Menu

Mode Gelap

Perempuan · 13 Jun 2022 09:00 WIB ·

Gender dalam Fashion Perempuan


					Gender dalam Fashion Perempuan Perbesar

“Cobalah pakai baju yang lebih feminin, agar lebih kelihatan perempuan!”
“Kamu kok suka pakai baju laki-laki terus, sih!”

Jalanhijrah.com– Setiap orang memiliki otoritas penuh terhadap tubuhnya. Mereka bebas untuk mengekspresikan apa yang mereka miliki sesuai kehendak tanpa harus takut akan dihina, dicaci, atau digunjing. Sayangnya pernyataan ini belum penuh bisa diterapkan di Indonesia.

Negara kita yang selalu dipuja kekayaan alam dan budayanya, namun dari dalam tanah tumbuh akar patriarki yang begitu kuat hingga mampu menancap ke setiap jiwa penghuninya.Tidak hanya pada sistem peran perempuan dan laki-laki yang seringkali disalahgunakan.

Kenyataannya, pada tubuh masing-masing kita juga diperbudak oleh aturan-aturan yang begitu mengikat. Salah satu contoh yang paling terlihat di sekitar kita adalah budaya fashion yang tak henti-hentinya direproduksi.

Kita tidak sedang bicara perihal fashion yang semakin kesini rasanya selalu kembali ke masa-masa dulu, dengan bahan yang lebih bagus, dengan motif-motif yang makin beraneka, serta warna-warnanya yang makin detail dan beragam. Kita sedang mencoba membicarakan bagaimana fashion bisa mengikat tubuh kita begitu erat. Entah dari model pakaian, alas kaki, tas, hingga pernak-pernik yang digunakan pada tubuh.

Mungkin kita bisa memulainya dengan pakaian yang biasa melekat pada perempuan. Pakaian yang dikenakan perempuan, bahkan sejak bayi, lebih kepada motif-motif bunga, kartun-kartun perempuan, barbie, hingga binatang-binatang yang terkesan lucu dan imut. Warnanya pun biasa lebih cerah.

Baca Juga  Optimalisasi Peran Perempuan dalam Menangkal “Family Terrorism”

Kombinasi pada pakaian juga terdapat pita-pita, tempelan bunga, serta renda. Tanpa orang melihat bagaimana alat kelaminnya, mereka sudah tahu dari pakaian yang digunakan bahwa bayi itu adalah perempuan. Semakin besar, perempuan dikenalkan dengan model pakaian yang (katanya) sesuai dan cocok bagi mereka.

Jika diketahui mereka menggunakan pakaian polos atau kemeja unisex, akan banyak yang menganggapnya sebagai seorang “tomboy” atau kelaki-lakian.

Tidak hanya masalah pakaian, perempuan sedari kecil, khususnya pada budaya orang Indonesia sendiri, biasa dipakaikan anting-anting di kedua telinganya. Telinga mereka yang sebelumnya tidak ada lubang sama sekali dilukai hingga berdarah, lalu dimasukkan benda asing yang tidak semua orang bisa hidup dengan ini.

Namun dari anting-anting lah akhirnya mereka juga dikenali sebagai perempuan. Andaikan anak sedari bayi tidak dikenakan anting-anting, pastilah kehidupan kekeluargaan dan kebertetanggaan akan meledak kesana kemari membawa berita yang tak enak di hati. Entah kicauan karena tidak punya uang untuk membelikan anak anting, tidak peduli dengan anak, atau bahkan menyalahi budaya yang ada pada masyarakat setempat.

Selain itu hal yang paling sederhana dan jarang sekali untuk dipermasalahkan adalah alas kaki. Mungkin kita sendiri terkesan tidak pernah mempermasalahkan alas kaki apa yang akan dipakai. Tentunya karena kita telah dibentuk untuk menggunakan alas kaki yang (katanya) cocok bagi perempuan. Ketika masuk ke dalam toko sepatu atau sandal, kebanyakan benda ini sudah dipisahkan antara milik laki-laki dan perempuan. Lantas apa bedanya?

Baca Juga  Mengadopsi Gaya Radikalisme untuk Memberantas Radikalisme Itu Sendiri

Alas kaki perempuan biasa dibuat lebih ramping disesuaikan dengan bentuk kaki yang (biasanya) terkesan kecil, memiliki variasi warna yang beragam, memiliki model yang begitu mewah, dan ketinggiannya bisa sampai 5-7 cm (misalnya highheels).

Hal ini berbeda dengan alas kaki laki-laki yang lebih simpel, warna tidak mencolok, bentuk dan ukuran lebih besar. Tentu saja ciri-ciri yang baru saja disebutkan adalah sebuah konstruksi yang membuat benda milik laki-laki dan perempuan berbeda.

Kita memang seringkali tidak mempermasalahkan apa yang dipakaikan pada tubuh kita, karena mindset telah terbentuk bagaimana pakaian perempuan dan laki-laki yang seharusnya, bagaimana aksesori yang digunakan oleh perempuan dan laki-laki selayaknya.

Tapi bukankah selain apa yang telah melekat pada tubuh tidak ada lagi yang perlu diperbedakan antara laki-laki dan perempuan? Harusnya hal ini memang tidak lagi diperdebatkan. Mau perempuan menggunakan baju yang bagaimana, dan laki-laki memakai pakaian yang bagaimana, hak mereka adalah milik pribadi masing-masing.

Pikiran kebanyakan orang tentang pengkotak-kotakan pakaian bisa jadi akan terus direproduksi selama tidak ada gebrakan bahwa apapun bisa digunakan oleh siapapun. Jika belum mampu memberikan informasi bahwa tak ada yang namanya perempuan harus memakai ini itu, setidaknya konstruksi bisa didobrak dengan bagaimana kita bisa menggunakan apa yang menurut kita nyaman.

Walau bertahun-tahun tubuh kita telah diatur sedemikian rupa oleh sistem, bukankah kini waktunya untuk merampas kembali hak-hak milik tubuh kita dari aturan yang mengikat?

Baca Juga  Bagaimana Kemerdekaan Perempuan Ditangan Taliban?

Penulis: Firda Rodliyah Anggota Puan Menulis

Artikel ini telah dibaca 22 kali

Baca Lainnya

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

8 Februari 2023 - 12:00 WIB

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur
Trending di Perempuan