orang yang memilih lebih aktif di kampus.
Dan, dari sinilah kisah itu dimulai. Dalam bahasa glorifikasi, ini bisa disebut kisah pengembaraan intelektual. Dalam bahasa yang lebih romantisis, faktanya, ini adalah perjalanan memanjakan hobi. Kegemaran berlama-lama diskusi, tetapi juga menenggelamkan diri dalam komunalitas. Sebagiannya, karena alasan mengais rizeki untuk bertahan hidup dengan bermodalkan intelektualitas yang ala kadarnya.
Akhol Firdaus
Direktur Institute for Javanese Islam Research (IJIR) UIN SATU Tulungagung
*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/perspektif/ar-vNCny/manhaj-santri-tepi-jurang–lahirnya-generasi-hibrida-di-nu










