Menu

Mode Gelap

Perempuan · 6 Jun 2022 15:00 WIB ·

Kegagalan Makna Jihad Radikalis: Utilisasi Kapabilitas Perempuan Sebagai Agent of War


					Kegagalan Makna Jihad Radikalis: Utilisasi Kapabilitas Perempuan Sebagai Agent of War Perbesar

Jalanhijrah.com-Beberapa bulan yang lalu, beredar video berdurasi 7 menit tentang larangan jihad yang dikemukakan langsung oleh narapidana terorisme bernama Aman Abdurrahman. Nama Aman Abdurrahman sudah tidak asing lagi bagi para pengikut kelompok Daulah di Indonesia. Selain dikenal sebagai penggagas Jama’ah Ansharut Daulah (JAD), dirinya juga memiliki karisma menggiring pengikutnya melakukan baiat kepada ISIS melalui dirinya.

Dalam video tersebut, ia melarang perempuan untuk melakukan aktivitas jihad dan “amaliyah” berupa aksi teror hingga suicide bombing. Ia mengatakan “Tidak Ada di Islam, Perempuan Jihad”. Di samping itu dirinya juga menekankan bahwasanya sesuai tuntunan hadis Nabi Muhammad SAW dalam H.R Bukhori (No. 1520), bahwasanya “jihad yang afdhol dan paling utama adalah haji mabrur”.

Cuplikan dalam hadis tersebut berbunyi:

Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »

“Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama (afdhol) adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1520).

Inilah yang dikatakan sebagai kegagalan pemaknaan jihad oleh para kelompok radikalis dan teroris. Narasi ini juga rupa-rupanya diusung oleh Aman untuk tujuan meredusir pergerakan perempuan dalam berbagai aksi teror.

Jika dilihat dari fenomenanya, satu dekade terakhir ini, kelompok radikalis bersikukuh untuk tetap melibatkan perempuan dalam berbagai aktivitas yang mereka sebut sebagai amaliyah/jihad. Contoh kasus:

  1. Pada tahun 2018, Puji Kuswati (kala itu berusia 48 tahun) seorang salah satu pelaku dari aksi terorisme bom bunuh diri di 3 Gereja yang berbeda di Surabaya yang melibatkan satu keluarga. Bersama kedua anak perempuannya; Fadhila Sari (12) dan Famela Rizqita (8), Ia meledakkan diri didepan halaman Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro, Surabaya, Jawa Timur, Minggu 13 Mei 2018. Diketahui dari keterangan dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Suami dari Puji Kuswati yang bernama R Dita Oepriarto (47) adalah Ketua JAD (jaringan Ansarut Daulah) Surabaya.
  2. Selang sehari setelah kasus teror Puji sekeluarga, Tri Ernawati (43) juga terlibat dalam kasus terorisme bom bunuh diri bersama satu anggota keluarganya dengan menggunakan dua sepeda motor. Ia melakukan aksi teror serupa yang menyasar Polrestabes Surabaya pada 14 Mei 2018 bersama Tri Murtiono (50), suaminya dan kedua putranya bernama Muhammad Dafa Amin Murdana dan Muhammad D. Satria. Mereka (kecuali anak perempuan balitanya) tewas seketika setelah meledakkan diri di gerbang masuk Polrestabes Surabaya.
  3. Pada 13 Maret 2019, Solimah (istri abu hamzah) teroris asal sibolga meledakkan diri dengan anaknya menggunakan bom rakitan miliknya. Solimah sendiri telah meledakkan diri bersama bayinya berusia 2 tahun berinisial H di di Jalan Cendrawasih Kota Sibolga Sumatera Utara, Rabu 13 Maret 2019 dini hari ketika Abu Hamzah ditangkap. Solimah, istri Abu Hamzah, teroris Sibolga, memutuskan untuk melakukan aksi bunuh diri dengan menggunakan bom, setelah 16 jam dikepung petugas dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror dan kepolisian setempat.
  4. Pada 28 Maret 2021, Yogi Shafitri Fortuna yang disinyalir merupakan anggota kelompok JAD Sulsel yang terafiliasi dengan ISIS, juga terlibat melakukan aksi bom bunuh diri bersama suaminya M Lukman HS di gerbang Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan,
Baca Juga  Seperti ACT: Yayasan Insantama HTI, Kapan Mau Dicabut Izinnya?

Dan masih banyak lain lagi para perempuan radikalis yang juga terafiliasi jaringan JAD termasuk Ika Puspitasari dan Dewi Anggraini yang sukarela mendedikasikan dirinya untuk terlibat langsung dalam propaganda aksi terorisme. Fakta-fakta tersebut menunjukkan signifikansi utilisasi kapabilitas perempuan dalam keikutsertaannya terlibat dalam aksi terorisme.

Kathleen Turner dalam Jurnalnya yang berjudul “The Rise of Female Suicide Bombers” terbitan Maret 2016, memprediksi adanya peningkatan visibilitas perempuan sebagai agent of war oleh kelompok teror dalam serangan bom bunuh diri di beberapa tahun terakhir ini.

Pemanfaatan kombatan perempuan oleh kelompok-kelompok untuk melakukan penyerangan terhadap aparat keamanan dan penduduk lokal menjadi tren yang kian massif berkembang. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yoram Schweitzer, antara tahun 1985 dan 2006, pembom perempuan melakukan lebih dari 220 serangan bunuh diri.

Jumlah ini mewakili hampir lima belas persen dari jumlah keseluruhan pelaku bom bunuh diri yang sebenarnya (Anne 2008). Studi Schweitzer mengidentifikasi lokasi utama di mana serangan bom bunuh diri perempuan telah terjadi dibeberapa negara termasuk Sri Lanka, wilayah Israel dan Palestina, Rusia dan Chechnya, serta Turki (Schweitzer 2006).

Pertanyaannya sekarang, apa alasan dasar para kelompok radikalis teorisme dunia termasuk yang berada di Indonesia menggunakan perempuan sebagai agent of war atau suicide attackers?

Menurut Turner hasil rangkuman pendapat para scholars (2016), ada 2 alasan yang mendasarinya: Taktis dan Strategis. Pada alasan taktis, kelompok teror ini memiliki keuntungan taktis dan menghasilkan peningkatan kuantitas operatif aksi teror. Sedangkan berdasarkan alasan strategis mampu meningkatkan perhatian media dan efek psikologis (Zedalis 2004).

Baca Juga  Habib Rizieq Shihab, Perang Terminologi, dan Strategi Terorisme di Indonesia

Ini mengindikasikan bahwa visibilitas perempuan dalam aksi terorisme meningkat demi tujuan politik para radikalis dunia. Mereka dengan sengaja mempropagandakan kumulatif aksi teror atas kapabilitas perempuan melalui publikasi media gratis sebagai alat untuk menokok sisi psikologis keinginan para “mujahid” pria agar terdorong berungkal melakukan aksi teror lebih massif lagi.

Disamping itu, Perempuan radikalis ini pintar mengelabui aparat penegak hukum dengan berbagai cara. Contohnya saat puji kuswati mengajak 2 (dua) putrinya melakukan aksi bom bunuh diri, dirinya menyembunyikan bom rakitan tersebut didalam bajunya layaknya “fake pregnancy”.

Aksi Zakiah Aini saat menyerang Mabes Polri Jakarta Selatan pada 31 Maret 2021 menunjukkan dirinya menggunakan kapabilitas “stealthier in attacking” untuk melancarkan aksi teror. Kedua contoh ini benar-benar telah membuat masyarakat dunia tertipu dengan perangai perempuan yang ternyata semakin hari semakin kuat meradikalisasi diri dan membekali diri menjadi agent of war.

Komisioner Komnas Perempuan Riri Khariroh pun mengatakan perempuan dianggap sebagai sosok yang lemah lembut sehingga tidak dicurigai oleh pihak yang berwajib. Ia menuturkan “Jadi adanya denial itu, kemudian hal itu tidak terantisipasi sama sekali dan ketidaksadaran, ketidakpedulian ini seharusnya sudah mulai dikurangi, jadi bahwa laki-laki dan perempuan sama punya potensi untuk menjadi teroris”.

Fakta inilah yang berpotensi memberikan alasan taktis kepada kelompok teroris bahwa perempuan ini dianggap memiliki kemampuan “stealthier in attacking”. Kemampuan ini mengindikasikan perempuan cenderung bisa melakukan aksi tanpa memunculkan kecurigaan. Hal ini sejalan dengan narasi Bloom (2011) bahwa “penggunaan tersangka yang paling tidak mungkin adalah yang paling mungkin digunakan sebagai strategi tactical adaptationuntuk teroris bawah tanah”.

Dapat saya katakan juga bahwa telah terjadi pergeseran peran, di mana sebelumnya perempuan hanya bersifat supportif yaitu mendukung suaminya yang teroris, kini dapat berperan secara aktif. Dan kebanyakan organisasi teror kini terus menerus melibatkan perempuan diprediksi akibat penurunan jumlah drastis kombatan laki-laki yang sudah tertangkap oleh aparat keamanan serta pengikut ISIS laki-laki sudah banyak yang tewas.

Walhasil, mereka menjadikan perempuan sebagai target sekaligus shamming atau tindakan mempermalukan laki-laki yang tidak punya keberanian untuk melakukan aksi bom bunuh diri misalnya. Tidak jarang juga, aparat penegak hukum mendapati beberapa ummahat melakukan pelatihan militer, belajar memanah, hingga memberikan kajian internal kepada generasi mereka berusia remaja terkait pentingnya memperjuangkan syariat islam.

Baca Juga  Kajian Nasionalisme Bangsa: Merawat Wawasan Kebangsaan Melalui Spirit Sejarah

Sejak pelibatan-pelibatan perempuan ini, Perempuan memiliki peran signifikannya dalam menjaga eksistensi propaganda pendirian negara bersyariat Islam. Banyak penelitian dunia telah membuktikan bahwa utilisasi perempuan dalam serangan bom bunuh diri telah terbukti secara taktis menguntungkan kelompok radikal kanan dunia. Maka tidak heran, bahwa kelompok radikal kanan ini akan terus merekrut dan men deploy female suicide bombers.

Latar belakang inilah yang memunculkan keprihatinan nasional bahwa Indonesia rawan pencegahan terhadap perempuan dan ada potensi Indonesia “memanen” perempuan untuk terlibat aktif dalam aksi teror yang lebih dakar lagi dikemudian hari. Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 2018, Pasal 43A Penerintah wajib melakukan pencegahan Tindak Pidana Terorisme yang dilaksanakan melalui kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisasi, dan deradikalisasi.

Untuk itu, pemerintah perlu terus melakukan pencegahan serta penanganan yang berbeda dan mengategorikannya kedalam: (1) masyarakat yang tidak terpapar, (2) yang rentan dan (3) sudah terpapar. Kemudian, pendekatan berbasis motivasi dan pendampingan perdamaian perempuan dan mengarahkan kembali para perempuan sebagai agent of peacekeepers instead of menjadi agent of war.

Pemerintah juga perlu terus didorong dalam memelihara perdamaian yang inklusif dan memberikan perspektif yang beragam serta spektrum yang meluas guna mengarahkan pemahaman perdamaian ke lingkungan global yang lebih stable.

Pendekatan “The 3’s H: Hearts, Hands, Head” yang banyak digunakan oleh para praktisi dunia banyak menghasilkan output yang aplikatif dan berdampak. sehingga kita juga perlu mendorong pemerintah serta pemangku kepentingan terkait dapat mengimplementasikan pendekatan ini dalam rangka mengeliminasi radikalisasi perempuan.

Dengan begitu, saat pendekatan dilakukan melalui affective (heart) terlebih dahulu dengan cara pendekatan personal dan dialog, kemudian dilanjutkan dengan pendekatan practical (hands), segala yang bisa diupayakan dan didorong agar target dapat merasa terbantu dan terfasilitasi, ditegaskan juga dengan pendekatan cognitive (head), dimana ideologi selalu berada dalam pikiran target.

Selain itu, berbagai pendekatan perlu terus diupayakan agar Indonesia khususnya perempuan sebagai madrasah pertama untuk keturunannya jauh dari kata radikal dan intoleran.

Penulis: Siska A., M.Han Pengamat dan Analis Kajian Gender dan Kontra Radikalisme Terorisme

Artikel ini telah dibaca 37 kali

Baca Lainnya

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

8 Februari 2023 - 12:00 WIB

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur
Trending di Perempuan