Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 3 Apr 2022 12:00 WIB ·

Imsak, Ini Dalilnya dalam Al-Quran dan Hadist


					Imsak, Ini Dalilnya dalam Al-Quran dan Hadist Perbesar

Jalanhijrah.com-Berbicara tentang imsak, kita tidak akan menemukannya sebagai ketentuan puasa dalam berbagai literatur fikih. Imsak yang di Indonesia dikenal sebagai saat dimulainya tidak melakukan hal-hal yg membatalkan puasa, mulai makan, minum dan lain-lain, merupakan tradisi baik yang diwariskan oleh para ulama Nusantara. Tujuan utama dari imsak adalah untuk pengingat akan datangnya waktu subuh yang sudah dekat. Sehingga adanya imsak sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjalankan ibadah puasa agar tidak melakukan sesuatu yang membatalkan saat subuh tiba.

Ketentuan puasa yang menjadi rujukan utama dalam memulai puasa adalah QS al-Baqarah [2]: 187, Makan dan minumlah kalian hingga jelas bagi kalian perbedaan benang putih dari benang hitam yakni fajar. Maklum kiranya jika masuk waktu subuh ditandai dengan terbitnya fajar. Sementara fajar sendiri adalah sesuatu yang samar dan sulit ditangkap oleh penglihatan biasa. Sebab fajar itu ada dua; palsu dan asli. Fajar palsu (kâdzib) masih boleh makan dan tidak boleh shalat subuh. Fajar asli (shâdiq) sudah tidak boleh makan dan boleh shalat subuh (HR. Ahmad & al-Hakim dari Abdullah bin Abbas). Oleh karenanya mengakhiri makan minum hingga benar-benar sebelum masuk waktu subuh adalah sesuatu yang tidak mudah. Dibutuhkan jeda waktu untuk persiapan. Umumnya waktu imsak di negara kita selisih 10 hingga 15 menit dari waktu subuh. Jadwal shalat dan imsakiyah yang ditulis oleh Lajnah Falakiyah (lembaga falak & hisab) biasanya ditentukan tiga hingga empat menit lebih lambat dari hitungan sebenarnya untuk memastikan benar-benar sudah masuk waktu semua shalat. Jadi sangat riskan sekali mengakhiri makan minum dengan patokan adzan subuh dari seorang muadzin. Sekali lagi butuh jeda waktu persiapan untuk kehati-hatian ibadah puasa kita. Sehingga Imsak menjadi pilihan tepat. Demikian dalil aqlî (rasio) dari imsak.

Baca Juga  Musim Haji Tiba, Ini Doa Untuk Melepas Calon Jamaah Haji

Sedangkan dalil naqlî (al-Quran dan hadis) dari imsak bisa kita telaah kembali QS al-Baqarah [2]: 187:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

Makan dan minumlah kalian hingga jelas bagi kalian perbedaan benang putih dari benang hitam yakni fajar. Lalu sempurnakanlah puasa hingga malam. Jangan kalian berhubungan dengan isteri-isteri kalian sementara kalian sedang I’tikaf di masjid-masjid. Itu semua batasan-batasan (yang telah ditentukan oleh) Allah. Janganlah kalian mendekatinya.

Setelah menjelaskan waktu awal dan akhir puasa, Allah swt mengakhiri keterangan itu dengan larangan untuk mendekati ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Sehingga larangan itu mencakup makan minum yang mendekati waktu fajar (subuh).  Sedangkan secara tuntunan nabawi, imsak itu sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi saw meskipun tidak di-‘resmikan’ dengan nama khusus. Al-Bukhari, Muslim, al-Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad meriwayatkan melalui jalur Anas bin Malik dari Zaid bin Tsabit:  

عن زيد بن ثابت رضي الله عنه قال  : تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسُّحُوْرِ ؟  قَالَ قَدْرُ خَمْسِيْنَ آيَةً

Sahabat Zaid bin Tsabit ra meriwayatkan, “dahulu kami bersahur bersama Nabi saw kemudian beberapa saat beliau shalat subuh”.

Baca Juga  Musibah Gunung Semeru Selalu Dihubungkan dengan Derita Kelompok Radikal, Kok Bisa Ya?

Anas bin Malik bertanya, “berapa jeda waktu antara adzan dengan sahur?

Kira-kira rentang waktu membaca 50 ayat”, jawab Zaid bin Tsabit.

Jeda waktu kira-kira bacaan 50 ayat antara santap sahur dengan adzan menjadi bukti terang mengenai adanya pemisahan jarak dari awal waktu puasa yakni waktu subuh.  Sementara pemilihan kata imsak sebagai istilah waktu awal puasa merupakan pilihan tepat. Imsak berarti menahan. Sebagaimana arti puasa (shiyâm) dari segi bahasa. Wallahu Aʻlam [Ali Fitriana]

Artikel ini telah dibaca 18 kali

Baca Lainnya

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

5 Alasan Jangan Menyisakan Makanan Meski Hanya Sebutir Nasi

26 Juli 2022 - 14:00 WIB

5 Alasan Jangan Menyisakan Makanan Meski Hanya Sebutir Nasi
Trending di Fikih Harian