Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 26 Jun 2022 15:00 WIB ·

Inilah Hukum Mengikir dan Merenggangkan Gigi


					Inilah Hukum Mengikir dan Merenggangkan Gigi Perbesar

Jalanhijrah.com-Salah satu perbuatan yang sering digunakan oleh manusia adalah mengikir dan merenggangkan gigi. Hal ini dilakukan orang untuk meratakan gigi atau memotong gigi yang terlalu panjang agar penampilan terlihat lebih apik. Lantas, bagaimanakah hukum mengikir dan merenggangkan gigi dalam islam?

Mengikir gigi dalam bahasa arab menggunakan istilah al-wasyru. Al-wasyru sendiri definisinya secara bahasa adalah penggergajian. Sementara menurut syara’ al-wasyru memiliki arti mempertajam dan menghaluskan ujung-ujung gigi .

Terkait hukum mengikir gigi, para ulama sepakat bahwa hukumnya adalah haram jika hal tersebut dilakukan dalam rangka sekedar untuk memperbagus atau mempercantik diri (lilhusni).

hal ini berdasarkan hadis riwayat muslim  :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ

Artinya : “Allah melaknat wanita  pembuat tato dan  yang bertato, wanita yang dicukur alis, dan  dikikir giginya, dengan tujuan mempercantik diri mereka merubah ciptaan Allah Ta’ala”. (HR. Muslim)

Dalam redaksi hadis di atas, teks ‘lilhusni’ (mempercantik atau memperbagus diri) menggunakan lafal ‘lam’ yang berarti itu adalah illat (alasan) dibuatkannya hukum.

Mengingat alasan keharaman mengikir gigi tersebut adalah karena mempercantik atau memperbagus diri maka keharaman itu tidak mutlak. Oleh karena, itu jika mengikir gigi dilakukan dalam rangka pengobatan (penyembuhan), menghilangkan aib (kecacatan) pada gigi atau semisalnya, maka hal tersebut boleh dilakukan dalam artian tidak haram.

Baca Juga  Belum Mampu Pergi Haji, Berikut Ibadah Yang Pahalanya Setara Dengan Haj

Selain mengikir gigi terkadang seseorang juga merenggangkan gigi. Merenggangkan gigi dalam bahasa arab disebut at-tafliij. Merenggangkan gigi (at-tafliij) biasanya dilakukan terhadap gigi yang berada di urutan antara dua dan empat. Namun ada juga ulama yang bilang bahwa at-tafliij dilakukan hanya pada gigi yang berada di urutan dua dan empat. Seringkali perempuan merenggangkan gigi-giginya yang saling bertumpuk atau terlalu menempel kepada gigi yang lain sehingga menjadikan giginya lebih renggang dan rapi . Mengenai hukum merenggangkan gigi, itu sama dengan mengikirnya. Hal ini dikarenakan redaksi keduanya satu, namun para ulama terkadang menggunakan untuk arti mengikir gigi, kadang juga untuk merenggangkan gigi.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian