Menu

Mode Gelap

Perempuan · 14 Nov 2021 12:00 WIB ·

Jadi Perempuan Berdaya Harus Melek Politik


					Jadi Perempuan Berdaya Harus Melek Politik Perbesar

Jalanhijrah.com-Rendahnya partisipasi perempuan dalam politik di wilayah publik merupakan bukti belum meratanya pendidikan politik di masyarakat. Tentunya dampak yang ditimbulkan pun cukup kompleks, salah satunya adalah lahirnya kebijakan-kebijakan yang tidak ramah bahkan tidak adil untuk perempuan.

Selain itu, dampak lainnya adalah minimnya pemimpin perempuan yang menduduki jabatan di pemerintahan akibat masih banyak masyarakat termasuk perempuan yang tidak percaya pada kemampuan perempuan lain yang memiliki semangat dan kemampuan dalam mengisi jabatan tersebut dan berasumsi bahwa hanya laki-laki yang pantas berpolitik serta menjadi pemimpin.

Padahal dari pengertiannya sendiri politik tidak menyatakan sebagai suatu strategi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh laki-laki. Menurut Sinta Wahid, perempuan harus ikut terjun dalam politik, selain itu menurut Najwa Shihab saat mengisi acara di Binus mengatakan jika anak muda termasuk perempuan tidak mau ikut berpolitik itu artinya kita sudah kalah berkali-kali. Ketika kita melepaskan tanggung jawab kita dan ketika kita melepaskan apa yang seharusnya bisa kita lakukan sehingga akhirnya diambil alih oleh seseorang yang mengatakan demi bangsa dan Negara.

Politik merupakan suatu strategi atau upaya dalam mendapatkan kekuasaan, tidak ada yang salah dengan politik. Namun yang menjadi persoalannya adalah digunakan untuk apa kekuasaan tersebut? Apakah digunakan untuk membela dan mensejahterakan masyarakat miskin? Apakah digunakan untuk memberikan keadilan pada kelompok-kelompok minoritas yang terpinggirkan? Apakah digunakan untuk membuat kebijakan-kebijakan yang memberikan keadilan dan perlindungan bagi buruh dan perempuan? Ataukah hanya digunakan untuk memperkaya diri, keluarga dan sanak saudara?

Baca Juga  Ketika Mata Laki-Laki Bernama Imam Syafi’i Membaca Perempuan

Berbicara politik memang terasa begitu menyebalkan namun meskipun demikian politik adalah urusan kita bersama baik laki-laki maupun perempuan. Jika perempuan tidak ikut berpolitik maka akan semakin banyak kebijakan-kebijakan yang tidak ramah bagi kelompok minoritas termasuk perempuan.

Selain itu anggapan bahwa perempuan tidak layak berpolitik dan menjadi pemimpin (budaya patriarki) akan tetap tumbuh subur, bukankah hal ini akan mempengaruhi keberlangsungan generasi perempuan selanjutnya. Seperti yang kita rasakan saat ini akibat dari minimnya partisipasi perempuan dalam politik adalah masih menggantungnya pengesahan RUU Pungkas (Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual) yang kini diganti menjadi RUU TPKS.

Pelecehan dan kekerasan seksual masih dinormalisasikan, tidak ada jaminan keamanan perempuan, belum tegasnya sanksi kuota 30% untuk keterwakilan perempuan, banyaknya kebijakan-kebijakan yang merugikan perempuan, terbatasnya ruang gerak perempuan, kemiskinan semakin meningkat, keseimbangan alam tidak terkendalikan itu semua salah satu bagian dari minimnya partisipasi politik perempuan sehingga suara perempuan kurang didengar.

Lantas apa manfaatnya pendidikan politik untuk perempuan? Pertama, dengan pendidikan politik maka akan membantu meningkatkan partisipasi perempuan dalam ranah politik karena menjadi lebih paham terkait manfaat dan pentingnya politik sehingga perempuan berpolitik tidak lagi dianggap sebagai suatu hal yang tabu malah menjadi suatu hal yang dianggap penting.

Partisipasi tersebut bisa dilihat dalam sistem demokrasi salah satunya dalam momentum pilkada baik menjadi penyelenggara atau pun menjadi caleg. Dengan pendidikan politik tersebut perempuan akan lebih percaya diri akan kemampuannya dan menghargai kemampuan perempuan lain. Kedua, pendidikan politik akan membantu masyarakat termasuk perempuan bahwa demokrasi dalam pemilu bukan hanya berbicara mengenai hak dan kewajiban, namun juga tanggung jawab sehingga hal ini akan membantu mengikis hambatan dalam demokrasi salah satunya fenomena golput dan pemilihan kolektif.

Baca Juga  Mind Your Food!! Ketika Makanan dan Sampah Jadi Sebab Krisis Ekologi

Ketiga, dengan pendidikan politik maka akan membantu menciptakan kebijakan-kebijakan yang ramah dan adil untuk perempuan, sehingga segala sesuatu yang dirasa tidak adil dan merugikan perempuan akan lebih mudah disuarakan kemudian ditindaklanjuti lebih cepat. Misalnya dalam kasus KDRT, Perkawinan anak, perdagangan anak, pelecehan seksual bahkan kekerasan seksual.

Keempat, dengan pendidikan politik juga membantu mengatasi lonjakan pelanggaran terkait politik uang, salah satunya saat momentum pilkada. Sehingga masyarakat termasuk perempuan akan lebih paham bahwa politik uang adalah salah satu pelanggaran yang mana baik yang memberi maupun yang menerima akan dikenai sanksi yang tentunya tidak ringan.

Kelima, pendidikan politik juga membantu mengikis budaya korupsi di masyarakat seperti pungli pembuatan surat menyurat KTP, KK, Akta dan lain sebagainya. Dengan pendidikan politik juga menjadikan perempuan lebih kritis terhadap persoalan-persoalan yang terjadi seperti adanya bantuan namun tidak sesuai dengan yang tertulis (aturan pemerintah) maka mereka tidak akan merasa ragu dan takut untuk melaporkan.

Dengan banyak manfaat akan pentingnya pendidikan politik bagi perempuan maka perlu adanya kolaborasi yang tepat antara pemerintah dan perempuan dalam menyelenggarakan pendidikan politik sampai pada lapisan terbawah. Sehingga setiap lapisan masyarakat akan merasakan manfaat dari pendidikan ini. Yuk jangan mau jadi perempuan diperdaya jadilah perempuan yang berdaya.

Siti Rohmah https://alif.id/read/siroh/jadi-perempuan-berdaya-harus-melek-politik-b240727p/

Artikel ini telah dibaca 10 kali

Baca Lainnya

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

8 Februari 2023 - 12:00 WIB

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur
Trending di Perempuan